BAGAIMANA MEMBUAT ANAK “CEREWET”?


“Umi kenapa ayam kakinya dua? Kenapa kucing kakinya empat? Kenapa ikan gak ada kakinya dan hidup di air?” Celotehan anak seperti itu kadangkala sering membuat kita sebagai orangtua cukup kewalahan dalam menjawab. Bahkan banyak diantara kita yang kesal kemudian menegurnya. Padahal sebenarnya kekritisan anak yang kita anggap sebagai “cerewet” tersebut merupakan salah satu tanda bahwa dia memiliki kecerdasan linguistik yang baik. Kecerdasan linguistik sangat berkaitan erat dengan kecerdasan kognitif anak. Berarti ketika anak “cerewet” berarti kecerdasan kognitif anak pun berkembang dengan baik.
Sebagai orang tua yang merupakan madrasah utama dan pertama bagi anak, sangat penting untuk memberikan stimulai positif supaya perkembangan linguistik anak bisa optimal. Bagaimana melakukannya? Berikut ini beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam mengembangkan kecerdasan liguistik anak.
1. menyediakan bermacam media literasi untuk anak
Media literasi seperti koran, buku anak, iklan, kertas, pensil, dan semacamnya harus disediakan di tempat yang bisa diakses oleh anak yang sedang belajar. Misalnya meja belajar anak atau rak buku pendek yang bisa diakses anak. Ketersediaan media literasi ini bisa mengembangkan kesadaran awal literasi, terutama dalam aspek tertulis (print). Menurut Larrick (1988) berbagai alat dan bahan untuk membaca dan menulis akan memperkuat perkembangan literasi dini. Anak akan terbiasa berinteraksi dengan media literasi dan bereksplorasi dengannya.

2. mendemonstrasikan beragam kegiatan literasi dan libatkan anak untuk mengalaminya
Anak belajar dari keteladanan. Jika orangtua terbiasa membaca dan menulis, maka anak akan mencontoh hal tersebut. Karena itu, pada saat orang tua melakukan kegiatan literasi baik membaca atau menulis, libatkan anak dalam kegiatan tersebut.. Hal ini kadangkala jarang dilakukan orang tua karena biasanya mereka tidak mau di ganggu ketika membaca atau menulis. Jika memang ada hal penting yang harus segera diselesaikan, dan tidak ingin mendapat gangguan, lakukan aktifitas tersebut di malam hari dan sediakan waktu luang khusus untuk kegiatan literasi dengan anak. Perkembangan anak tidak kalah pentingnya dengan masalah pekerjaan.

3. melibatkan anak dalam interaksi literasi.
Salah satu ciri keluarga yang baik adalah keluarga yang literat yang didalamnya terjadinya diskusi tentang apa yang anggota keluarga lihat, lakukan, dan alami termasuk berbagai buku yang mereka baca, musik yang mereka dengar, atau film yang mereka lihat. Ketika orang tua membicarakan pengalaman sehari-hari, disarankan melibatkan anak dalamnya. Atau, ketika orang tua dan anak anak yang sedang membaca dongeng sebelum tidur, orang tua mungkin dapat menceritakannya dari beragam aspek dongeng yang berbeda misalnya mengangkat aspek latar, alur cerita, dan penokohan tanpa menggunakan istilah literasi yang abstrak. Interaksi literasi inii akan mempercepat dan meningkatkan pembelajaran dan apresisasi literasi anak.

[Endah,  https://parentingislami.wordpress.com]

2 Tanggapan

  1. siap, media literasi emang penting.

  2. bagamana dan apa saja media yang bisa diberikan kepada anak paud, serta metode penyampaiannya bagaimana?
    mohon info detail

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: