Puisi untuk Ibu

Puisi untuk Ibu

Jangan fikirkan aku lagi

Bu, jangan menatapku penuh iba ketika kuangkut lemari itu sendiri.
InsyaAllah dua tangan ini cukup kuat untuk itu.

Bu, jangan menatapku penuh iba ketika kuperas keringatku sendiri untuk menjemput rizki.
Aku yakin keringat ini akan berbuah pahalaNya.

Bu, jangan menatapku penuh iba ketika aku masih sendiri.
Aku baik-baik saja bu.
Jangan bu, jangan fikirkan aku lagi, aku baik-baik saja.
Aku punya cinta-Nya yang lebih besar dari apapun.
Cukuplah Dia untukku bu.

Tahukah bu, pedih ketika setiap saat kudengar doamu untuku supaya Dia berkenan memberikan segera rizkiNya tuk menjadi qawamku.
Jangan bertanya mengapa Dia belum mengabulkan doamu
Ini ujianNya bu, ujian untuk kita
InsyaAllah aku ikhlas
dan aku ingin kau pun Bersabar

Jangan bu, jangan fikirkan aku lagi, aku baik-baik saja.
Sedih, ketika melihatmu menatapku
Jangan bu, jangan fikirkan aku lagi, jangan khawatirkan aku lagi
Aku baik-baik saja

Maafkan jika belum bisa memenuhi harapanmu
Hanya di tanganNya semua keputusan
Aku tak bisa berbuat banyak ketika Dia belum Berkehendak
Bu, mari kita belajar tawakal
Jangan khawatir, suatu hari dia pasti akan datang menjemputku
Bu, mari kita belajar sabar

Sungguh aku ingin melihatmu bahagia bu.
Aku tahu ketika aku bahagia kau akan bahagia

Aku bahagia bu, aku bahagia, karena ada Dia dalam hatiku dan Dakwah dalam nadiku.
Sungguh aku bahagia……
Karena itu kumohon bu, jangan fikirkan aku lagi, jangan khawatirkan aku lagi

Karena ada Dia yang akan selalu menjagaku.

17 maret 2008

Teruntuk semua orang tua
Endah Silawati, Blog Parenting Islami
http://parentingislami.wordpress.com

Puisi Bunda

bunda hanya sedikit mengarang puisi untukku
tapi semakin lama kuamati
seyuman bunda adalah puisi
tatapan bunda adalah puisi
teguran bunda adalah puisi
belaian dan doanya adalah puisi cinta
yang disampaikan padaku
tak putus putus
tak putus putus

bahkan bila kutidur

ditulis ulang dari buku “Untuk Bunda dan Dunia”

karya Abdurrahman Faiz (8th)

Kisah Afifah II : Pangeran dari Negeri Dongeng

REALITA ITU
Kriteria :
– Berwajah cantik dan berkulit putih
– Profesi tertentu ( ex :Dokter, perawat, de el el )
– Usia 2 tahun atau 3 tahun dibawah saya
– Suku sunda/ Jawa

Afifah mengerenyit, keningnya berlipat-lipat, hatinya berdegup kencang. Dibolak-baliknya berkali-kali kertas dihadapannya. Mencari-cari sesuatu yang tidak juga ditemukannya. Ga salah? Yang Fifah tahu ikhwan ini adalah ikhwan aktivis, namun tak satupun kriteria da’wah dan semangat da’wah yang ia temukan dalam biodata itu. Air matanya tiba-tiba mengalir, ada luka disana. Saat ikhwan aktivis hanya punya kriteria ece-ece untuk menikah. Cantik dan berkulit putih, lagi-lagi kriteria standar yang begitu sering Afifah temukan. Memang kalau kulitnya hitam dan tidak cantik dosa ya ? ( Fifah, jangan sinis gitu atuh !!!! ) Sahabat, kecantikan dan kulit yang putih itu hanyalah jasad yang pasti akan pudar, seiring usianya. Ini bukan kriteria ukhrawi. Ini adalah sesuatu yang sangat sementara, bila kelak istri sahabat tak lagi cantik dan kulitnya kian mengkerut karena usia, apakah sahabat akan meninggalkannya dan mencari penggantinya seorang akhwat muda yang cantik dan berkulit putih ??? Jika jasadi sudah menjadi kriteria utama yang antum tempatkan di posisi utama, ini menjadi hal yang sangat berat untuk memberikan ketenangan dalam hati para akhwat. Belum lagi profesi-profesi pilihan, dengan berbagai alasan. Bukankah profesi utama kita da’i? Nahnu duat qobla kuli sa’i. Jika kriteria mendasar adalah hal ini, satu saat nanti akan sulit untuk kembali pada cita-cita awal. Kenapa sahabat menikah ???

IKHWAN JUGA MANUSIA

( Afifah…..ikhwan juga kan manusia ). Aduh siapa sih yang dari tadi ngebelain terus, Afifah masih mencak-mencak. Iya, ikhwan juga manusia biasa, yang punya banyak kecenderungan. Kulit putih, mata indah, hidung mancung, leher jenjang, tubuh langsing….cukup-cukup…afifah protes pada suara itu. Wajar ko fah, ikhwan ingin punya istri yang cantik, pintar, aktivis…Afifah termenung, seperti inikah kualitas ikhwan akhir jaman ?? Maka siapakah yang bertanggung jawab, yang mau memilih ikhwan akhwat aktivis yang tidak cakep dan tidak cantik meski ia telah menyerahkan dirinya bagi dien ini. Suara itu kembali berujar, jangan khawatir fifah, akhwat-akhwat itu akan mendapatkan ikhwan yang sholeh, demikian pula sebaliknya. Seperti Ibnu Abbas, yang meskipun tampan rupanya ia berkenan menikahi seorang shahabiyah yang tidak cantik. Atau seperti Zaid bin Haritsah yang menikahi ummu Aiman yang usianya sangat jauh lebih tua hanya karena kesholihan Ummu Aiman, yang kemudian melahirkan pemimpin perang termuda Usamah bin Zaid. Afifah masih termenung, ya…ikhwan juga manusia. Semoga yang meniatkan untuk mendapatkan pasangan hidup hanya karena jasadinya, semoga itu saja yang didapatkannya ( Iffah….jangan mendoakan yang tidak baik ).
Tiba-tiba, afifah menjadi sangat penasaran…jika ikhwan-ikwan senantiasa mengharapkan akhwat-akhwat yang cantik, memang setampan apa mereka hingga sulit menerima akhwat yang kurang cantik ??? Seperti nabi Yusufkah ? Setampan….hehe…siapa ya ??? ( soalnya cakep menurut afifah suka beda sama orang kebanyakan…menurut dia semua orang sholeh itu cakep…fah, cakep ama sholeh itu beda tau ). Sudahkah mereka bercermin dari diri sendiri ?? ( Iffah cukup…!)

bersambung…

AzSya / dr. Anita Asmara  http://parentingislami.wordpress.com

Kembali (part 2 – tamat)

Sahabatku, saudaraku…. Aku sangat menyukai saat-saat aku berbagi denganmu. Meski sekedar lewat sebuah tulisan yang hadir dihadapanmu. Saat mencoba mengetuk pintu relung hati, dan mencari kemuliaan izzah seorang muslim dalam dasar hati ini. Sungguh, kehidupan ini adalah serangkaian masalah, serentetan soal dan ujian yang takkan ada habisnya. Hingga penghujung usia kita yang membatasinya. Kebahagiaanku, adalah saat bersama semua. Sahabat, saudara, patner da’wah, adik, mad’u, mas’ul, jundi…. Bersama semua adalah energi yang begitu besar. Hingga tanpa kusadari pertemuan-pertemuan bersama semua adalah saat-saat yang dirindukan. Cinta adalah gagasan yang menjadi muara, tak sekedar aliran sungai, atau genangan air (meminjam tulisan seorang ustadz). Dan disini kutemukan gagasan itu dalam sepotong cinta yang tertambat.

Namun sahabat, seringkali kenyataan tak semanis keinginan. Serangkaian soal yang kini terpampang dihadapanku seolah memintaku untuk mengerjakannya dengan cara lain. Tidak hanya melulu memperturutkan ego dan hawa nafsuku. Memintaku menyelesaikannya dengan bijak dan selaksa iman.

Itulah alasan aku terjun kelautan dasar hatiku. Mempertanyakan banyak hal didalamnya, menegaskan kejujuran dan komitmen yang hadir disana. Tarik menarik antara impian dan realita pun, kerap kali membawaku dalam kondisi paranoid untuk mempertahankan terguncangnya benteng mimpiku. Dan aku terus menyakinkan diri dengan semua impian, sampai pada akhirnya aku harus terbangun.

Ya terbangun dan tersadarkan, aku harus kembali. Kembali pada hakikat sejati seorang da’i. Pilihan-pilihan yang ada boleh jadi sesuatu yang menanti jawabku. Menantangku untuk memberikan sepotong hatiku. Dan ditepian asa ini aku berdiri… Mencoba untuk tegak berdiri. Melawan angin yang berhembus kencang. Bertahan meski hujan badai mengalir deras. Aku ingin pulang. Aku ingin kembali. Dalam naungan cinta sejati yang selama ini kucari. Aku sadar aku hanyalah debu yang tak berarti dilautan kuasaNya, dalam mahligai cintaNya, dalam RahmanNya yang takkan sanggup kuhitung kebaikanNya. Dan aku ingin kembali, tergetarkan oleh kalamNya, menangis karena khauf dan roja padaNya, merindu janji-janjiNya. Aku ingin pulang dan merasakan ketentraman dibawah naungan Al-Qur’anNya. Merindu sang Kekasih, dan menyelami rasa mencinta padaNya.

Aku ingin kembali, menggelora penuh hamasah dan ruhul jihad untuk berjuang seperti lelaki terbaik dalam hidupku. Rasulullah. Mengikuti sunnah-sunnahNya, menjalankan yang dicintainya, mengorbankan ruh, jasad, dan jiwa ini untuk meneruskan risalahnya. Aku rindu perjumpaan dengannya. Hingga aku berharap hari-hariku adalah mencintainya, bahkan melebihi cintaku pada diriku dan lainnya. Hari-hari untuk menoreh cinta, membuktikan pengorbanan, dan memberikan segala yang kan membuatnya tersenyum. Ya, aku ingin kembali. Kembali tergoda akan cinta yang dimiliki Abu Bakar, cinta Bilal, cinta Nusaibah, cinta para sahabat terbaiknya. Kembali pada hakikat diri seorang muslim, seorang da’i dan seorang pencari cinta hakiki. Dia menunggu ditelaga (al Haudh), menanti kebenaran janjiku dan bukti cintaku.

Aku ingin pulang…… Aku ingin kembali…… Sungguh, aku tak mau tertipu lagi, cinta dunia yang semu dan tak pasti. Sahabat, saudaraku, ikhwah fillah, dan energi jiwaku. Aku akan menepati janjiku, komitmenku, mengikuti kata hatiku. Meski semua ini takkan pernah cukup untuk membalas ihsanullah. Meski semua ini menuntut kebersihan hati yang harus berulang kali kuperjuangkan. Meski semua ini menuntut selaksa keikhlasan dan kebenaran janjiku. Insya Allah, aku akan menepati janjiku. Kali ini…, aku harus menjalankan semuanya dengan benar.
Aku terhenti disini… Tak sanggup tuk menuliskan lagi. Jujur, aku ingin berlari, beruzlah, dan merenung dalam gua sepi. Tapi kemudian aku menyadari, Dia begitu dekat, untuk mendengar setiap lintasan dan jeritan hatiku. Dia Maha Tahu, setiap pengkhianatan yang hadir dari mataku, hatiku, lisanku. Dia Maha Penyayang, hingga hidayah, pencerahan masih terus tergulirkan dalam hari-hariku.

Sahabat, saudara, adik-adikku, marilah kita kembali… Pada hakikat cinta yang abadi. Kembalilah…, pada niat suci yang penuh energi. Kembalilah, dan kau akan mengerti semua puzzle permasalahan, soal kehidupan adalah ujian keimanan yang harus dimenangkan. Kembalilah…, untuk merasakan manisnya keimanan dan ketaatan. Kembalilah…, bersamaku. Menata masa depan yang menjanjikan, bidadari yang bermata jeli, sungai-sungai yang mengalir dibawahnya, dan keindahan perjumpaan dengan Sang Kekasih yang takkan pernah terbayangkan. Kembalilah…, doaku bersamamu.

Azzam Syahidah (dr. Anita Asmara)   http://parentingislami.wordpress.com

Doakan aku dalam doa-doa malammu, agar mampu menata hati dan masa depan. Mosa, aku tahu aku terlalu banyak pertimbangan, terlalu banyak kriteria yang mungkin tak masuk akal. Tapi kali ini aku ingin menepati janjiku…, untuk terus berada disini. Bersama saudara-saudara terbaikku. Dan cukuplah kebersamaan ini menjadi energi untuk aku mengambil segala keputusan atas pilihan yang ada. Semoga yang terbaik.

Kembali (part 1)

Aku terpekur lama, menata masa depan yang terpampang dihadapanku. Memberiku sekelumit pilihan sulit tentang serentetan masa depan yang juga diluar kuasaku. Sesuatu yang tak mampu kuraba, sekedar mampu kurancang meski ku tahu takkan pernah sempurna. Pilihan-pilihan berseliweran, seolah ingin menggoda komitmenku. Mempertanyakan banyak hal yang menjadi jawaban atas kejujuran dalam hatiku. Egoku, perasaanku, mimpiku, bahkan buaian angan-anganku semua bercampur menjadi adonan yang aku sulit mengatakan rasanya. Tarik menarik antara mimpi dan realita. Dan aku memang harus terpekur, untuk merenung, dan berhenti sejenak. Bukan untuk melamun atau hanya berhenti pada tataran angan hampa yang kosong dan semu.

Namun ini tak mudah, ini situasi kompleks yang dulu sering aku hindari. Terlalu banyak hal yang bermain, hingga lidah ini tak sanggup ungkapkan rasa karena daya kecapnya yang mulai memudar. Ada banyak pilihan, dan mungkin terlalu banyak pertimbangan, begitu analisis seorang ibu tentangku. Kini, aku tak bisa mungkir apalagi berlari dari semuanya. Saat ini aku harus berbalik arah, dan menghadapinya. Menjalaninya, dan berhenti berlari. Meski ada rasa takut, meski ada berbagai rasa yang terkorbankan, aku yakin aku bisa.

Ya, berbekal satu rasa tsiqohbillah. Kemana selama ini tsiqoh bersembunyi di relung hati. Hilangkah bersama kian menurunnya yaumiku, bersama lepasnya hafalanku, bersama turunnya imanku. Dan kini, aku seperti orang yang kebingungan karena kehilangan anak satu-satunya. Iman… Ya, manisnya iman. Kemana mutiara yang berada didasar hati itu…. kemana aku harus mencarinya??

Aku mulai menapaki perjalanan ruhani kebelakang. Sungguh, setan begitu ingin menggoda kita, menjerumuskan kita dalam kedzaliman. Memanfaatkan sisi-sisi terlemah kita. Dan begitu seringnya akhirnya kita tergoda, dan menodai kesucian hati yang selama ini kita jaga. Kata-kata yang tepat untuk diucapkan saat ini, ya Rasulullah maafkan kami (meminjam headline Tarbawi terbaru). Sebuah kerinduan menyeruak hangat dalam hatiku. Kerinduan akan perjumpaan dengan sang kekasih sejati. Kerinduan akan cinta yang benar dan hakiki. Dan aku tak mau lagi berpaling.

bersambung…

dr. Anita Asmara, http://parentingislami.wordpress.com

BIDADARI CAHAYA

BIDADARI CAHAYA

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Bersanding dengan para wanita yang utama

Yang pernah tertulis dalam sejarah kehidupan manusia

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Haula bin Jatsi

Yang tuntutan dan doanya tercatat dalam Al-Qur’an

Bukti cinta dan kedekatannya dengan Rabbnya

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Aisyah r.a

Wanita mulia penghafal Al-Qur’an

Yang kecerdasan dan keilmuannya

Saksi perjuangan pengemban risalah

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Layaknya Ummu Sulaim

Yang kesabarannya menjadi saksi

sebaik-baik perhiasan dunia

Istri sholehah

Ukhti…

Inginkah kau menjadi bidadari ?

Kulihat anggukan tegas dari kepalamu

Kulihat binar mata di wajahmu

Kurasakan gelora hamasah di jiwamu

Kau pasti ingin menjadi bidadari…

Apakah ini hanya anganmu atau citamu

Apakah ini hanya mimpi atau orbit khayalmu

Karena bidadari

Tak kenal lelah berinteraksi dengan beratnya da’wah

Tak kenal menyerah dalam ketaatan pada RabbNya

Tak mau berpisah dengan surat cinta dari Nya

Ukhti…

Kuharap kita masih ingin menjadi bidadari

Sebesar apapun harga yang harus dibayar

Seberat apapun tadhiyah yang kita korbankan

Kita akan terus berjihad

Tak kenal henti

Berbekal semangat Al-Qur’an

Dustur penerang jiwa

Maju kehadapan

Mujahidah bidadari sejati

Ukhti

Menjadilah bidadari cahaya

Yang lisannya adalah Al-quran

Yang kegemarannya adalah tilawah

Yang cintanya adalah hafalan

Yang hidupnya dibawah naungan Al-Qur’an

Meretas dalam iman

Menjadi bidadari cahaya

Baiti jannati

Karena mujahid

Hanya akan lahir dari rahim-rahim mujahidah

Hanya akan tsabat dengan dukungan seorang istri mujahidah

Hanya akan teguh dengan patner da’wah mujahidah

[azsya]

Yang bercita-cita punya jundi hafidz-hafidzhoh

Yang hanya akan tercapai dengan pembinaan seorang ummi hafidzhoh

NUSAIBAHKU

NUSAIBAHKU

Bunda…

Kali ini aku mohon

Hapuslah air matamu

Ubahlah tangis itu

Tersenyumlah dengan manis untukku

Bunda

Cukup sudah air mata yang mengalir untukku

Saatnya kita banyak menangis untuk umat

Waktunya kita menangisi kepedihan Islam

Bunda….

Jika kau menangis karena aku harta terbesarmu

Maka menangislah saat aku jauh dariNya

Tapi tersenyumlah kali ini

Karena kau telah menginfakkan harta terbesarmu

dijalanNya

Bunda….

Jadilah Nusaibahku

Yang tak gentar mendorong anaknya berjuang

Meski dalam luka yang dalam dan darah yang mengalir

Baginya kemenangan Islam adalah tujuan yang utama

Dan kesyahidan adalah jalan yang terpilih

Bunda…

Entah berapa waktu yang menjadi hakmu yang kerap terabai

Dalam kesibukan dan hari-hariku

Semoga infaqmu menjadi berkah

Semoga tadhiyahmu menjadi energi

Cahaya bagi setiap langkah perjalanan da’wah ini

Bunda…

Apapun yang terjadi padaku

Aku telah berjanji

Menjual diri, ruh, dan jasad ini

Pada perdagangan yang paling mulia

Maka sampai kapanpun

Takkan ada yang sanggup menghentikan langkahku

Hingga kemenangan Islam atau kesyahidan menjadi milikku

Bunda….

Aku ingin suatu hari nanti

Ketika tidak ada seorang penolongpun

Ketika semua amalan dihisab

Kau bangga padaku

Dan Alloh berkenan menjadikanmu bidadari surgaNya

Bunda…

Aku tahu aku bukanlah anak yang terbaik

Namun bagiku

Kaulah bunda terbaik yang Dia berikan untukku

Terima kasih

Karena kau Bunda nusaibahku

[AzSya]

Teruntuk mama tersayang

Kali ini aku akan berjiddiyah lebih kuat tuk membawamu bersama da’wah ini. Memahamkan mama akan dien ini. Karena ku tahu kau telah mengorbankan banyak hal. Maka tarbiyah adalah hakmu.Menjadikan kesholihan jamaah di rumah kita adalah kewajibanku.Karena kau bidadariku…sambutlah seruan jihad ini…Semoga Allah SWT berkenan memasukkan kita berdua di jannahNya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.