Remote Parenting


Anak di kampung, istri di kampung. Sekarang, saya sendiri merantau di negeri orang. Perancis namanya.

There is something missing. Ketidak hadiran istri dan anak sedikit banyak mempengaruhi kondisi psikologis, at least pada 1-2 bulan pertama ini. Cinta adalah berbagi; begitu kata sebuah film. Ingin rasanya berbagai kebahagiaan dengan mengajak jalan-jalan mengunjungi kota dan tempat-tempat menarik di sini. Ah betapa bahagianya. Tapi sekarang, kondisinya tidak memungkinkan persis sama seperti dulu.

BTW, walaupun terpisah oleh jarak, tugas-tugas seorang ayah dan suami tidak lah harus berhenti, bahkan harus terus berlanjut. Tidak mungkin berhenti hanya gara-gara kita di rantau dan anak kita di kampung. Salah satu tugas kita adalah mendidik dan membina anak. Ya pareting. Dan karena kami berjauhan, saya menjulukinya Remote Parenting.

Hanya beberapa ide sederhana saja yang sempat terpikir. Ide yang mungkin terlalu mentah dan tak ilmiah. Tapi tak mengapa, at least saya telah berusaha.

Kedekatan anak pada alqur’an sangatlah penting. Alqur’an adalah perisai yang sangat ampuh bagi anak untuk menghalau segala godaan kemaksiyatan yang mungkin terjadi pada anak kita. Alqur’an juga generator yang sangat canggih dalam meningkatkan level spiritualitas anak. “Kecerdasan intelektual dan emosional berakar pada kecerdasan spiritual”, begitu yang tertuang dalam buku Biarkan Kuncupnya Mekar Jadi Bunga. Itu artinya semakin baik spiritualitas seseorang, maka dia akan semakin cerdas secara intelektual dan emosional dari pada biasanya. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk anak kita?

Setor hafalan AlQur,an.

Anak diminta untuk menghafal surat-surat pendek kemudian suatu saat di setor via telepon atau skype. Sekarang banyak kok layanan telepon murah dari luar negeri ke Indonesia, salah satunya VOIPwise. Hanya dengan 2.8 cent euro, kita sudah bisa nelepon ke kampung untuk 1 menit. Atau pake skype, kita bisa ngobrol gratis tis tis, asal kita saling terhubung dengan Internet. Bahkan kalau punya webcam, kita bisa melihat anak kita dan begitu juga sebaliknya.

Nah jangan lupa pada saat hafalan, pasangan kita (istri atau suami) juga mendampingi si anak. Dan persiapkan reward bagi anak kita setiap setoran hafalan.

Ada satu kunci yang bisa membuat proses setoran hafalan ini bisa berjalan lebih lancar, yaitu setoran hafalan antara suami dan istri juga harus dilakukan. Mengapa? Karena anak pun akan melihat bahwa orang tuanya pun melakukannya. So pendidikan dengan keteladanan, begitulah kira-kira. Hal ini juga penting untuk menjaga komitmen orang tua dalam menjalankan proses ini.

bersambung…

Priyanto Hidayatullah, https://parentingislami.wordpress.com

2 Tanggapan

  1. salam kenal, blognya patut dibaca nih. Terima kasih sudah menambah pengetahuan saya.

    Sama-sama Mbak. Mohon maaf masih seadanya.

  2. Ibu dan ayahnya… ikutan hapalan dooonnnggg biar anak juga lebih semangat. Itung-itung kan perbaikan memori….

    Iya, setuju Mbak Yanti. Seperti yang tertulis di artikelnya. Kami udah nyoba. Mohon doanya supaya bisa istiqomah. Di Luar negeri kadang lingkungannya jauh dari kondusif untuk menjaga iman tetap di atas. Makanya semacam itu sangat membantu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: