Kisah Afifah II : Pangeran dari Negeri Dongeng


REALITA ITU
Kriteria :
– Berwajah cantik dan berkulit putih
– Profesi tertentu ( ex :Dokter, perawat, de el el )
– Usia 2 tahun atau 3 tahun dibawah saya
– Suku sunda/ Jawa

Afifah mengerenyit, keningnya berlipat-lipat, hatinya berdegup kencang. Dibolak-baliknya berkali-kali kertas dihadapannya. Mencari-cari sesuatu yang tidak juga ditemukannya. Ga salah? Yang Fifah tahu ikhwan ini adalah ikhwan aktivis, namun tak satupun kriteria da’wah dan semangat da’wah yang ia temukan dalam biodata itu. Air matanya tiba-tiba mengalir, ada luka disana. Saat ikhwan aktivis hanya punya kriteria ece-ece untuk menikah. Cantik dan berkulit putih, lagi-lagi kriteria standar yang begitu sering Afifah temukan. Memang kalau kulitnya hitam dan tidak cantik dosa ya ? ( Fifah, jangan sinis gitu atuh !!!! ) Sahabat, kecantikan dan kulit yang putih itu hanyalah jasad yang pasti akan pudar, seiring usianya. Ini bukan kriteria ukhrawi. Ini adalah sesuatu yang sangat sementara, bila kelak istri sahabat tak lagi cantik dan kulitnya kian mengkerut karena usia, apakah sahabat akan meninggalkannya dan mencari penggantinya seorang akhwat muda yang cantik dan berkulit putih ??? Jika jasadi sudah menjadi kriteria utama yang antum tempatkan di posisi utama, ini menjadi hal yang sangat berat untuk memberikan ketenangan dalam hati para akhwat. Belum lagi profesi-profesi pilihan, dengan berbagai alasan. Bukankah profesi utama kita da’i? Nahnu duat qobla kuli sa’i. Jika kriteria mendasar adalah hal ini, satu saat nanti akan sulit untuk kembali pada cita-cita awal. Kenapa sahabat menikah ???

IKHWAN JUGA MANUSIA

( Afifah…..ikhwan juga kan manusia ). Aduh siapa sih yang dari tadi ngebelain terus, Afifah masih mencak-mencak. Iya, ikhwan juga manusia biasa, yang punya banyak kecenderungan. Kulit putih, mata indah, hidung mancung, leher jenjang, tubuh langsing….cukup-cukup…afifah protes pada suara itu. Wajar ko fah, ikhwan ingin punya istri yang cantik, pintar, aktivis…Afifah termenung, seperti inikah kualitas ikhwan akhir jaman ?? Maka siapakah yang bertanggung jawab, yang mau memilih ikhwan akhwat aktivis yang tidak cakep dan tidak cantik meski ia telah menyerahkan dirinya bagi dien ini. Suara itu kembali berujar, jangan khawatir fifah, akhwat-akhwat itu akan mendapatkan ikhwan yang sholeh, demikian pula sebaliknya. Seperti Ibnu Abbas, yang meskipun tampan rupanya ia berkenan menikahi seorang shahabiyah yang tidak cantik. Atau seperti Zaid bin Haritsah yang menikahi ummu Aiman yang usianya sangat jauh lebih tua hanya karena kesholihan Ummu Aiman, yang kemudian melahirkan pemimpin perang termuda Usamah bin Zaid. Afifah masih termenung, ya…ikhwan juga manusia. Semoga yang meniatkan untuk mendapatkan pasangan hidup hanya karena jasadinya, semoga itu saja yang didapatkannya ( Iffah….jangan mendoakan yang tidak baik ).
Tiba-tiba, afifah menjadi sangat penasaran…jika ikhwan-ikwan senantiasa mengharapkan akhwat-akhwat yang cantik, memang setampan apa mereka hingga sulit menerima akhwat yang kurang cantik ??? Seperti nabi Yusufkah ? Setampan….hehe…siapa ya ??? ( soalnya cakep menurut afifah suka beda sama orang kebanyakan…menurut dia semua orang sholeh itu cakep…fah, cakep ama sholeh itu beda tau ). Sudahkah mereka bercermin dari diri sendiri ?? ( Iffah cukup…!)

bersambung…

AzSya / dr. Anita Asmara  https://parentingislami.wordpress.com

4 Tanggapan

  1. Shubhanallah, kritik yang menarik untuk para ikhwan saat ini, memang dunia sudah mendekati batas akhirnya. Terlalu sering mia mendengar kisah sedih penolakan ikhwan karena masalah fisik akhwat yang tidak cantik dan profesi yang tidak sesuai dengan kriteria ikhwan(?), begitu menyedihkan ya…semoga kita bisa mendoakan agar fenomena ini tidak menjamur dikalangan ikhwan,ketika mereka ingin mencari pasangan hidup…Allahuakbar!!!Tetap semangat ya,para akhwat. Allah pasti akan memberi yang terbaik untuk kita..:-)

  2. Pembinaan di kalangan ikhwan sepertinya harus ditingkatkan baik secara kuantitas maupun kualitas. Selain dari kita untuk mendo’akan mereka agar dapat fenomena yang ada saat ini tidak menjadi bom waktu yang dapat mengurangi kebarokahan da’wah. Tidak terpikirkah mengenai kesehatan reproduksi akhwat?tidak terpikirkah untuk menyelamatkan da’wah ketika menikah dengan akhwat yang telah berusia rawan sehingga masyarakat tidak menyalahkan da’wah ketika aktifis akhwat belum menikah diusia yang rawan.
    Tanggung Jawab sosial pernikahan juga kudu ditingkatkan selain poligami juga harus dipahamkan.Perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat juga menjadi fenomena seperti tidak sebandingnya jumlah laki laki dan perempuan saat ini.

  3. subhanallah,,rasanya ingin melihat reaksi para ikhwan ketika membaca artikel ini..gimana ya? mungkin ada yang merasaa,,ada juga yang tidak merasa kalau dirinya seperti itu. sangat bagus untuk muhasabah..jazakillah

  4. Wajar sebagai manusia, kalo bisa milih mengapa tidak. Yang perlu dipahamkan kepada ihwan bahwa ada pilihan yang utama dan pertama yaitu ahlaq. Mungkin dengan bahasa penataan dakwah, pengarahan ihwah bisa dilakukan. Dan mungkin solusi alternatif poligami bisa dimulai. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: