Mengelola Kelas PAUD yang Sehat (part 2)


2. Istirahat

Anak yang sehat seperti mesin yang terus bergerak. Sulit untuk menyuruh mereka beristirahat. Karena itu, perlu disusun program belajar yang seimbang antara aktivitas aktif dan pasif. Pendidik perlu memastikan bahwa waktu istirahat masuk dalam program harian. Bukan berarti bahwa pendidik mengharuskan setiap anak duduk selama 15 menit setiap jam 10 pagi meskipun anak tidak butuh istirahat. Tapi, waktu istirahat harus menjadi natural, disesuaikan dengan olah raga. Jika tidak ada kegiatan yang melelahkan, tidak perlu ada waktu istirahat. Meskipun pendidik telah memasukan dalam jadwal, karena pendidik akan menghabiskan waktu untuk membuat mereka menghentikan aktivitas dan beristirahat. Tapi jika anak benar-benar lelah, mereka akan beristirahat dengan sendirinya.

Anak dengan keterbatasan fisik atau cacat bisa cepat lelah dari pada yang lainnya. Pembimbing harus mengenali situasi ini, sediakan tempat yang tenang untuk mereka, dan pastikan mereka beristirahat ketika mereka membutuhkannya. Beberapa program memiliki waktu istirahat sebelum waktu makan siang ketika anak berhenti belajar dan bermain dengan sendirinya karena kelelahan. Istirahat merupakan saat refreshing bagi anak yang telah beraktivitas penuh sepanjang pagi.

Jika program sekolah full-day, maka harus ada waktu tidur siang. Gunakan tempat tidur atau karpet di ruangan yang cukup luas. Jika pendidik menggunakan ruang kelas PAUD, sisakan ruangan untuk anak yang tidak tidur lagi dan matikan ruangan. Jika anak sudah tidur, pendidik dapat mengijinkan anak lain yang tidak tidur untuk tetap main tetapi tidak rebut.

Dalam menyusun waktu istirahat, pendidik dapat memasukan jadwal membaca cerita pada saat istirahat di mulai. Misalnya cerita Goodnight Moon (Brown 1947) yang menceritakan Bunny yang berusaha untuk tidur setelah ruangan menjadi gelap. Close Your Eyes (Marzolla, 1978) yang menceritakan seorang ayah yang berusaha menidurkan putri kecilnya dengan menyuruhnya membayangkan sesuatu ketika memejamkan mata.

3. Mencuci Tangan

Mencuci tangan adalah cara yang paling efektif mencegah tersebarnya penyakit dari pada cara lainnya. Anak harus belajar mencuci tangan sebelum makan, dari kamar kecil dan setelah menyentuh binatang. Memang anak akan melakukannya jika pendidik menyuruh dan menjadikannya tugas, tapi alangkah baiknya jika pendidik pun menjadi teladan dengan melakukannya juga. Mereka harus melihat pendidik melakukannya. Demonstrasikan dengan menggunakan sabun bagaimana mencuci tangan bagian atas dan belakangya, antara jari dan kuku jari. Kemudian bilas, keringkan dengan tisu dan buang tisunya ke tempat sampah. Pastikan pendidik mencuci tangan ketika tiba di sekolah, ketika mempersiapkan makanan, sebelum makan, setelah menolong anak ke toilet, dan terutama setelah membersihkan hidung anak. Semua staf kelas PAUD harus melakukan hal yang sama juga untuk mencegah tersebarnya kuman.

4. Makanan

Kurang gizi pada usia dini dapat mengganggu pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan kecerdasan anak. Gizi merupakan dasar dari kesehatan dan perkembangan anak. Gizi yang baik mengindikasikan system kekebalan tubuh anak akan baik. Kualitas hidup individu salah satu indikatornya adalah mendapatkan asupan gizi yang baik.

Nutrition is an input to and foundation for health and development. Interaction of infection and malnutrition is well-documented. Better nutrition means stronger immune systems, less illness and better health. Healthy children learn better. Healthy people are stronger, are more productive and more able to create opportunities to gradually break the cycles of both poverty and hunger in a sustainable way. Better nutrition is a prime entry point to ending poverty and a milestone to achieving better quality of life. (WHO)

Anak harus difahamkan dengan makanan yang sehat sejak dini. Mereka belajar bukan karena mendengar kata-kata kita, tapi dengan mengamati langsung makanan yang disediakan di kelas PAUD. Jika anda ingin anak menyukai buah-buahan dan sayuran, rencanakanlah kegiatan yang menyenangkan tentang buah dan sayur. Bicara pada orang tua untuk membawa buah dan sayur dari pada kue pada saat ulang tahun atau ketika mempersiapkan bekal untuk anak.

Misalnya dengan membawa “Banana Surprice” atau “Frozen Fruit Slush” untuk perayaan ulang tahun. Anak-anak akan sangat senang dengan mempersiapkan dan memakannya. Ketika mempersiapkan makanan, anak-anak akan belajar menekan, memotong, menabur dan menggulung.

Decker & Decker (1988) menyatakan bahwa seorang guru dituntut untuk bisa mengemas waktu makan sebagai hal yang menyenangkan. Cara yang bisa dilakukan guru dalam hal ini adalah sebagai berikut:

o Sajikan makanan dalam jumlah kecil karena makanan dengan porsi yang besar akan membuat anak kekenyangan.

o Ketika memperkenalkan makanan baru, sajikan dalam porsi kecil

o Tidak menyajikan makanan yang sama dalam waktu yang berdekatan karena nak suka makanan yang bervariasi.

o Memahami latar belakang budaya anak dan menyesuakan makanan yang disajikan

o Perhatikan jemis ,akamam yamg disukai dan tidak disukai anak

o Cara penyajian makanan yang menarik

o Ciptakan suasana yang menyenangkan salah satunya dengan menata ruangan yang menarik, memulai acara makan dengan menyanyi

Selain itu, menurut Decker & Decker (1988) tugas seorang guru dalam hal pemenukan kebutuhan gizi anak adalah; (1) merencanakan layanan makanan, (2) mengidentifikasi masalah nutrisi anak, (3) pemeriksaan oleh petugas kesehatan, (4) mengimplementasikan pendidikan tentang nutrisi pada anak-anak, (5) memasukan tema makanan dalam kegiatan pembelajaran, dan (6) membimbing orang tua untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

5. Tes dan Pemeriksaan Kesehatan

Meskipun guru kelas PAUD tidak memiliki wewenang melakukan tes dan pemeriksaan kesehatan anak, tapi guru bisa ikut membantu dokter. Guru dan dokter perlu bekerjasama dalam merencanakan dan memandu kelas sehingga anak tidak menjadi cemas.

Sebelum pemeriksaan mata misalnya, biarkan anak memegang kartu dengan mata di tutup sebelah dan membaca huruf di tabel mata. Kemudian mereka dapat melakukan hal yang sama pada boneka ketika bermain peran. Sebelum pemeriksaan telinga, dokter menjelaskan apa yang akan dilakukannya pada anak. Perawat dapat menjelaskan dengan model telinga palsu. Dan anak bisa pura-pura memeriksanya seperti dokter.

6. Prilaku Sehat Lainnya

Guru adalah teladan bagi anak. Pastikan bahwa pendidik pun melakukan pola hidup sehat. Jika pendidik ingin anak memakan semua makanan yang disediakan, maka pendidik pun harus melakukannya. Jika pendidik merokok, lakukan di tempat tertutup jauh dari anak. Jika pendidik ingin anak berhenti menggigit kukunya, pastikan pendidik pun tidak mengigit kuku pendidik.

bersambung…

[Endah, http://parentingislami.wordpress.com%5D

About these ads

Satu Tanggapan

  1. sangat bagus….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.