Pra Nikah : Membeli Syurga (part 2 – tamat)


I Membeli Syurga

Semua aktivitas adalah perjuangan dan jihad. Aku membrain washing benakku bahwa pernikahan adalah ladang jihad, tak sekedar angan-angan keindahan meski itu janjiNya. Maka segala perbekalan yang harus disiapkan adalah perbekalan seorang mujahid. Perbekalan menuju perang Badr. Ya, satu perbekalan yang harus terus disemai dan diperjuangankan…, yaitu keimanan. Bukankah, Allah telah membuktikan berapa banyak orang yang sedikit dapat mengalahkan yang banyak dengan bekal keimanan dan kestiqohan. Maka modal awal adalah dengan senantiasa memperbaharui keimanan dan ketaqwaan yang ada dalam diri kita. Karena cita-cita kita adalah mendapatkan kebaikan, maka yang harus kita persiapkan adalah selaksa kebaikan dalam diri kita.


Sahabat, perjuangan da’wah kita tak sekedar pada ujung cita-cita mendapatkan pasangan yang sholeh dan terbaik. Namun lebih dari itu, cita-cita yang jauh lebih besar. Yaitu kebangkitan Islam. Maka, janganlah hari-hari kita hanya terhanyut dalam keinginan, mimpi dan angan-angan semu. Tanpa mengesampingkan fitrah yang muncul dalam hati kita, kerinduan itu bolehlah hadir. Namun, jangan sampai kita dilenakan, karena amanah kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Jagalah senantiasa hati kita, untuk menisbatkan satu cinta hanya padaNya. Untuk memenuhi ruang fikir, aql dan ruh kita dengan selaksa tsiqohbillah. Dengan menggantungkan satu harapan hanya padaNya. Dan aku pun senantiasa mencoba memperjuangkan hal ini, meski berat terasa… Namun bukankah Dia begitu dekat. Tuk menguatkan punggung kita menanggung semua beban yang ada. Sungguh jihad amal lebih sulit dari jihad kata-kata, namun bukankah surga memang mahal…, dan kita akan terus memperjuangkannya.

Seperti orang asing demikian pula kita, berbekal ketsiqohan dan keimananan meski kerap dalam kebingungan. Ketika sampai di sebuah persimpangan… Persimpangan kehidupan yang benar-benar membutuhkan perenungan mendalam. Keputusan yang kita buat… Mengenai jalan mana yang harus di tempuh … Merupakan penentu arah kehidupan kita selanjutnya. Penentu keberhasilan cita-cita dan idealisme yang selama ini dibangun. Tentang pernikahan, tentang sebuah ikatan pertama yang kupersembahkan pada da’wah dan tentang selaksa cinta yang syar’i dan menenangkan.

Maka tentang pernikahan da’wah, akan jadi cerita panjang. Penuh onak, berliku, dan sedikit orang yang mau menapaki jalan ini. Menikah adalah menjadi kaya, dengan azzam, iltizam, hamasah, dan segenap jihad yang membara. Aku sudah pernah menikah, dengan da’wah ini. Juga tak keberatan dinomor duakan setelah da’wah ini. Ini adalah idealisme yang hadir hari ini, namun doakanlah agar idealisme ini yang terus hadir dalam hari-hari kedepan. Tuk terus memperbaiki niat, menyempurnakan amal untuk satu cinta mahabbatullah.

Maka doktrin hari ini adalah jihad memperbaiki diri, menyiapkan segala perbekalan untuk berjihad. Karena pernikahan yang kucari adalah perniagaan untuk membeli jannahNya. Menikah adalah kekuasaanNya (yang bisa jadi didunia ini ataupun kelak diakhiratNya), namun kepastian akan kematian bagi setiap insan adalah hakikat yang tak bisa terelakkan. Maka persiapkanlah segala perbekalan dan apa saja untuk jihad ini ( Q.S Al-anfal : 60 ).

II. Tsiqohbillah dan Satu Cinta

Perjalanan kehidupanku menorehkan berbagai hikmah yang kuambil dari sahabat-sahabatku. Dari berbagai kisah perjalanan yang ada, pencarian cinta, pencarian pasangan, hingga proses yang terjadi (baik gagal maupun berhasil). Satu hal pasti adalah tsiqohbillah.

Keyakinan pada Allah adalah keharusan dalam setiap langkah kita sebagai seorang muslim. Dan betapa aku masih harus sangat berjuang untuk memiliki tsiqoh ini dan merasakan manisnya iman…. Subhanallah. Evaluasi hari ini, membawaku pada kenyataan minimnya ketsiqohanku pada Rabbku, lemahnya azzamku dalam doa-doaku, dan tidak semangatnya ikhtiarku. Astagfirullah.

Sahabat, pada siapa kita menggantungkan harapan bila bukan pada Sang Pemilik Segalanya? Wasilah mendapatkan pasangan bisa dari mana saja, namun hakikat utamanya adalah saat roja (harap) kita hanya menjadi milikNya. Maka jangan kecewa bila ustadz kita, pembina kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita, atau bahkan orang kepercayaan kita belum mencarikan atau menemukan pasangan terbaik bagi kita. Jangan menggantungkan harapan pada manusia karena kau akan kecewa. Lucu terkadang, bercampur haru dan bahagia saat sahabat-sahabat kita dengan penuh semangat mencarikan seseorang yang dirasakan baik untuk kita. Hingga muncul satu pernyataan pipilih menang nulewih, koceplak menang nu pecak.. Bener ga ya nulisnya? (Azzam, jangan sampai terlalu memilih-milih hingga akhirnya bukan mendapat yang terbaik malah mendapat yang terburuk). Atau saat sebuah konspirasi untuk memberikan kebaikan bagiku, namun Allah jualah yang akan menentukan dengan kuasaNya. Jadi sahabat, jangan salah bergantung… Hehe…. Apalagi gelantungan di pohon. Gantungkan harapan besar dalam hati kita ini hanya padaNya. Mari berjihad tuk tsiqoh hanya padaNya…, karena cukuplah Allah semata… Dan betapa Ia Maha Tahu, segala kegelisahan yang berkecamuk dalam benak kita. Marilah…, siapkan senjata terbaik kita, doa dan doa, maka berdoalah…..

Sebagai seorang konsulen teori, aku faham banyak kelemahan yang ada dalam setiap pernyataanku. Ya, sekali lagi aku akan mengatakan jihad amal jauh lebih berat dari sekedar jihad kata-kata. Namun inilah hakikat jihad, tak mudah namun tak berarti kita tak mampu melakukannya. Insya Allah, berbekallah dengan sebaik-baiknya perbekalan, yaitu ketsiqohan pada Allah dalam lautan Ar RahmaanNya, RahiimNya…, dalam hari-hari takwa kita.

Jangan bersedih, saat proses kita tak berhasil, bisa jadi itu jawaban istikhoroh kita. Namun bersedihlah, jika kegagalan proses membuat kita kian jauh dariNya. Sungguh bukankah proses yang kita jalani semata untuk meraih cintaNya??? Sahabatku…, jadikan setiap proses yang antum jalani sebagai Epos untuk kian dekat denganNya, menghabiskan hari-hari dalam naungan lembaran-lembaran surat cintaNya, dan mentadrib (melatih diri) untuk pasrah, ikhlas dengan setiap keputusan terbaik dariNya.

Selalu ada hikmah… Namun setiap permasalahan yang hadir jangan sampai mengoyahkan kekuatan tsiqoh dalam diri kita. Honestly, aku belum bisa seperti ini, masih banyak kecenderungan yang bermain, pilihan-pilihan yang berkeliaran, atau harapan-harapan yang bermunculan. Namun sahabat marilah berjuang bersamaku tuk raih kekuatan ini… Tsiqohbillah, menikah dengan pilihan terbaikNya, dengan hamba terbaikNya dengan segenap kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya…. Siapapun dia hatta orang yang tidak kita kenal maupun yang kita kenal. Insya Allah.

Doktrin kedua hari ini adalah tentang Tsiqohbillah dan satu cinta…. Mahabbatullah.

“ Ya Allah, aku bermohon kepadaMu segala macam kebaikan, perilaku yang baik, meninggalkan segala macam kemungkaran. Aku mohon cintaMu, menyintai mereka yang menyintaiMu, berilah taubat, ampunan dan rahmatMu. Dan jika Engkau berkehendak menguji suatu kaum pulangkanlah daku kepadaMu tanpa diuji.” ( HR. Tirmidzi dan Tabrani ) Salah satu doa kesukaanku.

Untuk sahabat-sahabat yang tengah menjalani proses, semoga diberikan keputusan terbaikNya. Dan untuk sahabat-sahabat yang masih terus mencari, marilah memperbaiki diri. Yakinlah selalu ada jalan, dan semoga kita berlomba-lomba membangun kapling di surga untuk memberikan kemudahan bagi orang-orang yang ingin menikah.

Azzam (dr. Anita Asmara, https://parentingislami.wordpress.com)

2 Tanggapan

  1. assalamualaikum wr wb..

    mbak jazakilah khair tulisannya…

  2. indah pada waktunya, nice post

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: