Ibuku Memang Luar Biasa

Ibuku seorang biasa
Yang memasak untuk anak dan suaminya
Dengan kompor minyak yang menghitam
Kadang sampai jam 2 malam

Ibuku seorang biasa
Yang mencuci pakaian anak dan suaminya
Sambil bersepatu bot
Karena kulit kakinya yang sudah rusak

Ibuku seorang biasa
Yang membuang sampah di kebun samping rumah
Sambil membawa cangkul butut dan berat
(more…)

Tips Sukses Inisisasi Menyusui Dini & ASI ekslusif

Tips Sukses Inisisasi Menyusui Dini & ASI ekslusif

Alhamdulillah, 4 bulan sudah, Ica, puteri keduaku menikmati ASI ekslusif .”Tinggal” 2 bulan lagi melanjutkan perjuangan, Insya Allah. Saya sangat bersyukur, karena bukanlah hal yang mudah, bagi ibu bekerja seperti saya (dengan jadwal kerja shift dan masih ada dinas malam) mempertahankan ASI ekslusif.

Dan saya yakin Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan ASI ekslusif. Sebagai orang yang sering “diamanahi” memotivasi orang lain untuk melakukan IMD dan ASI ekslusive, tentu menjadi obsesi tersendiri untuk menerapkan kedua hal tersebut pada anak kedua saya (terlebih saya belum berhasil melakukannya pada anak pertama saya). Saya ingin membagi pengalaman saya tentang beberapa tips untuk para ibu, bunda, ummi yang ingin melakukan IMD dan ASI ekslusif, semoga bermanfaat.

Memahami manfaat IMD dan ASI ekslusive

(more…)

Puisi untuk Ibu (2)

IBU…
Theme Song : “Raihan – Odei Anak”

Perih dan pilu ketika kau mengandungku
Meregang, mengerang ketika kau melahirkanku
Tapi ada seyum tulus di wajahmu
Seyum bahagia atas lahirnya anak tercinta
Merah merona bagai mawar di taman syurga

(more…)

Puisi untuk Ibu

Puisi untuk Ibu

Jangan fikirkan aku lagi

Bu, jangan menatapku penuh iba ketika kuangkut lemari itu sendiri.
InsyaAllah dua tangan ini cukup kuat untuk itu.

Bu, jangan menatapku penuh iba ketika kuperas keringatku sendiri untuk menjemput rizki.
Aku yakin keringat ini akan berbuah pahalaNya.

Bu, jangan menatapku penuh iba ketika aku masih sendiri.
Aku baik-baik saja bu.
Jangan bu, jangan fikirkan aku lagi, aku baik-baik saja.
Aku punya cinta-Nya yang lebih besar dari apapun.
Cukuplah Dia untukku bu.

Tahukah bu, pedih ketika setiap saat kudengar doamu untuku supaya Dia berkenan memberikan segera rizkiNya tuk menjadi qawamku.
Jangan bertanya mengapa Dia belum mengabulkan doamu
Ini ujianNya bu, ujian untuk kita
InsyaAllah aku ikhlas
dan aku ingin kau pun Bersabar

Jangan bu, jangan fikirkan aku lagi, aku baik-baik saja.
Sedih, ketika melihatmu menatapku
Jangan bu, jangan fikirkan aku lagi, jangan khawatirkan aku lagi
Aku baik-baik saja

Maafkan jika belum bisa memenuhi harapanmu
Hanya di tanganNya semua keputusan
Aku tak bisa berbuat banyak ketika Dia belum Berkehendak
Bu, mari kita belajar tawakal
Jangan khawatir, suatu hari dia pasti akan datang menjemputku
Bu, mari kita belajar sabar

Sungguh aku ingin melihatmu bahagia bu.
Aku tahu ketika aku bahagia kau akan bahagia

Aku bahagia bu, aku bahagia, karena ada Dia dalam hatiku dan Dakwah dalam nadiku.
Sungguh aku bahagia……
Karena itu kumohon bu, jangan fikirkan aku lagi, jangan khawatirkan aku lagi

Karena ada Dia yang akan selalu menjagaku.

17 maret 2008

Teruntuk semua orang tua
Endah Silawati, Blog Parenting Islami
http://parentingislami.wordpress.com

Jerit Hati Seorang Kartini

Jerit Hati seorang Kartini

Priyanto Hidayatullah,  http://parentingislami.wordpress.com
Sebelumnya saya mohon maaf, khususnya pada Ibu Yanti, karena baru sekarang tulisan ini dimuat. Maklum, harus bongkar-bongkar dulu kardus untuk dapat referensinya. Tulisan ini mencoba untuk menanggapi uneg-uneg beliau. Semoga bermanfaat.

Sebelum membahas tentang pandangan Islam terhadap wanita, ada baiknya kita lihat dulu bagaimana pandangan kaum lain terhadap wanita. Supaya apa? Supaya kita bisa membandingkan, apakah Islam itu lebih baik atau lebih buruk.

Wanita dalam pandangan Yunani dan Romawi
Yunani adalah peradaban yang dianggap paling tinggi dan modern pada masanya. Tapi seperti apa pandangan mereka terhadap wanita, berikut adalah jawabannya:

  • Wanita diangap penyebab segala penderitaan dan musibah yang menimpa manusia
  • Wanita tidak boleh duduk di depan meja makan sebagaimana laki-laki
  • Wanita diberikan kebebasan penuh dalam hal seksual, sehingga pelacur dan pezina menempati kedudukan yang tinggi
  • Cupid, adalah buah yang dihasilkan dari dewi yang berhubungan dengan tiga dewa padahal dia hanya memiliki seorang suami saja. Kemudian dewi itu berhubungan dengan laki-laki dari manusia sehingga lahirlah Cupid. Anehnya, Cupid dianggap sebagai dewa cinta.
  • Ikatan suami istri bukanlah suatu hal yang penting, sehingga wanita menjadi objek pemuasan nafsu masyarakatnya.

(more…)

IBUNDA PARA MUJAHID (Part 2)

Ibunda Urwah bin Zubair 

Siapakah Urwah bin Zubair ?

Nasabnya

            Nama lengkapnya adalah Urwah bin Zubair bin Awwam al-Quraisyi al- Asadi al-madani. Lahir 23 Hijriyah. Lahir dari  rahim seorang shahabiah bernama Asma’ binti abu bakar. Ayahnya bernama Zubair bin Awwam, Salah satu dari  sepuluh orang yang  mendapat kabar gembira dijamin masuk syurga.Kakeknya Abu bakar as-Shidiq sahabat Rasulullah sekaligus khalifah yang pertama.

Keutamaan pribadinya

Urwah adalah sosok tabi’in  yang amat dalam ilmunya, penyantun dan zuhud terhadap dunia. Beliau termasuk  salah satu dari tujuh fuqaha Madinah yang menjadi penasehat pribadi Umar bin Abdul Aziz tatkaka menjabat sebagai gubernur Madinah. Urwah bin Zubair  termasuk salah seorang  hafizh dan faqih. Ia menghafal hadist dari ayahnya. Ia amat  rajin shaum, bahkan tatkala ajal menjemputnya ia dalam keadaan shaum. Ia mengkhatamkan seperempat al-Qur’an setiap harinnya. Ia selalu bangun malam dan tak pernah meninggalkannya kecuali sekali saja, yaitu malam ketika kakinya diamputasi.

            Atas takdir Allah kakinya terserang kanker kulit. Penyakit itu menjalar dari kaki sampai betis. Sehingga sedikit demi sedikit kakinya mulai membusuk. Para tabib kewalahan, mereka khawatir penyakitnya akan menjalar ke seluruh tubuhnya, sehingga memutuskan mengamputasi kakinya. Mereka menawarkan kepadanya agar mau meminum khamar supaya tidak kesakitan ketika ampurasi dilakukan. Namun apa jawabnya :

”Tak pantas rasanya  aku menenggak barang haram sambil mengharap kesembuhan dari Allah.”

”Kalau begitu, kami akan memberimu obat bius,” kata para tabib 

”Aku tak ingin salah satu anggota anggota badanku diambil  tanpa terasa sedikitpun, aku justru berharap pahala yang besar dari rasa sakit sedikitpun, aku justru berharap pahala yang besar dari rasa sakit itu, ” tukas Urwah.

            Dalam riwarat lain disebutkan bahwa Urwah akhirnya berkata pada tabib ”Jika memang tak ada cara lain, maka baiklah, aku akan  shalat, dan silahkan tuan-tuan mengamputasi kakiku ketika itu!” jawabnya dengan penuh keyakinan.

            Akhirnya proses amputasi pun dilakukan. Mereka memotong kakinya pada bagian lutut, sedangkan Urwah diam dan tak merintih sedikitpun ketika itu. Ia benar-benar tersibukkan dengan shalatnya.

            Cobaan   tak berhenti sampai di sini. Bahkan diriwayatkan bahwa pada malam kakinya diamputasi itu, salah satu anak kesayanggannya yang bernama Muhammad wafat karena jatuh terpeleset dari atap rumah. Beliau justru memanjatkan pujian kepada Allah SWT, ”Segala puji bagi bagi-Mu, ya Allah, mereka adalah tujuh bersaudara yang satu diantaranya telah Kau ambil, namun Engkau masih menyisakan enam bagiku.  Sebelumnya aku juga memiliki empat anggota badan, lalu Kau ambil satu daripadanya, dan Kau sisakan yang tiga bagiku. Meski engkau telah mengambilnya, namun Engkau jualah pemberinya, dan meski Engkau mengujiku, namun engkau jualah yang selama ini memberiku kesehatan. Alangkah tabahnya beliau.

Siapapakah ibunya?

             Beliau adalah  Asma binti Abubakar ra.

Putera Pemilk dua ikat pinggang

            Ketika itu Abu Bakar sedang berkemas mempersiapkan segalanya untuk hijrah bersama kekasihnya, Rasulullah SAW. Rasulullah dengan menyamar datang ke rumahnya, menyampaikan berita bahwa perintah hijrah telah datang dan meminta Abu bakar untuk menemaninya. Maka segeralah keluarga Abu bakar menyiapkan segala keperluan mereka. Mereka siapkan bekal dalam sebuah kantong, namun tak punya  tali untuk mengikatnya. maka Asma’ membelah ikat pinggangnya menjadi dua. Sehelai ia pakai, dan satunya untuk mengikat kantong yang akan digendongnya. maka sejak itulah ia disebut Dzatun Nithaqain ( pemilik dua ikat pinggang).

            Kemudian ayahnya  berangkat bersma Rasulullah ke Gua Tsur. Mereka bermalam di sana selama  tiga malam, selama itu pula Asma bolak-balik melintasi gurun pasir untuk mengantarkan bekal bagi mereka. Padahal saat itu dia dalam keadaan hamil!

            Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Asma’ adalah orang yang ke delapan belas yang masuk Islam di Mekkah, Ia hijrah ke Madinah dalam keadaan hamil sembilan bulan. setibanya di madinah Ia menjadi muhajir pertama yang  melahirkan anaknya di madinah, Abdullah bin Zubair. 

Ketabahan Asma’

            Ketika  Rasulullah  ayahnya hendak pergi berhijrah, abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak meninggalkan sepeserpun untuk anak-anaknya.. Lalu datanglah kakeknya  yang sudah buta dan menanyakan harta yang ditinggalkan untuk cucu-cucunya. Lau asma, mengambil beberapa batu dan ia simpan di tempat ayahnya biasa menyimpan uang, setelah itu ia tutupi dengan kain dan dipegangnya tangan sang kakek dan diletakkan di atas kain tadi. ”Inilah  yang ayah tinggalkan untuk kami, katanya. Sang kakekpun merasa tenang.  

            Zubair menikahi  asma dalam keadaan tidak memiliki harta apapun kecuali seekor kuda. Asma lah yang mengurusnya,  memberi makanan , mengairi pohon kurma, mencari air dan mengadon roti. Bahkan dia sering membawa kurma sendiri dengan mengusung di atas kepala, padahal jarak kerbun kurma ke rumahnya sekitar 2 kilometer.

Keberanian Asma’

            Ketika masih belia , Asma pernah diancam oleh Abu Jahal untuk memberitahukan tempat persembunyian ayahnya dan Rasulullah, namun beliau bersikukuh bungkam, dan akhinya  ditampar berkali-kali   hingga anting-antingnya terjatuh.

Beliau menyertai pasukan muslimin dalam  perang Yarmuk dan berperang sebagaiman layaknya pejuang.   Tatkala banyak pencuri menyusup kota madinah di masa pemerintahan Sa’d bin ash beliau mengambil sebilah kelewang yang beliau letakkan di sikunya untuk menghadapi para pencuri

Dia juga mendorong anaknya untuk menghadapi tentara Hajjaj yang mengepung kota Mekah, dikala usianya sudah menjelang 100 tahun. 

Kedermawanan Asma’ 

            Fathimah binti Mundzir mengatakan, ”Pernah suatu ketika Asma menderita sakit, maka ia memerdekakan semua budak yang dimilikinya.

            Muhammad bin Munkadir menceritakan  bahwa ”Asma’ adalah wanita yang penyantun. Zubair bin Awwam sendiri mengatakan, ”Aku tidak pernah melihat wanita yang lebih penyantun  daripada Aisyah dan Asma’, namun sifat santun mereka sedikit berbeda. Kalau Aisyah , maka ia mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit, baru setelah terkumpul ia bagi-bagikan. Sdangkan asma, tak pernah menyimpan sesuatu untuk esok hari. Pesannya kepada putra-putri dan sanak familinya : ”Berinfaklah kalian,  bersedekahlah, dan janganlah kalian menangguhkan cadangan,”

Dikaruniai umur yang panjang

            Asma merupakan wanita muhajirah yang terakhir kali wafat. Beliau wafat dalam usia 100 tahun dalamkeadaan sehat, tidak ada satupun gigi beliau yang telah tanggal, akalnya masih jernih dan belum pikun.

Referensi :

  1. Al-Istambuli, Mahmud Mahdi dan As-syalbi mustafa Abu Nasr. Wanita-wanita Sholihah dalam Cahaya Kenabian.Mitra Pustaka. Yogyakarta ; 2002
  2. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Mustafa Abu nash Asy-Syalabi. Wanita-wanita teladan di Masa Rasulullah. At-Tibyan. Solo
  3. Sufyan bin Fuad  Baswedan. Ibunda para Ulama. WAFA Press.Klaten ;2006

Tentang Ibu … (part 3 – tamat)

Bentuk-bentuk Birrul walidain

1.      Memandang orangtua dengan pandangan cinta, penuh kasih dan gembira

“Seorang anak yang memandang kepada orangtuanya dengan pandangan cinta, akan dicatat Allah seperti amalan orang yang naik Haji Mabrur” (HR Ar-Rafi’i dan Al-Baihaqi)

2.      Bersikap lemah lembut dan ucapan yang baik

       “Dan Tuhanmu  telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat  baik  kepada ibu bapak. JIka salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah  kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (  Qur’an surat Al-Isra (17): 23-24)

Imam Al-Bukhari menjelaskan tentang firman Allah diatas. Katanya:

“Tunduklah kepada ibu-bapakmu seperti seorang hamba kepada majikannya yang keras dan ganas.”

“Janganlah kau berjalan di depannya, jangan duduk sebelum dia duduk, jangan kau panggil dengan namanya, dan jangan kau memancing amarahnya.”

.     Suatu saat, ketika Rasulullah  sedang berada di Madinah, ibu susuannya datang mengetuk pintu rumahnya. Dengan segala hormat beliau mempersilakan ibunya masuk dan sorban yang melilit di kepala, dilepaskan, dan dihamparkan untuk alas duduk ibunya. .

1.      Meminta izin sebelum masuk ke kamarnya

“Dan apabila anak-anakmu sudah mencapai usia baligh, maka haruslah mereka meminta izin padamu (untuk masuk), seperti halnya orang-orang sebelum mereka.” (QS. An Nur 24:59)

2.      Berdiri menyambut ibu-bapak

“Siti Fatimah binti Rasul apabila ia datang mengunjungi Rasulullah saw beliau bangkit menyongsongnya, mencium dan mempersilahkan sang puteri duduk di tempat duduk beliau. Begitu juga jika Nabi Saw datang mengunjungi buah hatinya, Fatimah bangun menyongsong beliau, mencium dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya.” (HR. Abu Daud dan At-Turmudhi)

3.      Mendoakan ibu-bapak

Di antara do’a yang diajarkan Alloh swt. untuk orangtua  adalah QS. Al-Israa’ (17):24, & QS. Al-Mukmin (40):8.

Seorang anak boleh mendoakan orang tuanya yang non muslim agar dia mendapat hidayah. Akan tetapi jika orang tuanya telah meninggal, dalam keadaan kafir, maka seorang anak tidak perlu lagi mendoakannya.

4.      Meringankan beban keduanya

Dalam sebuah riwayat, di pelataran ka’bah terdapat seorang yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya. Tujuh putaran sambil menggendong ibu tentu bukan pekerjaan ringan. Selesai putaran thawaf, orang itu menemui Rasululloh sambil bertanya, “Ya Rasululloh apakah berarti aku telah memberikan hak ibuku?” Rasul menjawab seketika itu,”Tidak bahkan seujung kuku pun tidak.”

5.      Mentaati selama bukan maksiat

“Aku orang yang sangat berbakti pada ibuku” kata Saad bin Abi Waqqas. Saad memang dikenal sebagai orang yang sangat hormat dan taat pada ibunya. Hubungan antara anak dan ibu ini membuat banyak orang iri. Sangat harmonis. Penuh kasih sayang.

Hingga suatu hari, Mekkah jadi saksi keislaman Saad. Ibunya, Hamnah binti Abu Sufyan segera mengetahui keislaman putranya yang dikasihinya itu. Dari sinilah munculnya persoalan. Sang Ibu tidak menyetujui perubahan pada anaknya. Ibunya tetap menginginkan Saad pada keyakinan nenek moyangnya.

Sebagai usaha agar Saad mau mengurungkan niatnya, ibunya mengancam, “Kamu tinggalkan agamamu itu atau aku tidak makan dan tidak minum hingga aku mati dan kamu akan dihina manusia sebagai pembunuh ibunya sendiri.

Pagi itu ibunya benar-benar tidak makan. Hingga malam tiba tidak sebutir gandum dan setetes air pun yang masuk ke tubuhnya. Saad hanya diam. Pagi hari kedua, ibunya tetap bersiteguh tidak mau makan dan minum. Kondisinya menjadi lemah. Malam itu Saad yang menyaksikan ibunya yang tidak memiliki tenaga, masih tetap diam. Memasuki hari ketiga, ibunya tidak main-main. Dia tetap tidak mau menyentuh makanan dan minuman. Keadaannya makin memprihatinkan.

Barulah pada hari berikutnya, Saad menunjukkan sikapnya, “Ibunda, kalau ibu mempunyai seratus nyawa dan nyawa ibu keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini. Jika ibu mau, makanlah dan jika ibu memilih tidak mau makan maka silakan.””Melihat kesungguhan Saad, ibunya yang sudah tidak berdaya itu akhirnya mau makan.Mengenai kisah Sa’ad ini Rasul pernah memberikan batasan,

“Tidak boleh taat kepada makhluk untuk maksiat kepada Kholik (Pencipta).” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

 

Wallahu ‘alam bishowab

Alhamdulilaahirabbil’alamiin

Umina_Fatih, Jum,at 23-01-08

 

Referensi : Dari berbagai sumber

Tentang Ibu… (part 2)

Keutamaan berbakti kepada orang tua :

1.      Berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama.

            Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.”Artinya : Dari Abdullah bin Mas’ud katanya, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]
Dengan demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

2.      Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan.”Artinya : Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

3.      Berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut.

Dengan dasar hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar.
“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan’. Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawasul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah. “Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser” [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) 

Ini menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah ketika kita mengalami kesulitan, Insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya.
            Dalam riwayat Abdullah bin Mas'ud yang disampaikan sebelumnya disebutkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
            Begitu besarnya jasa kedua orang tua kita, sehingga apapun yang kita lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak akan dapat membalas jasa keduanya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka'bah dan ke mana saja 'Si Ibu' menginginkan, orang tersebut bertanya kepada, "Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma, "Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu" [Shahih Al Adabul Mufrad No.9]
            Orang tua kita telah megurusi kita mulai dari kandungan dengan beban yang dirasakannya sangat berat dan susah payah. Demikian juga ketika melahirkan, ibu kita mempertaruhkan jiwanya antara hidup dan mati.
Ketika kita lahir, ibu lah yang menyusui kita kemudian membersihkan kotoran kita. Semuanya dilakukan oleh ibu kita, bukan oleh orang lain. Ibu kita selalu menemani ketika kita terjaga dan menangis baik di pagi, siang atau malam hari. Apabila kita sakit tidak ada yang bisa menangis kecuali ibu kita. Sementara bapak kita juga berusaha agar kita segera sembuh dengan membawa ke dokter atau yang lain. Sehingga kalau ditawarkan antara hidup dan mati, ibu kita akan memilih mati agar kita tetap hidup. Itulah jasa seorang ibu terhadap anaknya.

4.      Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur.

Sebagaimana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.”Artinya : Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi” [Hadits Riwayat Bukhari 7/72, Muslim 2557, Abu Dawud 1693]
            Dalam ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dianjurkan untuk menyambung tali silaturahmi.
Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan silaturahmi kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih kecil dia selalu bersama ibu dan bapaknya. Tapi setelah dewasa, seakan-akan dia tidak pernah berkumpul bahkan tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Sesulit apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizki dan dipanjangkan umur. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa dengan silaturahmi akan diakhirkannya ajal dan umur seseorang.Walaupun masih terdapat perbedaan dikalangan para ulama tentang masalah ini, namun pendapat yang lebih kuat berdasarkan nash dan zhahir hadits ini bahwa umurnya memang benar-benar akan dipanjangkan.

5.      Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga. Maka kebalikan dari hadits tersebut yaitu anak yang berbuat baik kepada kedua orang tua akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke jannah (surga).
            Dosa-dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua. Dengan demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah Subahanahu wa Ta’ala akan menghindarkannya dari berbagai malapetaka, dengan izin Allah.

Lalu apa Bentuk-bentuk Birrul walidain…?

bersambung…

[umina_fatih]

Tentang Ibu… (part 1)

Berbahagialah jika ukhti telah menjadi seorang ibu, teruskan perjuangan muliamu! Dan bagi saudariku  yang belum menjadi seorang ibu, berbekallah dengan sebanyak-banyaknya bekal, karena menjadi seorang ibu, satu kata yang hanya  tersusun dari tiga huruf ini mempunyai peran yang sangat signifikan bagi peradaban umat manusia. Gelar ini  diraih setelah Allah mengamanahkan anak yang masih suci dari dosa dan noda dan harus ia jaga    : “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manuasia dan batu“ (Q.S. At-Tahrim :7). Rasulullah bersabda : “Setiap anak yang baru dilahirkan itu lahir dengan membawa fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Majusi atau Nasrani “

 Seorang ibu mempunyai peran domestik, yang berhubungan dengan anak dan suaminya dan peran publik yang berhubungan dengan masyarakat luas.

Peran Domestik seorang ibu

1.      Ibu Sebagai Istri
Seorang ibu harus  menunaikan kewajibannya dan mendapatkan haknya sebagai sebagai seorang istri, Sehingga muncul ketentraman lahir dan batin, menjadi patner yang sinergis untuk suaminya dalam berjuang membangun keluarga sakinah, mawaddah , warahmah dan da’wah yang mampu memberikan energi positif, tidak hanya untuk anak-anaknya, tetapi untuk masyarakat secara umum.

 

2.      Ibu Sebagai Orang Tua

2.1.  Mengandung dan melahirkan anak-anaknya

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati berasal dari tanah. Kemudian kami menjadikannya air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim) “(Q.S. Al-Mu’minun; 12-13).

Sabda Rasulullah SAW :

“ Wahai Kaum wanita, apakah kamu tidak rela bila salah seorang diantara kamu  hamil dari hubungannya dengan suami sedangkan suaminya ridho padanya, lalu dia beroleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa yang  aktif berjihad di jalan Allah. Apabila dia merasa sakit akan melahirkan, lalu penduduk langit dan bumi belum pernah melihat pahala yang disediakan buatnya, yang sangat menyenangkan pandangan mata. Dan ketika mereka melahirkan, kemudian keluar seteguk air susu dan anaknya menetek seteguk demi seteguk, lalu setiap tetes tegukan itu berpahala satu kebaikan. Dan jika dia tidak tidur semalaman maka mereka memperoleh pahala seperti pahala memerdekakan tujuh puluh budak di jalan Allah dengan penuh keikhlasan (HR.Daelami dan Ibnu Asakir) 

 

2.2.  Menyusui   
Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah yang artinya: Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS AI Baqarah: 233). Di  ayat lain Allah berfirman:Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. lbunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkanya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.(QS Al Ahqaf:15).

2.3.  Mendidik dan mengasihinya

Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Peran Ibu terhadap anak-anaknya di rumah sebagai pendidik dan pengayom pertama  sebelum masuk pendidikan forma. Ibu sangat berperan dalam perkembangan dan pertumbuhan segala potensi anak dan memberikan rasa aman untuk anak.
            Bahkan seorang penyair menggambarkan bahwa Ibu adalah sebuah sekolah, yang apabila engkau persiapkan (dengan baik), berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.
Ungkapan tersebut menunjukkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi yang kelak akan menentukan kualitas suatu bangsa.Ibu bagaikan wadah pendidikan yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar -terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa. Sehingga sangat penting bagi seorang calon ibu untuk membekali diri dengan berbagai ilmu pendidikan anak. Oleh karena itu  Rasulullah menyuruh kaum laki-laki  untuk berusaha menikah dengan wanita shalihah yang berjiwa pendidik. Rasulullah bersabda :  “Pilihlah untuk meletakkan benih (keturunanmu) pada tempat yang baik (shalihah) (dari Aisyah diriwayatkan oleh Daruquthni). Rasulullah memuji wanita-wanita Quraisyi karena sifat mereka yang penyayang terhadap anak-anak dan perhatian terhadap suami mereka (Dari Abu Hurairah, diriwayatkan oleh Bukhari).
Berikut beberapa perkara yang wajib diperhatikan oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya:

 

2.3.1.     Menanamkan Aqidah Yang Bersih

Menanamkan aqidah yang bersih, yang bersumber dari Kitab dan Sunnah yang shahih.Allah berfirman yang artinya: “Maka ketahuilah bahwa sesugguhnya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah. (QS Muhammad: 19)

Rasulullah bersabda, yang artinya: Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas, dia berkata: Pada suatu hari aku membonceng di belakang Nabi, kemudian beliau berkata, ‘Wahai anak, Sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu: jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Apablla engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau mohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya, niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering.”

Dan dalam riwayat lain (Beliau berkata), “Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Perkenalkanlah dirimu kepada Allah ketika kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kesulitan. Ketahuilah, apa apa yang (ditakdirkan) luput darimu, (maka) tidak akan menimpamu. Dan apa-apa yang (ditakdirkan) menimpamu, ia tidak akan luput darimu. Ketahuilah, bahwa pertolongan ada bersama kesabaran, kelapangan ada bersama kesempitan, dan bersama kesusahan ada kemudahan.”

Seorang anak terlahir di atas fitrah, sebagaimana sabda Rasulullah maka sesuatu yang sedikit saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang harus bersegera menanamkan agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan tehadap agama ini kepada anak-anaknya.

2.3.2.     Mengajari Anak Shalat
            Mengajarkan anak-anak shalat yaitu dalam hal-hal yang utamanya, wajib-wajibnya, waktunya, cara berwudhu dan dengan shalat dihadapan mereka. Demikian pula dengan pergi bersama mereka ke masjid, berdasarkan sabda Nabi dan hadits Sabrah, ; Perintahkanlah anak untuk shalat apabila mereka telah berumur tujuh tahun. Dan jika mereka telah berumur sepuluh tahun (tetapi tidak shalat), maka pukullah mereka.

2.3.3.     Menanamkan Kecintaan Kepada Allah dan RasulNya, dan Mendahulukan Keduanya
            Dari Anas dia berkata, Rasulullah bersabda,“Tidak sempurna imam seseorang diantara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dicintainya daripada bapaknya, anaknya dan seluruh manusia.”
         Dengan menanamkan kecintaan kepada Allah dan RasulNya di hati anak-anak akan mengantarkan mereka menyambut seruan Allah dan RasulNya. Dan ini menjadi motivasi dasar untuk seluruh yang mengikutinya.

 2.3.4.     Mengajarkan Al Qur’an dan Menyuruh Anak-Anak Menghafalkannya
            Ini merupakan masalah besar yang hanya akan didapatkan oleh orang yang secara sungguh-sungguh berusaha menghafal dan mengamalkannya.
            Hadits-hadits Nabi telah menunjukkan keutamaan itu semua. Diantaranya yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan dari Nabi beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” 
            Para ibu pada masa kejayaan Islam, benar-benar memotivasi anak-anaknya untuk mendapatkan kebaikan, terlebih lagi dari Al Qur’an, sebagaimana mereka mengusahakan kebaikan bagi jiwa anak-anaknya

Begitu besarnya  peranan seorang ibu  bagi seorang anak, sehingga wajar  jika  Allah  memerintahkan manusia untuk berbakti kepada  ibunya khususnya dan orang tua pada umumnya.

 

Apakah keutamaan berbakti kepada orang tua ??

bersambung…

[umina_fatih]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.