Dakwah dan Keluarga: Kesempurnaan Iman Seseorang (part 2 – tamat)


Menyambung tulisan sebelumnya, saya lanjutkan dalam baris-baris kalimat berikut ini

Tugas kita sekarang adalah melanjutkan apa yang sudah ditanam, dengan tugas terbesarnya adalah memimpin dunia, mengajak seluruh manusia kepada sistem Islam, membimbing mereka kepada cara hidup Islam, kepada ajaran yang baik, karena tanpa Islam manusia tidak mungkin mendapatkan bahagia. Berat sekali tugas kita itu. Pertanyaannya sekarang adalah, darimana kita mulai?

Tentu saja dari diri pribadi dan diri-diri yang ada di sekitar kita; keluarga, teman jauh dan dekat, kerabat dan orang yang kita kenal atau belum kita kenal. Sebagaimana dahulu Rasulullah memulai mendakwahkan kalimat Laa illaha Illallah dengan mentarbiyah diri-diri asbiqunal awwalun di rumah Al Arqam. Beliau tidak mendahulukan membangun negara atau kekhalifahan, tapi dengan membangun jiwa-jiwa yang merupakan motor utama dari setiap kebangkitan dan pergerakan. Bangun orangnya! dengan sendirinya kekhalifahan akan terbentuk. Dan itulah yang jalan dakwah ini lakukan, mentarbiyah diri-diri pribadi, kemudian keluarga, kemudian masyarakat, kemudian negara, kemudian kekhalifahan: khalifah fil ardi sampai pada khalifah fil alam. Persis sama dengan apa yang dilakukan Rasulullah!

Mengapa sebelum mengenal dakwah jiwa akan terasa kosong? Ternyata karena keimanan kita belum sempurna. Ternyata menjadi seorang mu’min tak cukup shalat, puasa, birul walidain dan sederetan ibadah habluminallah saja. Tapi satu lagi, yaitu dakwah, saling nasehat menasehati di jalan kebenaran dan mencegah kemungkaran. Dakwah adalah potongan jiwa yang harus kita pilih untuk melengkapi keimanan diri, hingga lengkaplah sudah setengah dien. Ya, setengah dien, hanya setengah, karena setengahnya lagi hanya bisa didapatkan ketika kita sudah berkeluarga. Misi besar dakwah ini adalah membangun umat baru, yaitu khairu ummah. Pilar pertamanya adalah para kader Islam yang militan. Pilar kedua adalah keluarga-keluarga da’wah yang menjadi marja’ bagi masyarakat.

Berbicara mengenai keluarga, selain sebagai marja’ bagi masyarakat, keluarga adalah madrasah dakwah. Madrasah tempat mentarbiyah mujahid dan mujahidah kecil untuk siap menegakan kalimat Laa Illaha Ilallah atau dengan kata lain untuk siap berjihad. Keluarga adalah marhalah dakwah kedua setelah kita memperbaiki pribadi diri. Selain sebagai penyempurnaan dien seseorang, keluarga memiliki kedudukan penting dan esensi dalam dakwah.

Keluarga adalah sebuah perjanjian dakwah ketika dua potensi manusia disatukan sehingga menjadi kekuatan besar yang siap memberi kontribusi untuk dakwah.
Keluarga adalah perwujudan ibadah dengan mencontoh sunah Rasul-Nya.
Keluarga adalah sebuah institusi tempat merauk amal ketika suami dan istri saling berlomba memberi kebaikan.
Keluarga adalah madrasah tempat jundullah kecil belajar tentang Tuhannya, idolanya, pedoman hidupnya dan jalan jihadnya.
Keluarga adalah ”oase” tempat para Jundullah menghirup energi setelah dia lelah di medan dakwah.
Keluarga adalah benteng perjuangan yang memberikan spirit menjadi celah bagi arus kejahiliyahan yang datang dari luar.

Selain keidealismean kedudukannya dalam dakwah, keluarga merupakan perwujudan nilai fitrah kemanusiaan. Setiap diri memiliki naluri-naluri kemanusiaan yang hanya bisa disalurkan dalam sebuah institusi dakwah terkecil tersebut. Naluri sifat kebapaan dan keibuan, naluri saling berbagi kasih sayang, naluri melindung dan dilindungi dan sederetan naluri fitrah yang telah Allah berikan tidak mungkin bisa tersalurkan tanpa berkeluarga. Dan hanya dengan tersalurkannya potensi fitrahiah itulah, ketentraman dan ketenangan jiwa dan roh dapat terwujud. Hingga sakinah, mawadah warahmah bisa dirasakan setiap insan.

“Dialah Yang Menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya” (Q.S Al- A’raaf 189)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri daripada jenismu supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “(Q.S. Ar-Rum ayat 21).

Ketika seseorang menyatakan iman, maka wajiblah baginya menyembah dan meng-Illah-kan Rabbnya, kemudian menyebarkan ke seluruh penjuru dunia sampai habis masa nafasnya. “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau Muhammad, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” Meskipun Allah sudah ada dalam hati, tapi jika dakwah belum ada dalam nadi, belum lengkaplah iman seseorang.
Wallahualam.
Semoga Allah senantiasa menjaga diri dari keterlebihan dan kekhilafan kata dalam berpendapat. Hanya Allah yang maha sempurna.

Endah Silawati, Blog Parenting Islami
https://parentingislami.wordpress.com

Satu Tanggapan

  1. terasa sejuk hati ini membaca tulisan2 anda…. lam kenal saudaraku ….

    Salam kenal kembali, teh Yustia.Terima kasih atas apresiasinya. Semoga bermanfaat

    parentingislami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: