Kriteria oh Kriteria


Hafalan… juz, Shalat malam ../hari, Tilawah …juz/hari, pendidikan …, fisik …, suku …., tinggi badan …., karakter …., umur… Bla bla bla. Banyak banget dah. Ada kali ya orang yang kayak gini? Bejibun kriteria diungkapin, biar calon pasangan ideal sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi apa hasilnya? Susah banget deh nyarinya. Dan bisa jadi kalau kita minta bantuan orang lain, nanti salah persepsi. Dikiranya kriteria ini penting, padahal mah bisa dinego. Dikiranya kriteria itu gak penting, padahal itu harus terpenuhi,. Akhirnya calon yang ditawarkan tidak sesuai harapan. Lagi pula, ada orang yang bilang, kriteria yang diajukan menggambarkan kualitas pembinaan seseorang. Anda boleh setuju atau tidak, silakan-silakan saja. Ga ada salahnya kok.

Rupanya terjadi begitu besar kekhawatiran pada kalangan muda-mudi. Ketakutan luar biasa jika nanti pasangannya tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Sehingga dimunculkanlah semua kriteria ideal menurutnya. Padahal secara tidak langsung, itu menunjukkan secara jelas tentang ketidaksiapannya untuk menikah. Bener. Karena salah satu yang paling membuat sebuah keluarga bisa bertahan adalah kesiapan menerima pasangan apa adanya dan mengembangkan kemampuannya.

Tapi itu bagian dari ikhtiar untuk mencari pasangan terbaik? Yup, semuanya setuju tentang hal itu. No doubt about it. Tapi, tidak mesti menuliskan semuanya. Cukup yang penting-penting saja. Menuliskan sekian banyak kriteria bisa mempersulit diri. Karena semakin banyak kriteria, itu berarti semakin lama proses pencarian orang yang menenuhi kriteria tersebut. Sampe sekarang, belum ada googlenya. Jadi kagak bisa dalam hitungan detik hihi..

Lalu gimana dong? Ya… Menurut pandangan dan pengamalaman pribadi sih, tulis saja yang paling penting saja. Yang bisa dinego kagak usah ditulis. Yang kedua, kita mungkin bisa menuliskan apa yang kita inginkan, tapi belum itu yang kita butuhkan. Yang paling tahu apa yang kita butuhkan adalah Allah SWT. Kita mungkin bertemu dengan seorang ikhwan/akhwat dan mengatakan “He/She is the one”. But hey, wait a minute. Emang berapa jam kita ketemu dalam sehari sehingga kita bisa yakin dia adalah yang terbaik buat kita. Apakah kita tahu seperti apa dia tidur, akhlaknya terhadap orang tua, buku apa yang dia baca, musik apa yang dia dengar, seperti apa kamar tidurnya, dsb? Paling juga kita ketemu se jam sehari. Itu pun gak tiap hari. Iya kan? Jadi, kriteria tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya andalan. Rupanya perlu juga untuk bertanya kepada teman dekatnya, saudaranya atau orang-orang dekat lainnya. Dan yang lebih penting lagi, meminta pertimbangan pada Dzat yang melihat calon pasangan kita 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam semingga. Dialah yang Maha Tahu tentang dirinya dan Maha Tahu tentang kebutuhan kita, bukan hanya keinginan kita. Ya, sholat istikhoroh.

Jika kita hanya mengandalkan kriteria atau pandangan beberapa orang saja, dan ternyata setelah menikah, dia tidak sesuai dengan keinginan kita, keluarga yang sudah dibangun akan dengan sangat mudah goyah. Namun jika pertimbanganNya menyatakan “ya” maka jika suatu saat setelah menikah muncul kekecewaan, kita bisa berkata, “Dia pilihan Allah SWT. Dia yang terbaik menurut Allah untuk kita.Mau nyari ke mana lagi sih?”
Allahu’alam
[deFatih,  https://parentingislami.wordpress.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: