Bunda Ayun Aku dalam Buaianmu!


BUNDA AYUN AKU DALAM BUAIANMU !

Bila kita perhatikan, pola asuh yang berbeda sangat
terlihat antara pola asuh budaya Barat serta Timur.
Kebanyakan pola asuh yang biasa diterapkan oleh
masyarakat di Barat, tampak menerapkan kemandirian
sejak anak masih kecil. Anak dibiarkan dalam kamar
terpisah sendari dini ( bahkan sejak masih bayi ),
dibiarkan untuk tertidur dalam kamarnya tersebut.
Bandingkan dengan budaya di daerah Timur, bayi
ditidurkan dengan diayun, di-ais ( bahasa Sunda ),
di-emban ( bahasa Jawa ), tidur dalam satu kamar,
bahkan satu tempat tidur dengan ayah bundanya.

Sepintas nampak perbedaan yang jelas terhadap pola
asuh tadi. Namun adakah pengaruh yang signifikan
terhadap pola tumbuh kembang anak selanjutnya?

Ternyata pola tadi sempat ditanyakan dalam bukunya
Dr.Ratna Megawangi, Character Parents space, dikatakan
bagaimana pengaruhnya bila anak dininabobokan oleh
ibunya sebelum tidur.

Ternyata jawabanya sungguh mengejutkan. Pola di Timur
yang biasa kita lakukan ternyata perlu kita syukuri.
Dikatakan bila anak lebih banyak mendapatkan dekapan
dan sentuhan fisik, ada semacam kerinduan terhadap
orangtuanya. Dan hal ini merupakan dasar bagi hubungan
harmonis di dalam kelurga. Di Barat, anak yang diberi
kamar sendiri sejak bayi, dalam perkembanganya anak
bukannya mandiri , malah cenderung untuk individualis.
Hal ini disebabkan karena sebenarnya mereka belum siap
dipisahkan dan masih merindukan ketergantungan kepada
orangtua.
Hal ini didukung juga dengan penelitian yang
memaparkan bahwa hal tadi ( meninabobokan dll ) dapat
menimbulkan efek psikologis kedekatan hubungan antara
ibu dan anak lebih erat. Anak merasa aman, mendapatkan
kasih sayang, dan sentuhan membuat fondasi
perkembangan spiritual dan emosi anak berkembang. Efek
ini juga sama jika kita mendongengkan sebuah cerita.

Pengaruh mengayun ini ternyata sangat luar biasa.
Bukankah anak mudah tertidur saat kita ayun?
Meng’ayun’ sebenarnya ‘fitrahnya’ bayi. Karena ia
terbiasa di’ayun’dalam cairan dalam rahim ibu saat ia
masih dalam kandungan. Lihat saja saat ia menangis,
pola mengayun ini sering membuat tenang (tentu bukan
menangis karena lapar atau basah ya)

Semoga tulisan ini dapat menjadi semangat bagi bunda
atau ayah, yang mungkin kelelahan saat mengayun
anaknya atau yang beranggapan bahwa mengayun anak
membuat jadi kebiasaan yang salah atau bahkan membuat
anak tergantung. Percayalah ini adalah investasi yang
berharga bagi masa depannya kelak. Karena tentu kita
berharap, anak-anak kita bukan saja tumbuh sehat
secara jasmaninya saja, tapi juga sehat mentalnya juga
sehat secara emosionalnya. Amiin

Jadi bunda…., ayunlah anak-anak kita dalam buaianmu….

dr.Kharisma Perdani K
*Public Relation WISE ( Women’s Initiative for Society
Empowerment ).
Klinik, Konsultasi dan Pelatihan, Jl.Tubagus Ismail
No.40A Bandung
*Redaktur Parenting Islami

https://parentingislami.wordpress.com

Satu Tanggapan

  1. tadix sy berpikir mgkin sebaikx anak sy sgera berhanti di ayun krn takt ketrgantungan tp stelah sy membaca arikel ini sy mengurungkan niat sy,trims uda mmberi sy plajran brharga buat buah hati sy yang pling sy syangi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: