HARUSKAH PEREMPUAN MENJADI IBU…?


Coba simak kutipan artikel yang ditulis Dra. Margaretha Sih Setija Utami di Kompas edisi 20 Desember 2004 ini,

Bukanlah hal aneh kita semua menghormati ibu karena semua manusia dan binatang lahir karena ada ibu. Tetapi haruskah semua perempuan menjadi ibu? Apakah perempuan ada di dunia ini “sekedar” menjadi ibu, tanpa ada arti lain selain itu ?
……..
Kalau kita berani jujur dalam melihat lambatnya perkembangan HDI(Indeks PembaMamangunan Manusia), GDI( Gender-related Development Index dan GEM
( Gender Empowerment Measure),kita, salah satunya adalah menduanya pola pikir kita dalam pemberdayaan perempuan. Di satu sisi , kita berharap banyak pada para ibu untuk berperan serta dalam sektor publik, tetapi di sisi lain, kita masih menekankan keluarga adalah tanggungjawab utama seorang ibu.

Menjadi Ibu…
Suatu hal yang mulia saat seorang perempuan pada fase tertentu memiliki peran itu. Mengandung, melahirkan, hingga mendidiknya sampai berguna. Maka tak heran Nabi Muhammad menyebut 3 kali kata “Ibu”baru kemudian Bapak saat seorang sahabat menanyakan siapa orang pertama yang harus dihormati .
Seorang perempuan merasakan kelengkapan peran saat menjadi ibu. Karena ini berarti fitrahnya telah terpenuhi. Dengan menjalankan fitrahnya bukankah hidup ini dijalani dengan indah dan tentu saja barokah ?

Alih-alih pemberdayaan wanita, kadang para aktivis feminis seringkali beropini membenturkan peran publik serta domestik seorang perempuan. Membuat seorang perempuan menjadi seperti harus ‘memilih’ diantara keduanya. Padahal konsep Islam telah jelas. Lembaga yang bernama keluarga, merupakan lembaga dimana peran serta tugas seorang perempuan menjadi jelas. Sandaran setiap ingin ‘melangkah’ pun menjadi jelas. Peran perempuan begitu jelas dalam membentuk masyarakat. Pembentukan masyarakat yang madani ditentukan dari bagaimana seseorang dididik dalam keluarganya.
Faktor penentu terhadap keberhasilan pendidikan anak pun, memang banyak ditentukan karena adanya seorang perempuan shalihah, yang memahami peran dan tugasnya, serta mampu menjalankannya. Maka tak heran Rasulullah saw berpesan “ Pilihlah (calon istri) untuk menyemaikan benih (keturunanmu) karena wanita itu akan melahirkan anak menyerupai saudara-saudaranya.
Demikin tinggi Islam menghargai seorang perempuan hingga ada hadist “ Maukah kuberitahu kepadamu harta apa yang selayaknya disimpan oleh seorang lelaki? Ialah seorang wanita shalihah!Jika dipandang oleh suaminya tampak menyenangkan , bila diperintah selalu taat dan jika pergi selalu menjaga amanat suaminya.”

Namun bagaimana bila seorang perempuan tidak dapat menjadi ibu misalnya karena penyakit?Apakah sebuan ibu tetap disandangnya?..
Bagaimana bila seorang perempuan yang tadinya memiliki rahim karena sesuatu hal diangkat rahimnya? Apakah ia tetap dapat dipanggil Ibu?
Lalu bagaiman pula dengan seorang wanita yang memilih tidak menjadi Ibu karena misalnya lebih ingin berkonsentrasi di peran publik.Apakah ia bisa menolak sebutan Ibu ?

Rasanya memang jadi rancu. Bukankah sebutan Ibu tidak mutlak milik orang-orang yang telah memiliki anak?..Sederhana saja, lihat saja para akhwat-akhwat yang berkhidmat di TPA-TPA atau disekolah-sekolah seringkali tetap dipanggil Ibu Guru. Padahal statusnya masihlah lajang. Atau seseorang yang bekerja di perusahaan tetap dipanggil Ibu oleh anak buahnya kendati dirinya belum menikah, apalagi memiliki anak. Atau seorang doker lajang, tetap saja dipanggil Bu Dokter. Bahkan kini diharapkan adanya seorang perempuan duduk dalam pemerintahan karena selain potensi intelektualnya juga sifat-sifat ke-Ibunya dapat ikut serta menjaga, memelihara negara.

Menjadi “Ibu” adalah suaru kemestian bagi seorang perempuan. Walau notabene ia belum menikah atau belum memiliki anak sekalipun. Karena sifat-sifat “ Ibu” seperti kelembutan, welas asih, kasih sayang dimiliki nyaris (bila tidak bisa dibilang seluruh) perempuan di dunia ini.
Seorang perempuan akan tetap berarti walau misalnya diberi keterbatasan belum menjadi seorang istri atau belum menjadi seorang ibu. Kita tentu tidak lupa bahwa Rasulullah tetap berpesan kepada kita untuk tetap menjaga ‘perempuan’ sebelum meninggalkan dunia ini. Ini tentunya mengisyaratkan pada kita bahwa perempuan memiliki andil yang cukup besar dalam menjaga peradaban ini.
Seorang perempuan dapat tetap berkiprah dalam membentuk masyarakat dengan segala potensinya . Namun bila seorang perempuan memiliki kesempatan menjadi istri atau ibu yang bisa memiliki anak, namun berdalih tidak nyar’i tidak menggunakan kesempatan itu, maka alangkah sayangnya. Ia telah menghilangkan kefitrahannya, untuk mengejar hal yang sesungguhnya semu.

Akhirnya, bukanlah suatu pilihan bagi seorang perempuan saat ada pertanyaan “ Haruskah Perempuan menjadi Ibu ?” karena pada hakikatnya seorang perempuan adalah Ibu. Dengan atau tanpa anak, dengan atau tanpa rahim sekalipun !

[dr. Risma]

“Dedicated for Mama: Met hari Ibu, Mama, thanks for everything”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: