Pengalaman Mengamati Anak Belajar Bicara


Pengalaman Mengamati Anak Belajar Bicara

nonamanis151

Menyambung apa yang sudah disampaikan oleh saudari Endah Silawati dalam artikel “Bagaimana Membuat Anak Cerewet”, saya dan istri coba sharing sedikit pengalaman tentang Bagaimana Anak Belajar Bicara. Semoga bermanfaaat.

Dulu pertama kali si kecil berbicara, kata “Mama” yang pertama kali keluar dari mulut mungilnya. Kami begitu senang dan pengennya nunjukkin ke neneknya bahwa si kecil sudah berbicara “Mama”. Si Nenek senang sekali mendengarnya, karena dari dulu nenek pengennya memang dipanggil “Mama” oleh si kecil. Dan tentu saja, kakek si kecil tidak mau ketinggalan. Ketika si kecil di bawa ke sana, tak henti-hentinya si kakek mengajari si kecil mengucapkan kata “Papah” walaupun ternyata tidak mudah. Pada saat itu, kata “Papah” tidak keluar dari mulutnya. Setelah satu bulan kemudian kira-kira, baru kata “Papah” akhirnya keluar.

Setelah itu, si kecil semakin mahir berbicara. Pada umur 1 tahun 4 bulan, si kecil sudah memanggil kami “Bii.. Mi..”, dua bulan berikutnya, si kecil sudah bisa mengucapkan dua suku kata menjadi “Abi” dan “Umi” setelah kata “Abi” dan “Umi” selalu kami gunakan ketika kami berkomunikasi dengannya.

Kalau dimati sih, yang pertama, si kecil lebih mudah mengucapkan kata yang suku katanya berulang. Seperti misalnya “Mama”, “Papa”, “Kupu-Kupu”, “Pipi”, dsb. Sehingga biasanya kata-kata yang seperti itu yang pertama kali muncul dari si kecil.

Yang kedua, ternyata pada awal belajar, si kecil biasanya mengucapkan suku kata terakhirnya saja. Jadi kalau katanya adalah “Abi” maka yang pertama kali dia bisa sebutkan adalah “Bi”. Begitu juga untuk kata-kata yang panjang. Nah, sebagai orang tua, kami ingin sekali muncul kalimat thayyibah atau doa dari mulut si kecil. Kemudian, kami coba latih dengan pancingan kata. Misalnya ketika mau makan kami pancing dengan “Bismil??”, kemudian si kecil berkatan “ah”. Di lain waktu ketika selesai makan kami pancing “Alhamduli”, kemudian si kecil menjawab “ah”. Kami juga coba untuk membentuk konsep dirinya dengan pancingan kata yang lain misalnya “Aa Fatih anak Sho??”, kemudian dia menjawab “Leh”. “Aa Fatih anak Pin??”, dia jawab “Tang” dengan gaya cadelnya. Terus saja seperti itu, sedikit sedikit, alhamdulillah si kecil bisa mengucapkan kata yang lebih kompleks. Sekarang, sekali dicontohin, si kecil langsung bisa menyebutkan suku kata terakhirnya, bahkan katanya secara utuh.Dan sekarang si kecil sudah bisa membentuk suatu kalimat sederhana, “Aa Jatoh, sakit”, celotehnya ketika dia terjatuh.

Yang ketiga, walaupun si kecil belum mampu mengucapkan kata, tapi sering kali dia tahu apa yang kita maksud. Ketika saya tanya, “meja yang mana Aa?”, dia bisa menunjukkan benda yang kami maksud walaupun pada saat itu si kecil belum bisa mengucapkannya.

Yang keempat, konsistensi penyebutan kata-kata sangat penting untuk memudahkan si kecil belajar bicara dan mengingatnya. Kata pertama yang kita ucapkan untuk memperkenalkan suatu benda, pekerjaan, sifat pada si kecil, itu yang akan diingatnya. Misalnya sampai sekarang si kecil menyebut aktivitas sholat dengan “Aoh”. Di sudah mengasosiasikan aktivitas tersebut dengan sebuah kata tertentu.

Yang kelima, suatu saat saya mencoba untuk mengajari si kecil mengucapkan “Allahu akbar”. Ternyata susah sekali. Sampai akhirnya saya coba mengucapkannya sambil menggerakan tangan seperti orang sedang takbiratul ihrom. Ternyata berhasil. Si kecil bisa mengucapkan “Allahu akbar”. Alhamdulillah

Yang keenam, kami menyimpulkan anak adalah peniru luar biasa. Apapun dia tiru. Termasuk masalah ucapan. Baik ataupun buruk kata yang sering diperdengarkan oleh orang-orang di sekitarnya, kira-kira seperti itu pula kata yang akan si kecil sebutkan. Jika tante si kecil adalah anak “ABG” seumuran SMA atau kuliahan, maka jangan heran kalau tiba-tiba si kecil berkata “Cape Deeehhh”.

[deFatih & umina_fatih,   https://parentingislami.wordpress.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: