Mengatasi Anak Sulit Makan

Mengatasi Anak Sulit Makan

 

cimg03601Kita  selalu mendengar banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya sulit makan. Hanya sebagian kecil yang mempunyai anak dengan tidak memiliki masalah makan.  tidak tahu bagaimana setiap keluarga yang pada akhirnya bisa mengatasi masalah makan anaknya. Sebagian dari mereka menemukan anaknya bisa makan  ketika mulai masuk sekolah. Tapi  tetap sebagian anak mengalami kesulitan ini walaupun anak sudah masuk sekolah.

Untuk menyelesaikan masalah ini, sekalian dalam rangka berobat ke dokter, mereka meminta vitamin peningkat nafsu makan.  Amat bingung bagi saya sebagai dokter untuk menyampaikan bahwa sebenarnya bukan itu obat untuk membuat anak bisa makan dengan teratur.  Anakku yang berusia 5,5 tahun sudah sempat beberapa kali mengkonsumsi  vitamin, akan tetapi jarang sekali dia bisa makan teratur tiga kali sehari. Paling hanya satu atau dua kali sehari. Bahkan bisa tidak mau makan seharian.  Hal ini benar-benar berpengaruh buruk yang menyebabkan anak saya masuk ke berat badan kurang alias kurang energi protein (KEP).  Hal yang membuat perasaan saya benar-benar tertekan karena saya seorang dokter yang seharusnya amat sangat mengerti bahwa asupan nutrisi yang cukup itu amat sangat penting.

(more…)

Terima kasih, Suster Susi…

Kesempatan IMD dan ASI ekslusif yang didapatkan Raisya (Ica), anak keduaku merupakan pertolongan Allah melalui perantaraan banyak orang, salah satunya seorang perawat bayi yang sangat berdedikasi.

Beberapa jam setelah melahirkan, saya masih menjalani pemeriksaan dan perawatan intensif, mengingat kontraksi rahim saya tidak baik (atonia uteri), sehingga perdarahan rahim tidak bisa berhenti. Saya harus menjalani terapi cairan dan tranfusi untuk mengganti darah yang keluar, agar fungsi-fungsi vital tubuh saya tidak tergannggu. Sehingga saya tidak bisa rooming in bersama Ica.

Ditengah kondisi tersebut, datanglah seorang perawat bayi. Dengan hati-hati dia menanyakan apakah Ica boleh diberikan susu formula, mengingat keadaan saya masih belum baik. Dan setelah saya dengan tegas tidak mengijinkan, beliau dengan telaten membawa bayi saya bolak-balik keluar masuk ruang tempat saya dirawat untuk disusui. Dan dengan sabar dia membantu saya yang hanya bisa miring kanan dan kiri (karena dudukpun saya tidak mampu) untuk menyusui. Ditengah bayang-bayang ketakutan akan histerektomi (jika perdarahan tidak berhenti, maka rahim saya harus diangkat untuk menyelamatkan nyawa saya), saya bahagia bisa menyusui. Padahal tidak sedikit petugas medis yang tanpa basa basi memberikan susu formula di menit-menit awal kelahiran sang bayi, padahal ibu dan bayi, keduanya sehat dan dapat rooming in!. Si ibu tidak tahu, sampai ketika pulang mereka dibekali sisa susu formula dan tentu saja tagihan atas pembeliannya. (Rasanya kejam sekali!). Bukannya petugas medis seharusnya mendukung sepenuhnya ibu yang ingin menyusui secara eklusif?!.

Sungguh, tahmid mengiringi rasa syukur saya, dipertemukan dengan seorang perawat bayi seperti beliau. Yang belakangan baru saya tahu namanya, Suster Susi. Terima kasih Suster Susi. Jazakillahu khairan Katsira.

dr.ariani (Umminya Fatih & Raisya)

http://parentingislami.wordpress.com


Cerita seorang ayah menyaksikan kelahiran putranya

Hari itu, aku disms istriku tercinta. “Bi ummi sudah pembukaan 4, sekarang udah di RSHS”. Aku segera bergegas ke rumah sakit. Tiba di sana sekitar pukul 1 siang. Di sana terbaring seorang wanita yang 1 tahun lalu aku nikahi. Perutnya buncit bukan kepalang. Sesaat lagi, janin di dalamnya akan segera keluar. Dan aku akan menjadi seorang ayah.

Sesekali dia mengerang. Dan tangannya menggapai-gapai sesuatu untuk dipegang. Dia berbisik lirih padaku. “bi ..sakit…”. Apa yang mesti aku katakan, aku sendiri bingung. Ini adalah kali pertama bagiku. Aku cuma tersenyum dan berkata “sabar ya mi..”.  Sesaat kemudian dia berkata, “bi panggilin suster, minta periksa sekarang sudah pembukaan berapa”. Segera aku menghadap suster-suster yang sudah berkerumun. Ada 3 atau 4 orang di sana. Kemudian salah seorangnya datang dan memeriksa. “Sudah berapa sus?”. “Masih belum berubah pak. Sepertinya sangat lambat pembukaannya. Terpaksa harus di-drib”. Istriku sepertinya tahu apa yang dimaksud. Beberapa saat kemudian suster menyuntikan cairan ke dalam infus istriku. Dan tiap15 menit, erangan istriku bertambah kuat. Ucapnya semakin lirih terdengar “bi.. sakit..”.

Aku sendiri belum pernah melihat istriku begitu kesakitan seperti saat ini. Setiap kontraksi sepertinya menimbulkan nyeri yang luar biasa. Dan karena dirangsang oleh cairan tadi, kontraksi jadi semakin sering terjadi. Aku semakin bingung apa yang harus dilakukan. Yang aku lakukan cuma tersenyum, dan memegang erat tangannya yang sesekali mengejang menahan sakit. Berkali-kali kontraksi terjadi, dan berkali-kali pula kata itu terucap : “bi.. sakiit..”. Sesaat kemudian melelehlah butir bening di pipinya. Istriku menangis.

Aku jadi sadar, betapa penting kehadiran seorang suami pada saat-saat seperti ini. Kehadiran kita secara fisik pada saat persalinan, adalah kado terindah yang bisa diberikan suami kepada istrinya. Pada saat dimana setiap menit adalah rasa sakit, istri butuh dukungan dari orang yang paling dicintainya. Walau cuma seulas senyum, genggaman tangan peneguh iman, doa tulus atau ucapan penenang hati, itu sudah lebih dari cukup.

Waktu menunjukkan pukul 18.00. Pengaruh cairan itu semakin terasa. Kontraksi semakin sering terjadi. Dalam lelahnya istriku berkata, “bi..teleponin mamah. minta datang ke sini ya bi…”. Ku angkat hape kecilku, kutekan nomor itu. Sesaat kemudian orang rumah mengangkat. Kukatakan maksudku. Kutekan lagi nomor rumahku. Kukatakan keadaan di sini.       Satu jam kemudian, keluarga istriku datang. Kehadiran ibu mertuaku, menjadi penyejuk baru. Dan ketika kedua tangan mereka bertemu, tangis istriku pun pecah. Itulah saat di mana seorang anak akhirnya merasakan; betapa sakit penderitaan seorang ibu yang akan melahirkan.

bersambung…

[deFatih, http://parentingislami.wordpress.com%5D

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.