
Sepuluh bulan, ya.. sepuluh bulan. Aku meninggalkan bayi perempuan kecilku yang waktu itu baru dua bulan lahir. Merantau ke negeri orang untuk sepenggal ilmu.Waktu itu, ada rasa takut, jangan-jangan anakku nanti tak kenal padaku. Berbagai upaya diusahakan agar kami bisa berinteraksi. Akhirnya teknologi kami pilih sebagai solusi. Kami beli segala perangkat yang diperlukan untuk bisa videoconferencing. Webcam dan koneksi internet yang memadai. Tidak apa keluar biaya, asal kami tetap utuh sebagai sebuah keluarga.
Setiap kali kami bertemu lewat videoconferencing, istriku selalu menunjukkan pada si bungsu, akulah ayahnya. Semoga saja tidak terjadi, peristiwa yang dialami saudara seorang teman. Setelah dia pulang studi dari luar negeri, anaknya tidak mengenalinya. Anda bisa bayangkan, seorang ibu menggendong kembali bayinya, ternyata sang bayi menangis sejadi-jadinya.
Aku melewatkan berbagai peristiwa luar biasa. Aku tidak menyaksikan ketika pertama kali anak bungsuku berdiri. Aku tidak mendengarkan ketika dia pertama kali bicara. Ada rasa sedih, rasanya kok seperti bukan orang tua. Berat sekali terasa, meninggalkan darah daging yang kucinta. Tapi mungkin itulah episode yang harus kami lalui. Disinilah kesabaran kami sedang diuji.
Filed under: Parenting Umum, Sharing Pengalaman | Ditandai: Anak, Ayah, cerita, Curhat, Parenting, parenting islami | 3 Komentar »







