Jerit Hati Seorang Kartini


Jerit Hati seorang Kartini

Priyanto Hidayatullah,  https://parentingislami.wordpress.com
Sebelumnya saya mohon maaf, khususnya pada Ibu Yanti, karena baru sekarang tulisan ini dimuat. Maklum, harus bongkar-bongkar dulu kardus untuk dapat referensinya. Tulisan ini mencoba untuk menanggapi uneg-uneg beliau. Semoga bermanfaat.

Sebelum membahas tentang pandangan Islam terhadap wanita, ada baiknya kita lihat dulu bagaimana pandangan kaum lain terhadap wanita. Supaya apa? Supaya kita bisa membandingkan, apakah Islam itu lebih baik atau lebih buruk.

Wanita dalam pandangan Yunani dan Romawi
Yunani adalah peradaban yang dianggap paling tinggi dan modern pada masanya. Tapi seperti apa pandangan mereka terhadap wanita, berikut adalah jawabannya:

  • Wanita diangap penyebab segala penderitaan dan musibah yang menimpa manusia
  • Wanita tidak boleh duduk di depan meja makan sebagaimana laki-laki
  • Wanita diberikan kebebasan penuh dalam hal seksual, sehingga pelacur dan pezina menempati kedudukan yang tinggi
  • Cupid, adalah buah yang dihasilkan dari dewi yang berhubungan dengan tiga dewa padahal dia hanya memiliki seorang suami saja. Kemudian dewi itu berhubungan dengan laki-laki dari manusia sehingga lahirlah Cupid. Anehnya, Cupid dianggap sebagai dewa cinta.
  • Ikatan suami istri bukanlah suatu hal yang penting, sehingga wanita menjadi objek pemuasan nafsu masyarakatnya.


Wanita dalam pandangan Yahudi

  • Mereka menganggap wanita adalah salah satu pintu jahannam karena wanitalah yang dituduh menggerakkan dan membawa mereka kepada dosa.
  • Ketika wanita haid, mereka tidak boleh duduk dan tidak boleh pula makan-makan, dan tidak boleh menyentuh bejana karena dianggap najis. Mereka pun dilarang memasuki rumah.
  • Bagi mereka, berzina dengan wanita lain tidak dilarang bahkan dianggap sebagai bentuk taqarrub kepada tuhan mereka

Wanita dalam pandangan bangsa Arab jahiliyah

  • • Wanita tidak memiliki hak untuk mengungkapkan pikirannya
  • • Tidak berhak mendapatkan warisan
  • • Tidak berhak mengajukan usul untuk calon suaminya, semuanya terserah wali.
  • • Para bapak-bapak merasa kecewa apabila dikabarkan bahwa istrinya melahirkan anak wanita seperti yang digambarkan dalam surat An-Nahl : 58-59

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. “
Anak perempuan dikubur hidup-hidup seperti yang tercantum pada At-Takwir :8-9
“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”

Wanita dalam pandangan Islam

  • “Syurga di bawah telapak kaki Ibu”, itu artinya Islam memuliakan kedudukan seorang wanita
  • Seorang wanita mendapatkan waris
  • Seorang wanita boleh menolak jika calon suami yang ditawarkan tidak disetujuinya.
  • Seorang wanita bisa memiliki profesi sesuai dengan bidang keahliannya, asal bisa tawazun dengan perannya sebagai ibu dan istri. Sebagai contoh Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, seorang bidan. Asy-Syifa binti Al-Harits seorang guru bahkan Hindun binti ‘Uthbah seorang yang ikut berperang bersama Rasulullah SAW mengahadapi Romawi. dll
  • Kesalehan, adalah yang paling utama ditonjolkan dalam pemilihan istri.
  • Semua muslimah diwajibkan berjilbab, artinya kemudian seorang muslimah tidak lagi (dominan) dinilai dari fisik oleh orang lain, tetapi prestasi dan akhlaknya. Selain itu, wanita menjadi lebih terlindungi dari tangan jail para lelaki.
  • Wanita yang haid, tidak dikucilkan. Justru dibebaskan dari beberapa kewajiban (shalat, puasa, dll)
  • Dll

Dari sini kita bisa melihat, begitu besar perhatian Islam terhadap para wanita. Wanita begitu mendapat posisi yang mulia dalam Islam.

Lalu bagaimana cerita tentang Ibu Kartini, seorang yang begitu bersemangat belajar Islam, yang kemudian mencoba untuk membumikannya di Indonesia semampu dia?
Mari kita coba selami surat-surat beliau yang dikirimkan kepada para tokoh-tokoh Belanda

Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menarik ketika belajar mengaji (membaca AlQur’an). Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruh Kartini keluar ruangan karena Kartini menanyakan makna dari kata-kata AlQur’an yang diajarkan kepadanya. Ya betul, pada masa itu, membaca AlQur’an diperbolehkan, tetapi menerjemahkan adalah hal yang sangat tabu. Namun, setelah pertemuannya denagn Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar (Kyai Sholeh Darat) dalam sebuah pengajian keluarga, minat Kartini untuk mendalami ajaran Islam demikian tinggi. Karena pengajian itu sangat berbeda dengan pengajian-pengajian lainnya, di situ AlQur’an dibahas maknanya. Sampai-sampai suatu saat, dalam sebuah suratnya beliau berkata

“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya, tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah”, surat Kartini kepada Nyonya Abendanon 12 Oktober 1902
Inilah seorang Kartini yang tidak banyak orang tahu, walaupun tidak seluruh pemikirannya Islami karena Kyai Sholeh Darat keburu meninggal, sesungguhnya Ibu Kartini adalah orang yang berusaha untuk menerapkan nilai-nilai Islam. Sejak pertemuan dengan Kyai Sholeh Darat, terjadi perubahan besar pada diri Kartini. Pandangan terhadap masyarakat Eropa pun berubah. Berikut ini suratnya: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?”. Surat Kartini kepada Ny. Abendanon 27 Oktober 1902.

Lalu apa cita-cita kartini, berikut ini suratnya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak peremupuan, BUKAN SEKALI-SEKALI KARENA KAMI MENGINGINKAN ANAK-ANAK PEREMUPUAN ITU MENJADI SAINGAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN HIDUPNYA. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: MENJADI IBU, PENDIDIK MANUSIA YANG PERTAMA-TAMA”. Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902.

Itulah perjuangan Kartini, itulah cita-citanya. Bukan! Sama sekali bukan mengenakan konde-konde atau lipstik merah di bibir disertai bedak tebal yang menempel di pipi seperti yang terjadi pada anak-anak sekarang ini. Kini sudah saatnya bagi kita untuk berbagi secara proporsional, karir dan keluarga, umat dan anak, seorang professional dan seorang ibu/ayah.

Wallahu’alam bishawwab

Daftar Pustaka
Asma Karimah, 2001. “Tragedi Kartini : Sebuah Pertarungan Ideologi”, Bandung: Asy Syaamil
Mahmud Mahdi Al Istanbuli, Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi, tt. “Wanita-Wanita Teladan di Masa Rasulullah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: