Remote Parenting (2)


Menyambung tulisan pertama tentang Remote Parenting, saya mencoba berbagi ide lagi.

Dulu sewaktu masih mahasiswa, saya sempat berkunjung ke rumah salah seorang senior. Kebetulan beliau belum pulang dan saya disambut oleh putranya yang masih SD. Kebetulan sang anak cukup akraban dan senang bercerita banyak hal. Jadinya saya cukup mudah untuk ngobrol dengannya.

Saya tanya sekolah tentang sekolahnya, kesehariannya, dsb. Sampai suatu ketika, saya tanya tentang cita-citanya. Saya agak terkejut ketika sang anak mengatakan, “Mati syahid kayaknya enak”. Luar biasa, cita-cita mati syahid sudah terpatri dalam dada seorang anak SD. Siapa yang bisa menanamkan cita-cita mulai seorang muslim kepada seorang anak seperti ini sampai-sampai memiliki persepsi bahwa mati (yang pada kadang-kadang orang dewasa saja takut) itu enak. Kemudian saya berpikir, kemungkinan besar hal ini ditanamkan orang tuanya compare to sekolah atau media lainnya. Nah yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana caranya?

Saya kemudian teringat pada sebuah nasyid, saya lupa nasyid apa, yang menceritakan tentang perjalanan seorang anak bersama ayahnya di sebuah kereta. Ayahnya bercerita tentang para pahlawan Islam masa lalu. Dan hal itu begitu membekas di benak sang anak. Ya….cerita. Setelah keteladanan, cerita sangat efektif dalam membentuk anak, baik kepribadian maupun pemikirannya. Lebih efektif daripada perintah-perintah atau semacamnya.

Saya berpendapat bahwa hal ini pun bisa dilakukan oleh kita pada saat kita terpisah jauh dari anak kita. Kita bisa pilih cerita-cerita moral dan kemudian kita bacakan dengan penuh ekspresi pada anak kita. Cerita bisa kita ambil dari buku-buku cerita yang sekarang banyak beredar.

Tentunya sebelum bercerita, pengondisian perlu dilakukan agar anak kita dalam kondisi siap untuk mendengarkan cerita dan berdiskusi setelah cerita. Ya.. bisa dirayu dulu dengan makanan, hadiah atau semacamnya.

Sebuah catatan penting, selain kata-kata yang penuh ekspresi, visualisasi sangat penting bagi sang anak. Kalau tidak ada visualisasi, kemungkinan anak akan cepat bosan dan ingin segera pergi. Kita bisa bekerjasama dengan pasangan kita. Jadi MISALNYA disepakati bahwa hari ini akan membacakan cerita tentang “Sholeh anak yang baik” dari sebuah buku berjudul “Cerita untuk Anak”. Pada saat kita membacakan cerita, pasangan kita memperlihatkan gambar yang mendeskripsikan cerita tersebut.
Alternatif lain adalah, sang anak diajak untuk menonton sebuah short film islami, kemudian setelah itu mendiskusikannya. Kita bisa cari di YouTube. Kata kuncinya “Film Anak Islam”.

Allahu’alam

bersambung………..

Priyanto Hidayatullah
https://parentingislami.wordpress.com

Satu Tanggapan

  1. saya setuju dan kami berusaha memberikan bacaaan dan film islami kepada anak-anak kami. Hanya saja kami melihat produk-produk islami untuk anak kurang dalam tampilan dan suguhan cerita jika dibandingak dengan produk dari walt disney misalnya…perlu ada semangat lebih dalam membuat produk islami …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: