Tentang Ibu … (part 3 – tamat)


Bentukbentuk Birrul walidain

1.      Memandang orangtua dengan pandangan cinta, penuh kasih dan gembira

“Seorang anak yang memandang kepada orangtuanya dengan pandangan cinta, akan dicatat Allah seperti amalan orang yang naik Haji Mabrur” (HR Ar-Rafi’i dan Al-Baihaqi)

2.      Bersikap lemah lembut dan ucapan yang baik

       “Dan Tuhanmu  telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat  baik  kepada ibu bapak. JIka salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah  kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (  Qur’an surat Al-Isra (17): 23-24)

Imam Al-Bukhari menjelaskan tentang firman Allah diatas. Katanya:

“Tunduklah kepada ibu-bapakmu seperti seorang hamba kepada majikannya yang keras dan ganas.”

“Janganlah kau berjalan di depannya, jangan duduk sebelum dia duduk, jangan kau panggil dengan namanya, dan jangan kau memancing amarahnya.”

.     Suatu saat, ketika Rasulullah  sedang berada di Madinah, ibu susuannya datang mengetuk pintu rumahnya. Dengan segala hormat beliau mempersilakan ibunya masuk dan sorban yang melilit di kepala, dilepaskan, dan dihamparkan untuk alas duduk ibunya. .

1.      Meminta izin sebelum masuk ke kamarnya

“Dan apabila anak-anakmu sudah mencapai usia baligh, maka haruslah mereka meminta izin padamu (untuk masuk), seperti halnya orang-orang sebelum mereka.” (QS. An Nur 24:59)

2.      Berdiri menyambut ibu-bapak

“Siti Fatimah binti Rasul apabila ia datang mengunjungi Rasulullah saw beliau bangkit menyongsongnya, mencium dan mempersilahkan sang puteri duduk di tempat duduk beliau. Begitu juga jika Nabi Saw datang mengunjungi buah hatinya, Fatimah bangun menyongsong beliau, mencium dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya.” (HR. Abu Daud dan At-Turmudhi)

3.      Mendoakan ibu-bapak

Di antara do’a yang diajarkan Alloh swt. untuk orangtua  adalah QS. Al-Israa’ (17):24, & QS. Al-Mukmin (40):8.

Seorang anak boleh mendoakan orang tuanya yang non muslim agar dia mendapat hidayah. Akan tetapi jika orang tuanya telah meninggal, dalam keadaan kafir, maka seorang anak tidak perlu lagi mendoakannya.

4.      Meringankan beban keduanya

Dalam sebuah riwayat, di pelataran ka’bah terdapat seorang yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya. Tujuh putaran sambil menggendong ibu tentu bukan pekerjaan ringan. Selesai putaran thawaf, orang itu menemui Rasululloh sambil bertanya, “Ya Rasululloh apakah berarti aku telah memberikan hak ibuku?” Rasul menjawab seketika itu,”Tidak bahkan seujung kuku pun tidak.”

5.      Mentaati selama bukan maksiat

“Aku orang yang sangat berbakti pada ibuku” kata Saad bin Abi Waqqas. Saad memang dikenal sebagai orang yang sangat hormat dan taat pada ibunya. Hubungan antara anak dan ibu ini membuat banyak orang iri. Sangat harmonis. Penuh kasih sayang.

Hingga suatu hari, Mekkah jadi saksi keislaman Saad. Ibunya, Hamnah binti Abu Sufyan segera mengetahui keislaman putranya yang dikasihinya itu. Dari sinilah munculnya persoalan. Sang Ibu tidak menyetujui perubahan pada anaknya. Ibunya tetap menginginkan Saad pada keyakinan nenek moyangnya.

Sebagai usaha agar Saad mau mengurungkan niatnya, ibunya mengancam, “Kamu tinggalkan agamamu itu atau aku tidak makan dan tidak minum hingga aku mati dan kamu akan dihina manusia sebagai pembunuh ibunya sendiri.

Pagi itu ibunya benar-benar tidak makan. Hingga malam tiba tidak sebutir gandum dan setetes air pun yang masuk ke tubuhnya. Saad hanya diam. Pagi hari kedua, ibunya tetap bersiteguh tidak mau makan dan minum. Kondisinya menjadi lemah. Malam itu Saad yang menyaksikan ibunya yang tidak memiliki tenaga, masih tetap diam. Memasuki hari ketiga, ibunya tidak main-main. Dia tetap tidak mau menyentuh makanan dan minuman. Keadaannya makin memprihatinkan.

Barulah pada hari berikutnya, Saad menunjukkan sikapnya, “Ibunda, kalau ibu mempunyai seratus nyawa dan nyawa ibu keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini. Jika ibu mau, makanlah dan jika ibu memilih tidak mau makan maka silakan.””Melihat kesungguhan Saad, ibunya yang sudah tidak berdaya itu akhirnya mau makan.Mengenai kisah Sa’ad ini Rasul pernah memberikan batasan,

“Tidak boleh taat kepada makhluk untuk maksiat kepada Kholik (Pencipta).” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

 

Wallahu ‘alam bishowab

Alhamdulilaahirabbil’alamiin

Umina_Fatih, Jum,at 23-01-08

 

Referensi : Dari berbagai sumber

3 Tanggapan

  1. Kalau dulu cukup dengan ungkapan: SURGA BERADA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU. Makna dari ungkapan ini dalam sekali.
    Dan apa yang tertuang dalam tulisan di atas, lebih memantapkan lagi bagi kita sebgai seorang anak dalam menghormati ibunya.

  2. Semoga kita diberikan kesempatan untuk memuliakan ibu kita sebelum Allah SWT memisahkan kita dengannya. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: