Mengelola Kelas PAUD yang Sehat (Part 3)

D. Menyediakan dan Menggunakan Benda-Benda yang Terjaga Kesehatan dan Kebersihannya

Kelas harus bersih dan memiliki sanitasi yang baik. Meskipun petugas kebersihan yang melakukannya, tapi pendidik harus mengawasinya. Penting untuk memastikan bahwa kebersihan kelas sepanjang hari. Lantai, meja dan tempat menyajikan makanan harus terjaga kebersihannya. Makanan harus di simpan dalam wadah yang baik. Penyebaran penyakit dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan sanitasi kelas. Untuk membersihkan mainan dan peralatan yang di sentuh anak, bisa dengan mencucinya dengan cairan pembersih dan air yang disediakan setiap hari. Ketika anak terinfeksi kuman, beritahu orang tuanya segera. Untuk memastikan ruangan kelas bersih dan sanitasinya baik, bisa mengunakan Ceklis Kebersihan Kelas setiap hari.

Penerangan, pemanas ruangan dan ventilasi harus dijaga pada kondisi yang sehat. Anak dan orang tua harus mendapatkan pemberitahuan mengenai jenis pakaian yang digunakan ke sekolah. Jika baju hangat cadangan dianggap perlu, pendidik harus menyiapkannya apabila anak tidak membawanya. Siapkan persediaan pakaian yang cukup jika sewaktu-waktu anak jatuh atau kecelakaan atau kehilangan baju. Pastikan mencucinya setelah digunakan.

Taman bermain outdoor juga harus bersih. Jika terdapat bak pasir, tutuplah sehingga hewan tidak bisa masuk ke dalamnya. Jika pendidik memiliki ayunan atau perosotan, pastikan yang permukaannya berlubang sehingga ketika hujan, tidak akan ada genangan air yang bisa menyebabkan berkembangbiaknya nyamuk.

Contoh Cek List Kebersihan Kamar

___ Lantai kelas dan kursi bersih

___ Area buku bersih

___ Permukaan meja dan rak bersih dan bebas kuman

­___Tempat sampah dilapisi pelastik sampah

___ Lantai kamar mandi bersih dan bebas kuman

___ Bak cuci piring dan toilet bersih dan bebas kuman

___ Makanan tersimpan dengan baik

___ Alat makan bersih dan tersimpan dengan baik

___ Sampah sudah di buang

___ Tersedia handuk

___ Tersedia tisu

___ Tersedia sabun cair

___ Tersedia gelas kertas

___ Tersedia sikat gigi tiap anak

___ Tersedia pasta gigi tiap anak

___ Mainan bersih dan bebas kuman

___ Binatang mainan bersih

___ Kotak dan kandang binatang bersih

___ Selimut, keset, pelpet, bersih

___ Air bak air sudah diganti

Di kelas pun harus tersedia persediaan tisu, handuk, gelas kertas dan sabun cair. Jika pendidik menggunakan seprei atau selimut untuk tidur siang, harus dinamai untuk setiap anak dan dicuci secara rutin. Untuk mencegah penyebaran kuman pastikan anak menggunakan seprei dan selimut milik mereka. Juga pastikan peralatan makan dicuci dengan baik dengan suhu yang cukup untuk membunuh bakteri dan simpan di tempat yang baik.

Menggosok gigi setelah makan adalah kebiasaan yang baik untuk anak. Setiap anak harus memiliki sikat gigi sendiri dan beri nama atau tanda sehingga mereka bisa mengenalinya. Juga namai tempat menyimpan sikat gigi mereka. Selain itu, menggunakan pasta gigi untuk setiap anak pun bisa mencegah penyebaran kuman. Pastikan anak menggosok gigi dengan benar setiap setelah makan.

E. Mengenali Prilaku atau Gejala Aneh yang Mengindikasikan Anak sakit atau akan Mengakibatkan Mereka Sakit

Terkadang anak bisa sakit tanpa di duga sebelumnya karena itu pendidik harus siap jika itu terjadi. Dalam hal ini, mengenali anak yang sakit sangat penting. Jika di sekolah tidak ada staf kesehatan, maka pendidik bisa membicarakan dengan orang tua untuk mencari alternatif perawat.

Kebijakan mengenai perawatan anak yang sakit perlu didiskusikan dengan staff dan dikomunikasikan dengan orang tua sehingga setiap orang faham dengan prosedurnya. Yang utama, pendidik harus memastikan anak terbebas dari tetanus, polio dan influenza tipe B.

Pendidik juga perlu mencek setiap anak ketika mereka datang. Beberapa gejala yang mungkin terlihat dari anak yang sakit adalah:

- Rasa sakit yang tidak biasa

- Kulit berbintik

- Mata merah

- Sakit perut

- Kelelahan yang tidak biasa

- Mual

- Diare

- Sakit kepala

- Nyeri

- Panas dingin

- Sakit tenggorokan

- Sakit telinga

- Memar

- Luka bakar

Perawat anak harus mengetahui informasi umum tentang tingkat keseriusan penyakit anak. Misalnya, anak dengan hidung bengkak, batuk, sakit kepala, atau sakit perut bisa dirawat di kelas jika ini adalah kebijakan pendidik. Tapi anak dengan gejala yang lebih parah, lebih baik dipulangkan atau dirawat. Lebi baik anak diisolasi dari anak lain dan dirawat.

Pendidik juga harus terbiasa dengan kebutuhan kesehatan anak. Apakah ada anak yang sedang dalam masa perawatan atau pengobatan? Apakah ada yang memiliki asma atau alergi? Bagaimana dengan keterbatasan fisik? Beberapa anak menjadi gampang terkena penyakit dari pada anak yang lainnya. Mau tidak mau, pendidik memiliki tanggungjawab untuk mengawasi kesehatan anak, terbiasa dengan mereka, berbicara dengan orang tua dan bersap-siap untuk merespon kebutuhan setiap anak.

Penyakit yang perlu diwaspadai jika terjangkit pada anak, diantaranya adalah:

bersambung…

[Endah, http://parentingislami.wordpress.com%5D

Mengelola Kelas PAUD yang Sehat (part 2)

2. Istirahat

Anak yang sehat seperti mesin yang terus bergerak. Sulit untuk menyuruh mereka beristirahat. Karena itu, perlu disusun program belajar yang seimbang antara aktivitas aktif dan pasif. Pendidik perlu memastikan bahwa waktu istirahat masuk dalam program harian. Bukan berarti bahwa pendidik mengharuskan setiap anak duduk selama 15 menit setiap jam 10 pagi meskipun anak tidak butuh istirahat. Tapi, waktu istirahat harus menjadi natural, disesuaikan dengan olah raga. Jika tidak ada kegiatan yang melelahkan, tidak perlu ada waktu istirahat. Meskipun pendidik telah memasukan dalam jadwal, karena pendidik akan menghabiskan waktu untuk membuat mereka menghentikan aktivitas dan beristirahat. Tapi jika anak benar-benar lelah, mereka akan beristirahat dengan sendirinya.

Anak dengan keterbatasan fisik atau cacat bisa cepat lelah dari pada yang lainnya. Pembimbing harus mengenali situasi ini, sediakan tempat yang tenang untuk mereka, dan pastikan mereka beristirahat ketika mereka membutuhkannya. Beberapa program memiliki waktu istirahat sebelum waktu makan siang ketika anak berhenti belajar dan bermain dengan sendirinya karena kelelahan. Istirahat merupakan saat refreshing bagi anak yang telah beraktivitas penuh sepanjang pagi.

Jika program sekolah full-day, maka harus ada waktu tidur siang. Gunakan tempat tidur atau karpet di ruangan yang cukup luas. Jika pendidik menggunakan ruang kelas PAUD, sisakan ruangan untuk anak yang tidak tidur lagi dan matikan ruangan. Jika anak sudah tidur, pendidik dapat mengijinkan anak lain yang tidak tidur untuk tetap main tetapi tidak rebut.

Dalam menyusun waktu istirahat, pendidik dapat memasukan jadwal membaca cerita pada saat istirahat di mulai. Misalnya cerita Goodnight Moon (Brown 1947) yang menceritakan Bunny yang berusaha untuk tidur setelah ruangan menjadi gelap. Close Your Eyes (Marzolla, 1978) yang menceritakan seorang ayah yang berusaha menidurkan putri kecilnya dengan menyuruhnya membayangkan sesuatu ketika memejamkan mata.

3. Mencuci Tangan

Mencuci tangan adalah cara yang paling efektif mencegah tersebarnya penyakit dari pada cara lainnya. Anak harus belajar mencuci tangan sebelum makan, dari kamar kecil dan setelah menyentuh binatang. Memang anak akan melakukannya jika pendidik menyuruh dan menjadikannya tugas, tapi alangkah baiknya jika pendidik pun menjadi teladan dengan melakukannya juga. Mereka harus melihat pendidik melakukannya. Demonstrasikan dengan menggunakan sabun bagaimana mencuci tangan bagian atas dan belakangya, antara jari dan kuku jari. Kemudian bilas, keringkan dengan tisu dan buang tisunya ke tempat sampah. Pastikan pendidik mencuci tangan ketika tiba di sekolah, ketika mempersiapkan makanan, sebelum makan, setelah menolong anak ke toilet, dan terutama setelah membersihkan hidung anak. Semua staf kelas PAUD harus melakukan hal yang sama juga untuk mencegah tersebarnya kuman.

4. Makanan

Kurang gizi pada usia dini dapat mengganggu pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan kecerdasan anak. Gizi merupakan dasar dari kesehatan dan perkembangan anak. Gizi yang baik mengindikasikan system kekebalan tubuh anak akan baik. Kualitas hidup individu salah satu indikatornya adalah mendapatkan asupan gizi yang baik.

Nutrition is an input to and foundation for health and development. Interaction of infection and malnutrition is well-documented. Better nutrition means stronger immune systems, less illness and better health. Healthy children learn better. Healthy people are stronger, are more productive and more able to create opportunities to gradually break the cycles of both poverty and hunger in a sustainable way. Better nutrition is a prime entry point to ending poverty and a milestone to achieving better quality of life. (WHO)

Anak harus difahamkan dengan makanan yang sehat sejak dini. Mereka belajar bukan karena mendengar kata-kata kita, tapi dengan mengamati langsung makanan yang disediakan di kelas PAUD. Jika anda ingin anak menyukai buah-buahan dan sayuran, rencanakanlah kegiatan yang menyenangkan tentang buah dan sayur. Bicara pada orang tua untuk membawa buah dan sayur dari pada kue pada saat ulang tahun atau ketika mempersiapkan bekal untuk anak.

Misalnya dengan membawa “Banana Surprice” atau “Frozen Fruit Slush” untuk perayaan ulang tahun. Anak-anak akan sangat senang dengan mempersiapkan dan memakannya. Ketika mempersiapkan makanan, anak-anak akan belajar menekan, memotong, menabur dan menggulung.

Decker & Decker (1988) menyatakan bahwa seorang guru dituntut untuk bisa mengemas waktu makan sebagai hal yang menyenangkan. Cara yang bisa dilakukan guru dalam hal ini adalah sebagai berikut:

o Sajikan makanan dalam jumlah kecil karena makanan dengan porsi yang besar akan membuat anak kekenyangan.

o Ketika memperkenalkan makanan baru, sajikan dalam porsi kecil

o Tidak menyajikan makanan yang sama dalam waktu yang berdekatan karena nak suka makanan yang bervariasi.

o Memahami latar belakang budaya anak dan menyesuakan makanan yang disajikan

o Perhatikan jemis ,akamam yamg disukai dan tidak disukai anak

o Cara penyajian makanan yang menarik

o Ciptakan suasana yang menyenangkan salah satunya dengan menata ruangan yang menarik, memulai acara makan dengan menyanyi

Selain itu, menurut Decker & Decker (1988) tugas seorang guru dalam hal pemenukan kebutuhan gizi anak adalah; (1) merencanakan layanan makanan, (2) mengidentifikasi masalah nutrisi anak, (3) pemeriksaan oleh petugas kesehatan, (4) mengimplementasikan pendidikan tentang nutrisi pada anak-anak, (5) memasukan tema makanan dalam kegiatan pembelajaran, dan (6) membimbing orang tua untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

5. Tes dan Pemeriksaan Kesehatan

Meskipun guru kelas PAUD tidak memiliki wewenang melakukan tes dan pemeriksaan kesehatan anak, tapi guru bisa ikut membantu dokter. Guru dan dokter perlu bekerjasama dalam merencanakan dan memandu kelas sehingga anak tidak menjadi cemas.

Sebelum pemeriksaan mata misalnya, biarkan anak memegang kartu dengan mata di tutup sebelah dan membaca huruf di tabel mata. Kemudian mereka dapat melakukan hal yang sama pada boneka ketika bermain peran. Sebelum pemeriksaan telinga, dokter menjelaskan apa yang akan dilakukannya pada anak. Perawat dapat menjelaskan dengan model telinga palsu. Dan anak bisa pura-pura memeriksanya seperti dokter.

6. Prilaku Sehat Lainnya

Guru adalah teladan bagi anak. Pastikan bahwa pendidik pun melakukan pola hidup sehat. Jika pendidik ingin anak memakan semua makanan yang disediakan, maka pendidik pun harus melakukannya. Jika pendidik merokok, lakukan di tempat tertutup jauh dari anak. Jika pendidik ingin anak berhenti menggigit kukunya, pastikan pendidik pun tidak mengigit kuku pendidik.

bersambung…

[Endah, http://parentingislami.wordpress.com%5D

Suka Duka Menyikat Gigi Balita/Batita

Suka Duka Menyikat Gigi Balita/Batita

image004Pagi, siang, malam. Minimal 3 kali si kecil makan. Nasi, ikan dan buah pisang makanan kesehariannya. Sudah pasti ada yang tersangkut gigi disana-sini. Apalagi gigi susu si kecil sudah lengkap. Kalau tidak dibersihkan, sangat boleh jadi kuman-kuman akan berubah menjadi malapetaka, sakit gigi.

Tidak ayal lagi si ummi sangat menyiapkan diri supaya si kecil bisa menyikat gigi. Dibelinya sikat gigi khusus buat si kecil. Anda pernah lihat sikat gigi khusus batita? Saya pun baru tahu sejak menjadi ayah. Bahannya dari silicon yang melingkupi jadi telunjuk. Di ujungnya ada terdapat rambut-rambut silicon yang halus. Cukup halus sehingga tidak akan merusak gusi si kecil. Cara menggunakannya? Ya tinggal di pasang di jari telunjuk, kemudian tinggal kita gosokkan pada gigi si kecil.

Ternyata bukan hal gampang. Si kecil berontak. Berkali-kali mulutnya dia tutup rapat-rapat. Namun si ummi bersikeras, dia tidak ingin anaknya nanti sakit gigi. Lebih baik nangis ketika sikat gigi daripada nangis karena sakit gigi, begitu prinsip yang dipegangnya. “Bi pegangin”, katanya. Ku pegang si kecil dan mulailah si ummi menyikat gigi si kecil. Jelas, si kecil menangis. Semakin disikat, si kecil kayaknya semakin kesal, digigitnya jari si ummi. Sakit? Sok pasti dong. Silikon itu tidak cukup tebal untuk melindungi jari dari gigitan si kecil. Tapi si ummi tidak menyerah. Terus disikatnya sampai akhirnya selesai. Sesaat si kecil masih sesegukan. Tapi tidak lama kemudian, ternyata berhenti juga. Tanpa bekas, tanpa dendam. Biasa, namanya juga anak kecil.

Hari-hari berikutnya, si ummi berpikir keras mencari akal supaya ga susah lagi nyikat gigi si kecil. Ternyata betul, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Pertama, si kecil di distimulasi, “eh itu ada makanan yang nyangkut, sini ummi bersihin”. Si kecil mau membuka mulutnya lebar-lebar. Di akhir menyikat gigi si kecil, si ummi pun menghadiahinya dengan pujian luar biasa sehingga si kecil senang. Oya, satu lagi. Suatu ketika om si kecil datang sambil membawa sebuah buku cerita. Ceritanya tentang kehidupan seekor harimau cilik. Ternyata di salah satu ceritanya, sebelum harimau pergi bermain, harimau itu sikat gigi dulu. Si kecil mulai berubah pikirannya. Dan alhamdulillah, di hari-hari berikutnya dia sendiri sudah mau menyikat giginya sendiri.

[deFatih,  http://parentingislami.wordpress.com]

Masalah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini serta Pengaruhnya terhadap Tumbuh Kembang Anak

Masalah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini serta Pengaruhnya terhadap Tumbuh Kembang Anak

Download : Masalah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini.pdf

image003Janice J. Beauty dalam bukunya yang berjudul Skills for Preschool Teachers menjabarkan tentang bagaimana mengelola kelas yang sehat sebagai salah satu keahlian yang harus dimiliki pendidik Anak Usia Dini. Selain menjaga kesehatan lingkungan, kelas yang sehat berhubungan juga dengan menjaga kesehatan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak. Kesehatan dan gizi merupakan aspek yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Dalam penelitian yang dilakukan Ernesto Pollitt dkk (1993) menyatakan bahwa pemberian makanan yang sehat dan protein, akan mempengaruhi perkembangan kognitif selanjutnya. Selain itu, apa yang anak makan juga ikut mempengaruhi irama pertumbuhan, ukuran badan dan ketahanan terhadap penyakit (Brom dkk, 2005 dalam Santrock, 2007)

Janice J Beaty pun menerangkan bahwa mengelola kelas yang sehat berhubungan dengan bagaimana membuat progam pembelajaran yang meliputi kegiatan olah raga, latihan, mencuci tangan pengenalan gizi yang sehat dan pemeriksaan kesehatan. Selain itu hal yang tidak kalah pentingnya adalah memahami berbagai gejala penyakit yang sering dialami anak.

Menurut santrock (2007: 157) pada umumnya masalah kesehatan yang sering dialami anak-anak adalah kurang gizi, pola makan, kurang olah raga dan pelecehan. Seperti yang dinyatakan dalam penelitian Pollitt dkk, bahwa gizi sangat mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Pola makan sangat berkaitan erat dengan hal ini. Maraknya makanan cepat saji dengan berbagai variasi yang sangat menarik untuk anak seperti hot dog, pizza, hamburger dsb, menjadi kendala tersendiri yang mempersulit pemenuhan kebutuhan gizi yang sehat. Perlu kreatifitas yang tinggi bagi guru dan orang tua untuk mengemas makanan sehat yang menarik bagi anak layaknya makanan cepat saji.
Selain makanan sehat, olahraga merupakan aspek yang sangat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik anak:
Exercise is linked with many aspects of being physically and mentally healthy in children and adult (Buck dkk, 2007 dalam Santrock, 2007)

Ketika berolah raga, anak menggerakan otot-otot tubuhnya yang merupakan stimulasi bagi perkembangan motorik terutama motorik kasar. Olah raga yang tepat sebagai stimulasi perkembangan motorik tersebut adalah yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Ketika berolahraga pun anak belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya. Jika olah raga tersebut berupa permainan maka anak akan belajar nilai-nilai social seperti sportifitas, kemenangan, kekalahan dan penghargaan. Karena itu kegiatan olah raga harus dikemas dengan beberapa tujuan pemberian stimulasi berbagai aspek perkembangan anak.

Meskipun anak yang sehat cenderung aktif, tapi kekebalan tubuh mereka belum stabil. Berbagai penyakit bisa mengancam kesehatan mereka diantaranya alergi, asma dan infeksi telinga. National Centre of Health Statistics pada tahun 2004, menyatakan penyebab kematian anak paling besar adalah kecelakaan, yang kedua adalah kanker terutama kanker darah (leukemia). Strategi untuk menghindari adalah dengan menggunakan sabuk pengaman, helm dan alat pengaman lainnya. Sedangkan penyakit kanker bisa dicegah dengan pemberian ASI.
Pemberian ASI sangat penting pada masa satu sampai enam bulan pertama. Salah satu keuntungan dari pemberian ASI adalah terbentuknya kekebalan tubuh. Manfaat ASI berdasarkan beberapa ahli kesehatan di Amerika Serikat adalah(Eiger & Olds, 1999; Hanson & Korotkova, 2002; Kramer, 2003):
1. Membuat berat badan bayi yang ideal, serta terhindar dari obesitas.
2. Mencegah alergi
3. Mencegah atau mengurangi gejala diare dan infeksi pernafasan
4. Menguatkan tulang
5. Mencegah penyakit kangker pada bayi dan kangker payudara pada ibu yang menyusui
6. mengurangi resiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).

Selain berbagai penyakit yang berhubungan dengan fisik, kelainan anak yang berhubungan dengan mental pun mempengaruhi kesehatan anak. Penyakit tersebut diantaranya hiperaktif dan pelecehan. Sebagai pendidik PAUD, diperlukan kepekaan untuk melihat berbagai gejala dari kelainan tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, guru harus berkonsultasi dengan orang tua dan psikologi secara intensif sehingga mengetahui bagaimana seharusnya perlakuan pada anak yang memiliki kelainan tersebut.

Guru memang menjadi salah satu pihak yang bertangggung jawab dalam menjaga kesehatan anak, tapi yang paling bertanggung jawab adalah orang tua. Karena anak belajar dari keteladanan dan kebiasaaan, gaya hidup orang tua sangat mempengaruhi. Orang tua yang merokok sangat membahayakan kesehatan anak. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat 22 persen anak yang orang tuannya merokok mengidap penyakit asma dan pernafasan (Murray dkk, 2004 dalam Santrock, 2007). Selain itu, asap rokok juga menyebabkan anak kekurangan vitamin C (Staruss, 2001 dalam Santrock, 2007).

Selain gaya hidup orang tua, pola asuh yang diterapkan pun mempengaruhi kesehatan anak. Pola asuh yang kurang baik diindikasikan oleh kurang maksimalnya pemberian ASI, kurang baiknya pola koinsumsi pangan keluarga dan pola perawatan kesehatan dasar terutama bagi anak usia dini.

[Endah,  http://parentingislami.wordpress.com]

DAFTAR PUSTAKA
Beaty, Janice J (1996) Skills for Preschool Teachers, fifth edition, New Jersey: Pretice Hall
Decker, Celia A & Decker, Jhon R. (1988) Planning and Administering Early Childhood Programs, Ohio: Merril
Oden, Serri (2003), the Development of Social Competence in Children, http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html
Peterson, Candida (1996) looking forward through the Lifespan, third edition, Australia: Pretice Hall
Staff Ahli Bappenas (2006) Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi, Jakarta: BAPPENAS
Santrock, John (1994) Child Development, New York: McGrow
Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html

Mengelola Kelas PAUD yang Sehat (part 1)

Panduan Bagi Pendidik PAUD

whp_2005.jpg Ten and a half million children will die this year from easily preventable causes such as diarrhea, pneumonia, and malaria. Many of these children would survive if they were treated with inexpensive, effective, lifesaving interventions (World Health International)Prediksi WHO yang menyatakan bahwa akan ada 10,5 juta anak yang akan meninggal tahun ini diakibatkan diare, penemonia dan malaria sungguh mencengangkan. Kondisi fisik anak yang masih labil (Decker & Decker, 1988) ditambah lingkungan tempat dia bertumbuh dan berkembang yang mulai terkotori polusi menjadikan prediksi tersebut bisa jadi akan menjadi kenyataan.

Selain kondisi kesehatan anak yang mulai terancam, WHO pun menyatakan bahwa kekurangan gizi menjadi salah satu kendala yang harus diwaspadai. Bahkan pada tahun 2005, 50% permasalahan yang mengancam kesehatan anak adalah kurang gizi selain infeksi pernafasan, diare, malaria, HIV, kecelakaan, permasalahan ketika proses melahirkan dan penyakit lainnya.Masih banyaknya anak yang mengalami kondisi kesehatan dan gizi yang buruk, padahal pembentukan SDM yang berkualitas, baik sehat secara fisik maupun psikologis sangat bergantung dari proses tumbuh dan kembang anak pada usia dini. Pada masa ini, anak mengalami tumbuh kembang yang luar biasa, baik dari segi fisik motorik, emosi, kognitif maupun psikososial. Perkembangan kecerdasan pada masa ini mengalami peningkatan dari 50% menjadi 80%. Usia dini pun merupakan masa peka bagi anak. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap mereson stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk meletakan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral dan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu diperlukan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Kondisi kesehatan anak yang buruk akan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Akibatnya kualitas SDM secara otomatis anak menurun.Kondisi yang mendukung proses dan perkembangan anak yang baik adalah kondisi lingkungan fisik yang sehat dan terhindar dari penyebaran kuman dan penyakit. Selain itu, asupan gizi yang baik pun tentu saja sangat mempengaruhi pertumbuhan anak, terutama otak yang sedang berkembang pesat pada masa ini.
Seorang pendidik yang baik, dituntut untuk dapat menyediakan lingkungan yang sehat agar anak dapat berkembang dengan baik. Hal-hal yang perlu dipersiapkan dan difahami pendidik dalam mengelola lingkungan belajar yang sehat akan disajikan dalam makalah ini.

Jadi Apa yang harus kita lakukan sebagai seorang pendidik untuk menciptakan kelas yang sehat?

Pengelolaan kelas yang sehat berkaitan erat dengan penusunan program pembelajaran yang mengajarkan anak tentang pola hidup yangh sehat itu sendiri. Decker & Decker dalam hal ini mengemukakan setidaknya ada tiga point utama yang bisa dijadikan dasar dalam perumusan program, yaitu (1) Mengajarkan siswa manfaat nutrisi dan hubungan antara nutrisi dan kesehatan, (2) Melatih staf nutrisi dengan prinsip-prinsip managemen layanan makanan, (3) memahamkan guru tentang pendidikan makanan dan (4) mengembangkan dan menggunakan materi pembelajaran di kelas dan kurikulum dalam hal makanan.

Cara yang efektif untuk mengajarkan prilaku sehat pada anak-anak adalah dengan keteladanan orang dewasa di sekitar anak. sebagaimana ketika mereka bermain, bercerita dan mendapatkan pengalaman langsung yang melibatkan anak. Contohnya dalam hal mengajarkan makanan, bagi anak akan lebih bermakna dengan menggunakan makanan asli, bukan gambar atau daftar makanan. Anak-anak pun belajar mencuci tangan mereka sebelum makan bukan karena mereka tahu tentang kuman, tapi karena mereka melihat guru melakukannya. Berikut ii adalah penjabaran lebih detail tentang kegiatan apa saja yang bisa diajarkan pada anak dalam menerapkan pola hidup sehat.

1. Olah Raga

Menurut dr. Karel A.L. Staa, M.D olah raga memberi manfaat bagi perkembangan motorik anak. Selain untuk perkembangan fisiknya, olahraga juga amat baik untuk perkembangan otak serta psikologis anak. Mengikutkan anak pada kelompok olahraga akan meningkatkan kesehatan fisik, psikologis serta psikososialnya. Anak menjadi senang mendapat stimulasi kreativitas yang baik untuk perkembangannya.

Selain olah raga dengan menggunakan peralatan di ruangan, sekali-kali perlu mengajak anak untuk berlari dan bergerak bebas di gymnasium atau taman bermain. Jika tidak ada ruang olah raga indoor atau outdoor, cukup dengan lapangan yang luasnya memadai untuk bergerak. Sedangkan bagi anak yang tidak bisa berlari, ijinkan bermain tongkat atau kegiatan lain yang membuat mereka bergerak. Misalnya, bermain menyentuh kaki, lutut, pundak dan kepala sambil berdiri.

bersambung…
[Endah, http://parentingislami.wordpress.com%5D

Keterhubungan Kesehatan dan Gizi bagi Pertumbuhan Sosio Intelektual Anak (part 2 – tamat)

Sedangkan metoda menstimuslasi kemampuan social anak adalah dengan coaching (latihan), modeling (keteladanan), reinforcement (penguatan) and peer pairing (pembimbingan). Dalam hal ini selain guru, orang tua memiliki peranan yang penting terutama ibu. Eratnya hubungan ibu dengan kecerdasan social anak dinyatakan oleh Peterson (1996), bahwa ibu yang ramah ketika bekomunikasi dengan anak, ketika memerintah anak, maka kompetensi social anak akan baik, bukan hanya ketika di rumah, tapi juga di sekolah dan lingkungan teman sebaya. Penting bagi anak untuk memiliki hubungan yang dekat dengan orang dewasa. Kedekatan yang sangat dengan orang dewasa penting bagi perkembangan social emosional anak meskipun hanya dengan satu orang.

Social factors also affect children’s social development. Stressed families and those with little time for interaction with children have become a focus of research as divorce rates have raised. Poverty conditions undermine opportunities of children’s positive development.

Anak perlu berinteraksi dengan beragam karakter orang. Sedikitnya keragaman yang ada di lingkungan anak akan menghambat perkembangan social intelektual anak (Ramsey, 1986). Meskipun demikian, kedekatan dengan orang tertentu, juga sangat penting.

Mixed age peer interactiaon also contributes to the social cognitive and language development of the younger child while enhancing the instructive abilities of the older child (Hartup, 1983)

Kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan berbagai karakter orang bisa terpenuhi di sekolah. Sekolah merupakan lingkungan tempat anak berinteraksi dengan guru, teman sebaya dan orang dewasa linnya. Sekolah memperkenalkam anak pada nilai inti dari budaya lingkungan mereka tumbuh dan pada keadaan sosial teman sebaya. Keduanya sama pentingnya dengan sisi akademis yang akan melengkapi anak sebagai manusia yang utuh. Anak belajar pengalaman akan rasa senang dan sedih sebagai perwujudan penerimaan dan penolakan, juga pertemanan sebagai sarana anak berbagi ide dan pengalaman. Anak pun belajar aspek moral melalui penghargaan, hukuman, keteladanan dan negosiasi. Selain itu, anak akan lebih bisa mengontrol sikapnya, merasakan penerimaan teman sebaya, peningkatan percaya diri dan adaptasi sosial.

Memperkenalkan kebudayaan dan kelompok teman sebaya mungkin lebih penting dari pada mengajari mereka matematika, membaca atau menulis. Perasaan dapat diterima teman sebaya dan bisa berbagi pengalaman sekolah sehingga menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa bahagia sangat penting bagi perkembangan sosial anak. Bahkan dengan peer-conflict anak belajar pengetahuan tentang bagaimana dirinya menghadapi orang lain dan serangkaian interaksi social lainnya (Peterson, 1996).

Children appear to learn how to more completently assess peer norms. Values and expectation and to select action that may bring them within the threshold of peer acceptance (Oden 1987).

Sangat penting menciptakan sekolah yang sehat, supaya kesehatan anak terjaga. Jika kesehatan anak terganggu, apalagi penyakit yang diderita cukup parah dan mengakibatkan kecacatan, bisa mengakibatkan turunnya rasa percaya diri anak, dan akan menjadi kendala anak dalam proses sosialisasi.

Berbagai program yang mendukung kesehatan dan perkembangan sosialisasi anak bisa di susun para pendidik PAUD. Misalnya dengan mengemas aktivitas olag raga dalam bentuk permainan dimana anak akan belajar nilai-nilai social seperti sportifitas, kemenangan, kekalahan dan penghargaan. Atau dengan mengemas kegiatan mencuci tangan dengan mengantri dimana anak bisa belajar sabar dan menghargai. Kreatifitas pendidik sangat diperlukan dalam hal ini.

[Endah, http://parentingislami.wordpress.com%5D
DAFTAR PUSTAKA
Beaty, Janice J (1996) Skills for Preschool Teachers, fifth edition, New Jersey: Pretice Hall
Decker, Celia A & Decker, Jhon R. (1988) Planning and Administering Early Childhood Programs, Ohio: Merril
Oden, Serri (2003), the Development of Social Competence in Children, http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html
Peterson, Candida (1996) looking forward through the Lifespan, third edition, Australia: Pretice Hall
Staff Ahli Bappenas (2006) Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi, Jakarta: BAPPENAS
Santrock, John (1994) Child Development, New York: McGrow
Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html

Kondisi Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Indonesia

Kondisi kesehatan dan gizi anak di Indonesia masih memprihatinkan. Pada tahun 2005 jumlah anak 0-6 tahun adalah 27, 6 juta anak atau sekitar 12, 79 persen dari total pendududk Indonesia. Hanya 25 persen yang terakses program peningkatan kesehatan, gizi dan PAUD. Selain cakupan yang masih rendah, program yang diselenggarakan itu masih terfragmentasi sehingga tidak menyentuh kebutuhan tumbuh kembang anak secara holistic. Rendahnya cakupan dan kualitas penyelenggaraan program pengembangan anak usia dini mengekibatkan kondisi anak Indonesia masih memprihatinkan yang ditunjukan dengan rendahnya derajat kesehatan, gizi dan pendidikan.

Masalah kurang gizi pada anak dapat ditunjukan dari prevelensi yang berkaitan dengan kurang energi dan protein (gizi makro) dan gizi mikro (terutama kurang vitamin A, anemia, kurang yodium). Sampai dengan tahun 2000, keadaan gizi masyarakat menunjukan kemajuan yang cukup berarti, terlihat dari menurunnya secara prevelensi penderita masalah gizi utama (protein, karbohidrat) pada berbagai kelompok umur. Prevelensi anak balita kurang gizi pada tahun 1989-2000 menurun dari 37,5 persen menjdi 24,6 persen. Akan tetapi sejak tahun 2000 sampai dengan 2005 prevelensi kuang gizi anak pada balita meningkat kembali menjadi 28 persen yang sekitar 8,8 persen diantarannya menderita gizi buruk.

Rendahnya derajat kesehatan, gizi dan pendidikan pada anak usia dini lebih banyak terjadi pada anak yang berasal dari keluarga tidak mampu dan yang tinggal di wilayah pedesaan, serta di wilayah dengan penyediaan layanan social dasar yang tidak memadai.
Children in proverty face elevated risk for many theats for health (Flores dkk, 2005 dalam Santrock, 2007).

Memberikan pelayanan kesehatan tidak cukup untuk memperbaiki kesehatan mereka, tapi yang paling penting adalah memperbaiki kondisi keluarganya. Program perbaikan yang bisa dilakukan harus menyeluruh. Misalnya program yang di lakukan di Hawai, Amerika Serikat, yang menggulirkan The Hawaii Family Support/Health Start Program yang dimuali tahun 1998. Para staf dapam program ini mendatangi setiap keluarga yang diindekasikan di bawah garis kemiskinan, mereka menjadi konsultan keluarga dan membantu permasalahan mereka termasuk pengangguran yang kebanyakan merupakan penyebab utama permasalahan kesehatan.

[Endah, http://parentingislami.wordpress.com]

DAFTAR PUSTAKA

Beaty, Janice J (1996) Skills for Preschool Teachers, fifth edition, New Jersey: Pretice Hall

Decker, Celia A & Decker, Jhon R. (1988) Planning and Administering Early Childhood Programs, Ohio: Merril

Oden, Serri (2003), the Development of Social Competence in Children, http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html

Peterson, Candida (1996) looking forward through the Lifespan, third edition, Australia: Pretice Hall

Staff Ahli Bappenas (2006) Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi, Jakarta: BAPPENAS

Santrock, John (1994) Child Development, New York: McGrow

Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.