Aa, abi mau berangkat
“Aa abi mau berangkat”, ucapku pada si kecil yang sedang asyik bermain. Seolah teringatkan, tangannya kemudian terentang sambil berkata “yais”. Si kecil minta dipangku dulu sebelum aku pergi ke kantor. Begitulah kebiasaan kami. Setiap kali pergi, pasti si kecil minta dipangku dulu. Setelah itu “sun tangan”, kemudian “dadah assalamu’alaikum”. Dan setelah itu, si kecil biasanya pergi ke jendela melepas kepergianku.
Karena sudah terbiasa, kadang hanya dengan melihat aku memakai jaket [artinya akan pergi], tangannya sudah terentang meminta aku memangkunya. Segera kupangku untuk menunaikan keinginannya.
Eh, ternyata lain orang lain kebiasaan. Si kecil punya kebiasaan yang berbeda pada setiap orang. Kalau ketemu kakeknya, senengannya dipijit punggungnya sambil diolesi kayu putih. Sampai setiap dua hari habis satu botol kecil kayu putih. Biasanya si kecil bilang “putih… putih..” dan segera pergi ke kasur, tiduran sambil menyodorkan punggungnya. Setelah diusap dengan kayu putih, si kecil pun tertidur lelap.
Begitulah, si kecil sepertinya sudah punya kebiasaan tersendiri dengan masing-masing orang. Dan sampai sekarang saya tidak berani menyalahi kebiasaan tadi. Sepertinya saya akan merasa bersalah jika si kecil minta dipangku sebelum berangkat, tapi saya tidak melakukannya.
Ketika saya mencoba berempati padanya, walaupun hal tersebut sangat sederhana, tapi hal itu sangat bermakna baginya. Lebih bermakna dari sekedar mainan bola atau sebuah mobil remote sekalipun.
[deFatih, http://parentingislami.wordpress.com]
DIarsipkan di bawah: Sharing Pengalaman | yang berkaitan: Anak, cerita, Curhat, Islami, islamic parenting, Kisah, Parenting, parenting islami, perkembangan anak
