Keterhubungan Kesehatan dan Gizi bagi Pertumbuhan Sosio Intelektual Anak (part 1)


Menurut Syamsu Yusuf (2002) perkembangan social merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan social. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma kelompok, moral dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerjasama. Syamsu Yusuf menambahkan bahwa anak lahir belum bersifat sosial, kemampuan sosialaisasi di dapat dari berbagai pengalaman berinteraksi dengan orang lain di lingkungannya. Meskipun menurut Odden (2003) bayi yang baru lahir aktif dan responsive terhadap interaksi social dan fisik misalnya dengan cara meniru gerakan wajah orang dewasa. Dan untuk berkomunikasi bayi, akan menangis dan mengeluarkan suara-suara untuk memenuhi kebutuhannya ketika dia merasa tidak nyaman.

Sosio intelegensi anak dibentuk sejak lahir, karena itu sangat penting berinteraksi dengan bayi, misalnya dengan mengajak bicara, menatap, menyentuh dan memeluk anak. Ketika bayi berkontak sosial dan berinteraksi maka perkembangan fisiknya akan baik. Bayi yang jarang interaksi dengan manusia, pertumbuhannya akan terhambat misalnya, berat badan menurun, acuh, lesu, menarik diri. Proses interaksi social yang terus terjadi selama perkembangan bayi akan menjadi dasar pijakan bagi perkemangan bahasa dan kognitif (Brunner, 1978).

Pijakan lain yang tidak kalah pentingnya adalah perkembangan otak yang baik. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh kesehatan dan gizi yang dikonsumsi anak. Zat makanan yang paling penting untuk perkembangan otak adalah protein. Protein anak membantu pertumbuhann sel-sel neuron yang akan menangkap berbagai stimulasi di lingkungan sekitarnya.

Selanjutnya, setelah pijakan perkembangan social dibentuk ketika bayi, proses selanjutnya adalah mengembangkannya. Perkembangan social anak dikembangkan dengan cara sosialisasi, yaitu proses belajar yang membimbing anak kearah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif (Ambron, 1981).

Sosialisasi dan Perkembangan Anak

Kegiatan Orang Tua

Pencapaian Perkembangan

Prilaku Anak

Memberikan makanan dan memelihara kesehatan fisik anak

Mengembangkan sikap percaya terhadap orang lain (developmental trust)

Melatih dan menyalurkan kebutuhan fisiologis: toilet training

Mampu mengendalikan dorongan biologis dan belajar untuk menyalurkannya pada tempat yang diterima masyarakat.

Mengajar dan melatih keterampilan berbahasa, persepsi, fisik, merawat diri dan keamanan diri

Belajar mengenal objek-objek, bahasa, berjalan, mengatasi hambatan, berpakaian, dan makan

Diadaptasi dari Syamsu Yusuf (2002)

bersambung…

[Endah, parentingislami.wordpress.com]

About these ads

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.