Masihkah aku ayahmu?

DSC00104

Sepuluh bulan, ya.. sepuluh bulan. Aku meninggalkan bayi perempuan kecilku yang waktu itu baru dua bulan lahir. Merantau ke negeri orang untuk sepenggal ilmu.Waktu itu, ada rasa takut, jangan-jangan anakku nanti tak kenal padaku. Berbagai upaya diusahakan agar kami bisa berinteraksi. Akhirnya teknologi kami pilih sebagai solusi. Kami beli segala perangkat yang diperlukan untuk bisa videoconferencing. Webcam dan koneksi internet yang memadai. Tidak apa keluar biaya, asal kami tetap utuh sebagai sebuah keluarga.

Setiap kali kami bertemu lewat videoconferencing, istriku selalu menunjukkan pada si bungsu, akulah ayahnya. Semoga saja tidak terjadi, peristiwa yang dialami saudara seorang teman. Setelah dia pulang studi dari luar negeri, anaknya tidak mengenalinya. Anda bisa bayangkan, seorang ibu menggendong kembali bayinya, ternyata sang bayi menangis sejadi-jadinya.

Aku melewatkan berbagai peristiwa luar biasa. Aku tidak menyaksikan ketika pertama kali anak bungsuku berdiri. Aku tidak mendengarkan ketika dia pertama kali bicara. Ada rasa sedih, rasanya kok seperti bukan orang tua. Berat sekali terasa, meninggalkan darah daging yang kucinta. Tapi mungkin itulah episode yang harus kami lalui. Disinilah kesabaran kami sedang diuji.

Baca lebih lanjut

Ketika anak hilang percaya diri

CIMG0927

Wajahnya pucat, matanya nanar, mulutnya terdiam, pandangannya tertuju pada telunjuk-telunjuk yang terarah pada mukanya. Badannya dihentakkan, kepalanya di’degung’kan, kakinya ditendang, teriak yang memekakkan nyaring terdengar di telinganya. Mereka semua memaki, kata-kata kotor keluar dari mulut mereka. Entah kenapa, teman-teman sekolahnya berlaku seperti itu. Apa salah anak itu sehingga teman-temannya merasa punya hak untuk menghakimi, mencaci dan memaki.

Dia hanya sendirian, berhadapan dengan belasan temannya yang garang bagai singa yang kelaparan. Kulerai mereka. Terus terang aku emosi. Aku teriaki mereka, ini sudah keterlaluan.

Kemudian anak itu berjalan, menyusuri jalan kampung yang kering oleh matahari. Kepalanya menunduk ke bawah. Mencari… masih adakah cinta di bumi. Hatinya hancur, harga dirinya ambruk, tak ada lagi percaya diri.

AMANAH TERINDAH

Hanya ingin berbagi cita
Aku ingin jadi amanah terindah
Untuk dienku

Aku ingin menjadi amanah terindah
Yang hadir tuk buktikan Allah SWT tak salah memilihku
Tuk jadi pejuang al haqNya

Untuk orang-orang yang mengenalku
Untuk ayah dan ibuku
Aku ingin menjadi amanah terindah yang pernah mereka miliki dalam Kehidupan yang luar biasa ini
Baca lebih lanjut

Parenting Islami, New Episode

Assalamu’alaikum wrwb

Keistiqomahan adalah barang yang sangat mahal. Bukan hal yang mudah untuk dicapai. Istiqomah seperti berlari di kala nafas tersengal, terbang di kala sayap patah, berdiri di kala kaki ini gontai, itulah istiqomah. Itu juga mungkin yang menyebabkan Rasulullah seketika beruban ketika diturunkan ayat tentang istiqomah padanya. Rasul pun merasakan bahwa istiqomah adalah sebuah tantangan.

Pun, adalah sebuah tantangan untuk kami bisa beristiqomah dalam menuliskan jejak langkah kami dalam mendidik dan membina anak-anak kami. Sehingga kami bisa berbagi dengan Anda semua.

Hehe, jadi ceritanya bulan-bulan kemarin ada beberapa kejadian spesial di antara kami:

Baca lebih lanjut

Puisi untuk Ibu (2)

IBU…
Theme Song : “Raihan – Odei Anak”

Perih dan pilu ketika kau mengandungku
Meregang, mengerang ketika kau melahirkanku
Tapi ada seyum tulus di wajahmu
Seyum bahagia atas lahirnya anak tercinta
Merah merona bagai mawar di taman syurga

Baca lebih lanjut

Pra Nikah : Membeli Syurga (part 2 – tamat)

I Membeli Syurga

Semua aktivitas adalah perjuangan dan jihad. Aku membrain washing benakku bahwa pernikahan adalah ladang jihad, tak sekedar angan-angan keindahan meski itu janjiNya. Maka segala perbekalan yang harus disiapkan adalah perbekalan seorang mujahid. Perbekalan menuju perang Badr. Ya, satu perbekalan yang harus terus disemai dan diperjuangankan…, yaitu keimanan. Bukankah, Allah telah membuktikan berapa banyak orang yang sedikit dapat mengalahkan yang banyak dengan bekal keimanan dan kestiqohan. Maka modal awal adalah dengan senantiasa memperbaharui keimanan dan ketaqwaan yang ada dalam diri kita. Karena cita-cita kita adalah mendapatkan kebaikan, maka yang harus kita persiapkan adalah selaksa kebaikan dalam diri kita.

Baca lebih lanjut

Pra Nikah : Membeli Syurga

MEMBELI SURGA

Hari ini aku kembali dalam sebuah perenungan panjang. Muhasabah dan perhentian sejenak. Saat aku mulai mencari sebuah inspirasi dari sebuah perjuangan. Saat aku kembali bertanya-tanya tentang amal dan keikhlasan. Dan saat aku mulai mengerti akan hakikat jihad amal yang tak sekedar jihad kata-kata.

Entah berapa banyak tanya yang kerap dilontarkan orang-orang terdekatku, sahabat-sahabatku, adik-adikku, teman seperjuangan, maupun orang-orang yang sekedar mengenalku selintas dalam kehidupannya. Tentang pernikahan. Tentang menyempurnakan bulan sabitku menjadi bulan purnama. Tentang sebuah ikatan…. Subhanallah.
Berbagai argumen dan motivator menjadi bumbu dalam setiap percakapan yang ada denganku untuk menyegerakan sebuah kebaikan. Hingga ide-ide konyol, kalau tak mau disebut nekad. Masya Allah…, hingga seperti itukah??

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.