Masihkah Aku Ayahmu [2]

Masihkah Aku Ayahmu [2]

Hari itu aku mendapatkan cerita, dari istriku tercinta.
Cerita yang membuat hatiku terenyuh, cerita yang membuat hatiku berbunga.
Mungkin tak ada salahnya aku membaginya.

Hari itu si bungsu kebingungan.
Dia kehilangan sebuah barang.
Sepertinya barang itu sangat berharga.
Satu persatu dia tanya: nenek, bibi, bunda ataupun kakaknya, apakah mereka menemukan barang kesayangannya.

Lalu apa barangnya?
Begini ceritanya…
Sejak kakaknya sekolah di PAUD dan mendapatkan tas baru,
si bungsu mendapatkan warisan berharga, tas BATMAN milik kakaknya.
Di pagi hari, ketika kakaknya masih belum selesai mandi,
si bungsu sudah siap berangkat: pakaian lengkap, jilbab mungil dan tas BATMAN di punggungnya.
Pake jilbab tapi BATMAN tangkringannya. 
“Lucu sekali”, begitu istriku bercerita.

Tapi, hari itu, yang dia cari bukan itu.
Bukan tas BATMAN itu.
Tapi adalah foto yang biasanya diselipkan di tas kakaknya.
Di dalam foto itu ada tiga orang:
si bungsu, kakaknya, dan satu orang lagi adalah.. aku.

(more…)

Masihkah aku ayahmu?

DSC00104

Sepuluh bulan, ya.. sepuluh bulan. Aku meninggalkan bayi perempuan kecilku yang waktu itu baru dua bulan lahir. Merantau ke negeri orang untuk sepenggal ilmu.Waktu itu, ada rasa takut, jangan-jangan anakku nanti tak kenal padaku. Berbagai upaya diusahakan agar kami bisa berinteraksi. Akhirnya teknologi kami pilih sebagai solusi. Kami beli segala perangkat yang diperlukan untuk bisa videoconferencing. Webcam dan koneksi internet yang memadai. Tidak apa keluar biaya, asal kami tetap utuh sebagai sebuah keluarga.

Setiap kali kami bertemu lewat videoconferencing, istriku selalu menunjukkan pada si bungsu, akulah ayahnya. Semoga saja tidak terjadi, peristiwa yang dialami saudara seorang teman. Setelah dia pulang studi dari luar negeri, anaknya tidak mengenalinya. Anda bisa bayangkan, seorang ibu menggendong kembali bayinya, ternyata sang bayi menangis sejadi-jadinya.

Aku melewatkan berbagai peristiwa luar biasa. Aku tidak menyaksikan ketika pertama kali anak bungsuku berdiri. Aku tidak mendengarkan ketika dia pertama kali bicara. Ada rasa sedih, rasanya kok seperti bukan orang tua. Berat sekali terasa, meninggalkan darah daging yang kucinta. Tapi mungkin itulah episode yang harus kami lalui. Disinilah kesabaran kami sedang diuji.

(more…)

Quality Time Together

Quality Time Together

partisipasi cerita dari Winny Wulandari, Melbourne Australia

Ketika kedua orang tua bekerja/kuliah full-time dari pagi sampai sore, bagaimana ya membuat waktu jadi berkualitas bersama anak? Saya cukup merasakan hal ini ketika saya dan suami kuliah full time dan Affan, anak saya, dititip ke teman. Biaya childcare cukup mahal di sini, sementara alhamdulillah ada teman yang bersedia ngemong Affan, seorang ibu rumah tangga 2 anak yang menemani suaminya kuliah. Kami kuliah dari jam9 sampai jam5 sore setiap hari, artinya dari jam1/8 pagi sampai jam6 sore di luar rumah. Mungkin sama juga, atau lebih lama kali ya untuk orang tua yang bekerja di Jakarta setiap hari dengan macet yang tiada terkira. Kalo di sini ngga macet, namun jarak tempuh dari rumah ke tempat pengasuh lalu ke kampus sekitar 40 km setiap hari.

(more…)

Sisi Lain Hobi Anak Mengacak Rumah

SISI LAIN HOBI ANAK MENGACAK RUMAH

dscn2227 Apakah pembaca parenting islami di sini termasuk yang menyukai atau membenci kegiatan anak mengacak rumah? Apakah pembaca tahu bahwa anak belajar dengan cara mengeksplorasi semua benda yang ada di sekitarnya dan benda yang terdekat ada di dalam rumah. Dinding, kasur,piring, gelas, sendok, garpu, pisau, kompor, kran air, tanah, kasur, bantal, dan sebagainya. Itu adalah media belajar anak.

Mereka mengeksplorasinya yang disisi lain mungkin kita mengatakan mereka mengacak-ngacaknya.

(more…)

Parenting Jarak Jauh

image005Parenting Jarak Jauh

“Mang minta buburnya satu Mang”, pintaku pada si sulung yang sedang asik mempersiapkan bubur buatku.

“Pake pedes Bi?”, tanyanya. 

“Enggak Mang, takut cakit perut”, kataku. 

“Kerupuknya yang banyak ya Mang ya. Trus pake abon dikit”, belaga seperti seorang pelanggan beneran.

“Udah belum Mang? Kok lama?”. 

“Nih Bi, sudah”, sambil disodorkannya mangkok berwarna biru.

Selang berapa lama.. dia berkata : “Gimana Bi, enak ga?”, tanyanya penuh ingin tahu.

“Wah subhanallah, enak Mang. Nambah setengah lagi dong Mang”.

….. (more…)

MIRACLES AT HOME (part 2 – tamat)

Akhirnya aku mengikuti undangan trainer itu untuk mengikuti pelatihannya selama dua hari penuh di akhir tahun 2008 ini. Subhaanallah. Aku jadi sangat termotivasi dan terinspirasi untuk melakukan pengasuhan anak dengan teknik yang benar. Tips nya pun begitu lengkap. Tips untuk memahami bahwa anak itu anugerah yang paling indah. Anugrah yang seharusnya kita syukuri dan selalu kita ingat. Yang membuat kita berpikir untuk mendidiknya dengan benar dan tak akan menyakitinya dengan kata-kata apalagi fisik. Aku jadi tak ingin lagi marah, membentak , apalagi mencubit.

Selain itu, aku jadi tahu tentang betapa cerdasnya anak-anak. Mereka dianugrahi keinginan belajar yang sangat besar. Aku harus bisa sabar menemani mereka mengacak-acak rumahku sebagai media belajar. Aku harus bisa mengarahkan mereka untuk belajar dengan menyenangkan agar mereka menjadi anak-anak yang cerdas. Persepsi positif mereka harus selalu diulang-ulang terus untuk membuat mereka semakin melejitkan potensi positif mereka. Di sisi lain, kebiasaanku terbiasa dengan cara pengasuhan lama harus kupendam dalam-dalam. Aku tak boleh mengatakan jangan nakal, jangan malas, jangan suka menyakiti adik, jangan galak, jangan suka mencubit. Benar-benar perlu keteguhan hati.

(more…)

Ketika Anak Menuntut Keadilan

image024Saya dapat cerita ini dari istri. Begini ceritanya…

Setelah kelahiran anak kedua kami, sepertinya sang kakak menyadari ada makhluk baru yang menjadi bagian dari kehidupan kami. Temen-temen sering cerita tentang pengalaman keluarga mereka setelah kelahiran anak kedua. Katanya kalau beli mainan harus selalu 2. Satu buat si kakak, satu buat si adik. Kalau enggak, rebutan deh. Bahkan denger-denger , pada beberapa anak, kelahiran anak kedua merupakan ancaman bagi anak pertama.

Suatu ketika, ica anak kedua kami menangis. Terang saja respon kami segera menyambutnya. Digendong, dielus-elus, disayang-sayang. Dan tahukah apa yang dilakukan fatih kakaknya yang berumur dua tahun setengah?

(more…)

Kisah Afifah II: Pangeran dari Negeri Dongeng (part 2 – tamat)

KEMANA HARUS DICARI

Afifah termenung, entahlah rasanya ada yang salah dengan hal ini. Entah berapa kali biodata yang masuk untuk binaannya maupun proses-proses yang dibantunya membuatnya mengelus dada. Request-request yang ada kadang membuat hatinya pilu.Rindu kembali pada asolah da’wah, rindu sahabat-sahabatnya terdahulu, yang menikah karena ketsiqohan dan kepentingan da’wah. Disatu lini da’wah yang kuat sekalipun, disebuah laboratorium da’wah yang menghasilkan para aktivis kini terkuak suatu hal yang patut dicermati. Saat para aktivis disibukkan dengan urusan ini, take in pasangan, memilih sendiri dengan menjalankan berbagai manuver , biodata bertebaran entah lewat jalur apa, virus merah jambu, hubungan tanpa status, hingga kelonggaran yang diberikan terkadang oleh para pembinanya sendiri. Sementara luka da’wah kian menganga di mana-mana. Wahai sahabatku, sebenarnya apa yang dicari….hendak kemana kaki ini melangkah….

Fifah, dari segi syar’i tidak masalah ko berbagai ikhtiar yang mereka lakukan. Jangan terlalu ekstrim dan idealis. Itu cuma ada di buku dan negeri dongeng. ( Tapi kan ada sistem yang mengatur kita, fifah tetap keukeuh ) Ayolah fah wake up, jangan terus bermimpi…jaman sudah berubah. Kita tak lagi seperti dulu. Mereka terkadang memberikan banyak kriteria, dan disisi lain juga banyak ikhwan yang tidak siap menikah meski tidak ada alasan yang membuat mereka menunda pernikahannya. Semakin sedikit yang siap dengan resiko menikah dini. Sudahlah fah…

Fifah memonyongkan mulutnya, cemberut, beberapa hari ini dia uring-uringan. Ia sangat menyadari bahwa tidak mudah bertahan dalam idealisme. Melewati jalur syar’i yang telah ada. Mentsiqohkan seorang mujahid pada RabbNya melalui mekanisme dan cara terbaik yang telah difasilitasi oleh da’wah. Namun jika kebanyakan para aktivis mulai meninggalkan sistem ini maka siapakah yang akan menempuhnya? Saat ketsiqohan menjadi suatu harga mahal atas pilihan. Fifah menerawang, ia tahu saat menuliskan ini mungkin akan banyak pro dan kontra. Atau bahkan akan ada yang berkata, fifah buktikan saja, lagi-lagi tentang menikah. Namun fifah tahu ia sedang memperjuangankan yang benar, mencoba memahamkan sesuatu yang asing pada sahabat-sahabatnya, meski usia yang mungkin terlalu jauh untuk dapat memahami. Fiffah ingin berbagi tentang kehangatan visi da’wah dan pernikahan, kelak semoga ini menjadi bekal bagi kita semua.
(more…)

Kisah Afifah II : Pangeran dari Negeri Dongeng

REALITA ITU
Kriteria :
- Berwajah cantik dan berkulit putih
- Profesi tertentu ( ex :D okter, perawat, de el el )
- Usia 2 tahun atau 3 tahun dibawah saya
- Suku sunda/ Jawa

Afifah mengerenyit, keningnya berlipat-lipat, hatinya berdegup kencang. Dibolak-baliknya berkali-kali kertas dihadapannya. Mencari-cari sesuatu yang tidak juga ditemukannya. Ga salah? Yang Fifah tahu ikhwan ini adalah ikhwan aktivis, namun tak satupun kriteria da’wah dan semangat da’wah yang ia temukan dalam biodata itu. Air matanya tiba-tiba mengalir, ada luka disana. Saat ikhwan aktivis hanya punya kriteria ece-ece untuk menikah. Cantik dan berkulit putih, lagi-lagi kriteria standar yang begitu sering Afifah temukan. Memang kalau kulitnya hitam dan tidak cantik dosa ya ? ( Fifah, jangan sinis gitu atuh !!!! ) Sahabat, kecantikan dan kulit yang putih itu hanyalah jasad yang pasti akan pudar, seiring usianya. Ini bukan kriteria ukhrawi. Ini adalah sesuatu yang sangat sementara, bila kelak istri sahabat tak lagi cantik dan kulitnya kian mengkerut karena usia, apakah sahabat akan meninggalkannya dan mencari penggantinya seorang akhwat muda yang cantik dan berkulit putih ??? Jika jasadi sudah menjadi kriteria utama yang antum tempatkan di posisi utama, ini menjadi hal yang sangat berat untuk memberikan ketenangan dalam hati para akhwat. Belum lagi profesi-profesi pilihan, dengan berbagai alasan. Bukankah profesi utama kita da’i? Nahnu duat qobla kuli sa’i. Jika kriteria mendasar adalah hal ini, satu saat nanti akan sulit untuk kembali pada cita-cita awal. Kenapa sahabat menikah ???

IKHWAN JUGA MANUSIA

( Afifah…..ikhwan juga kan manusia ). Aduh siapa sih yang dari tadi ngebelain terus, Afifah masih mencak-mencak. Iya, ikhwan juga manusia biasa, yang punya banyak kecenderungan. Kulit putih, mata indah, hidung mancung, leher jenjang, tubuh langsing….cukup-cukup…afifah protes pada suara itu. Wajar ko fah, ikhwan ingin punya istri yang cantik, pintar, aktivis…Afifah termenung, seperti inikah kualitas ikhwan akhir jaman ?? Maka siapakah yang bertanggung jawab, yang mau memilih ikhwan akhwat aktivis yang tidak cakep dan tidak cantik meski ia telah menyerahkan dirinya bagi dien ini. Suara itu kembali berujar, jangan khawatir fifah, akhwat-akhwat itu akan mendapatkan ikhwan yang sholeh, demikian pula sebaliknya. Seperti Ibnu Abbas, yang meskipun tampan rupanya ia berkenan menikahi seorang shahabiyah yang tidak cantik. Atau seperti Zaid bin Haritsah yang menikahi ummu Aiman yang usianya sangat jauh lebih tua hanya karena kesholihan Ummu Aiman, yang kemudian melahirkan pemimpin perang termuda Usamah bin Zaid. Afifah masih termenung, ya…ikhwan juga manusia. Semoga yang meniatkan untuk mendapatkan pasangan hidup hanya karena jasadinya, semoga itu saja yang didapatkannya ( Iffah….jangan mendoakan yang tidak baik ).
Tiba-tiba, afifah menjadi sangat penasaran…jika ikhwan-ikwan senantiasa mengharapkan akhwat-akhwat yang cantik, memang setampan apa mereka hingga sulit menerima akhwat yang kurang cantik ??? Seperti nabi Yusufkah ? Setampan….hehe…siapa ya ??? ( soalnya cakep menurut afifah suka beda sama orang kebanyakan…menurut dia semua orang sholeh itu cakep…fah, cakep ama sholeh itu beda tau ). Sudahkah mereka bercermin dari diri sendiri ?? ( Iffah cukup…!)

bersambung…

AzSya / dr. Anita Asmara  http://parentingislami.wordpress.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.