Keterhubungan Kesehatan dan Gizi bagi Pertumbuhan Sosio Intelektual Anak (part 2 – tamat)


Sedangkan metoda menstimuslasi kemampuan social anak adalah dengan coaching (latihan), modeling (keteladanan), reinforcement (penguatan) and peer pairing (pembimbingan). Dalam hal ini selain guru, orang tua memiliki peranan yang penting terutama ibu. Eratnya hubungan ibu dengan kecerdasan social anak dinyatakan oleh Peterson (1996), bahwa ibu yang ramah ketika bekomunikasi dengan anak, ketika memerintah anak, maka kompetensi social anak akan baik, bukan hanya ketika di rumah, tapi juga di sekolah dan lingkungan teman sebaya. Penting bagi anak untuk memiliki hubungan yang dekat dengan orang dewasa. Kedekatan yang sangat dengan orang dewasa penting bagi perkembangan social emosional anak meskipun hanya dengan satu orang.

Social factors also affect children’s social development. Stressed families and those with little time for interaction with children have become a focus of research as divorce rates have raised. Poverty conditions undermine opportunities of children’s positive development.

Anak perlu berinteraksi dengan beragam karakter orang. Sedikitnya keragaman yang ada di lingkungan anak akan menghambat perkembangan social intelektual anak (Ramsey, 1986). Meskipun demikian, kedekatan dengan orang tertentu, juga sangat penting.

Mixed age peer interactiaon also contributes to the social cognitive and language development of the younger child while enhancing the instructive abilities of the older child (Hartup, 1983)

Kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan berbagai karakter orang bisa terpenuhi di sekolah. Sekolah merupakan lingkungan tempat anak berinteraksi dengan guru, teman sebaya dan orang dewasa linnya. Sekolah memperkenalkam anak pada nilai inti dari budaya lingkungan mereka tumbuh dan pada keadaan sosial teman sebaya. Keduanya sama pentingnya dengan sisi akademis yang akan melengkapi anak sebagai manusia yang utuh. Anak belajar pengalaman akan rasa senang dan sedih sebagai perwujudan penerimaan dan penolakan, juga pertemanan sebagai sarana anak berbagi ide dan pengalaman. Anak pun belajar aspek moral melalui penghargaan, hukuman, keteladanan dan negosiasi. Selain itu, anak akan lebih bisa mengontrol sikapnya, merasakan penerimaan teman sebaya, peningkatan percaya diri dan adaptasi sosial.

Memperkenalkan kebudayaan dan kelompok teman sebaya mungkin lebih penting dari pada mengajari mereka matematika, membaca atau menulis. Perasaan dapat diterima teman sebaya dan bisa berbagi pengalaman sekolah sehingga menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa bahagia sangat penting bagi perkembangan sosial anak. Bahkan dengan peer-conflict anak belajar pengetahuan tentang bagaimana dirinya menghadapi orang lain dan serangkaian interaksi social lainnya (Peterson, 1996).

Children appear to learn how to more completently assess peer norms. Values and expectation and to select action that may bring them within the threshold of peer acceptance (Oden 1987).

Sangat penting menciptakan sekolah yang sehat, supaya kesehatan anak terjaga. Jika kesehatan anak terganggu, apalagi penyakit yang diderita cukup parah dan mengakibatkan kecacatan, bisa mengakibatkan turunnya rasa percaya diri anak, dan akan menjadi kendala anak dalam proses sosialisasi.

Berbagai program yang mendukung kesehatan dan perkembangan sosialisasi anak bisa di susun para pendidik PAUD. Misalnya dengan mengemas aktivitas olag raga dalam bentuk permainan dimana anak akan belajar nilai-nilai social seperti sportifitas, kemenangan, kekalahan dan penghargaan. Atau dengan mengemas kegiatan mencuci tangan dengan mengantri dimana anak bisa belajar sabar dan menghargai. Kreatifitas pendidik sangat diperlukan dalam hal ini.

[Endah, https://parentingislami.wordpress.com%5D
DAFTAR PUSTAKA
Beaty, Janice J (1996) Skills for Preschool Teachers, fifth edition, New Jersey: Pretice Hall
Decker, Celia A & Decker, Jhon R. (1988) Planning and Administering Early Childhood Programs, Ohio: Merril
Oden, Serri (2003), the Development of Social Competence in Children, http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html
Peterson, Candida (1996) looking forward through the Lifespan, third edition, Australia: Pretice Hall
Staff Ahli Bappenas (2006) Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi, Jakarta: BAPPENAS
Santrock, John (1994) Child Development, New York: McGrow
Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html

Satu Tanggapan

  1. assalamualaykum wr wb

    ijin copas lg ya..

    syukron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: