Kembali (part 1)


Aku terpekur lama, menata masa depan yang terpampang dihadapanku. Memberiku sekelumit pilihan sulit tentang serentetan masa depan yang juga diluar kuasaku. Sesuatu yang tak mampu kuraba, sekedar mampu kurancang meski ku tahu takkan pernah sempurna. Pilihan-pilihan berseliweran, seolah ingin menggoda komitmenku. Mempertanyakan banyak hal yang menjadi jawaban atas kejujuran dalam hatiku. Egoku, perasaanku, mimpiku, bahkan buaian angan-anganku semua bercampur menjadi adonan yang aku sulit mengatakan rasanya. Tarik menarik antara mimpi dan realita. Dan aku memang harus terpekur, untuk merenung, dan berhenti sejenak. Bukan untuk melamun atau hanya berhenti pada tataran angan hampa yang kosong dan semu.

Namun ini tak mudah, ini situasi kompleks yang dulu sering aku hindari. Terlalu banyak hal yang bermain, hingga lidah ini tak sanggup ungkapkan rasa karena daya kecapnya yang mulai memudar. Ada banyak pilihan, dan mungkin terlalu banyak pertimbangan, begitu analisis seorang ibu tentangku. Kini, aku tak bisa mungkir apalagi berlari dari semuanya. Saat ini aku harus berbalik arah, dan menghadapinya. Menjalaninya, dan berhenti berlari. Meski ada rasa takut, meski ada berbagai rasa yang terkorbankan, aku yakin aku bisa.

Ya, berbekal satu rasa tsiqohbillah. Kemana selama ini tsiqoh bersembunyi di relung hati. Hilangkah bersama kian menurunnya yaumiku, bersama lepasnya hafalanku, bersama turunnya imanku. Dan kini, aku seperti orang yang kebingungan karena kehilangan anak satu-satunya. Iman… Ya, manisnya iman. Kemana mutiara yang berada didasar hati itu…. kemana aku harus mencarinya??

Aku mulai menapaki perjalanan ruhani kebelakang. Sungguh, setan begitu ingin menggoda kita, menjerumuskan kita dalam kedzaliman. Memanfaatkan sisi-sisi terlemah kita. Dan begitu seringnya akhirnya kita tergoda, dan menodai kesucian hati yang selama ini kita jaga. Kata-kata yang tepat untuk diucapkan saat ini, ya Rasulullah maafkan kami (meminjam headline Tarbawi terbaru). Sebuah kerinduan menyeruak hangat dalam hatiku. Kerinduan akan perjumpaan dengan sang kekasih sejati. Kerinduan akan cinta yang benar dan hakiki. Dan aku tak mau lagi berpaling.

bersambung…

dr. Anita Asmara, https://parentingislami.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: