Kanker Leher Rahim


Kanker Leher Rahim
kanker-serviksMungkin anda sudah tidak asing lagi dengan istilah di atas. Jenis kanker Kanker yang satu ini cukup terkenal bahkan menjadi momok yang menakutkan bagi kaum hawa.So, penting banget untuk semua wanita untuk mendapatkan informasi lebih dalam tentang yang satu ini.Ok,yuk kita gali lebih dalam lagi.

Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina).

Kanker leher rahim merupakan jenis penyakit kanker paling banyak kedua di dunia yang diderita wanita di atas usia 15 tahun. Sekitar 500.000 wanita di seluruh dunia didiagnosa menderita kanker leher rahim dan rata-rata 270.000 meninggal tiap tahunnya. Untuk Indonesia, kanker leher rahim merupakan jenis kanker paling banyak yang terjadi pada perempuan.

Tapi, menurut para ahli kanker, kanker leher rahim adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dari semua kasus Bagaimanakah kanker leher rahim terjadi?

Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan sel-sel tersebut biasanya memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sel-sel tadi berubah menjadi sel-sel kanker. Selama jeda tersebut, pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel yang abnormal tersebut sebelum berubah menjadi sel kanker. Sel-sel yang abnormal tersebut dapat dideteksi kehadirannya dengan suatu test yang disebut “Pap smear test”, sehingga semakin dini sel-sel abnormal tadi terdeteksi, semakin rendahlah resiko seseorang menderita kanker leher rahim.

Apakah penyebabnya ?

Kanker leher rahim sampai kini belum diketahui penyebabnya. Namun berdasarkan penelitian terbaru,   virus HPV merupakan salah satu pemicunya.
Selain itu  factor-faktor yang diduga erat kaitannya dengan terjadinya penyakit ini. Antara lain :

  1. Berganti-ganti pasangan seksual HPV dapat menjangkiti seorang wanita jika pasangan seksualnya mengidap virus tersebut akibat berganti-ganti pasangan.
  2. Merokok. Zat nikotin yang dikandung tembakau   mempunyai kecenderungan mempengaruhi selaput lendir pada tubuh, termasuk selaput lendir mulut rahim, sehingga membuatnya rentan terhadap sel-sel kanker.
  3. Usia pernikahan (kontak seksual pertama kali). Wanita yang melakukan hubungan seksual di bawah 17 tahun rentan terkena penyakit ini
  4. Pria yang tidak disunat. Wanita yang mempunyai pasangan seksual tidak disunat lebih beresiko terkena kanker.
  5. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970)
  6. Gangguan sistem kekebalan
  7. Pemakaian pil KB
  8. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun

Gejala –  gejalanya

Perubahan prekanker pada leher rahim biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear.

Gejala biasanya baru muncul ketika sel leher rahim yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut:
– Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause
– Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)
– Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:
– Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan
– Nyeri panggul, punggung atau tungkai
– Dari vagina keluar air  kencing  atau tinja
– Patah tulang (fraktur).

Bagaimana cara mendiagnosisnya?

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut:
1.    Pap smear
2.    Biopsi
Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka pada serviks,  atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker.
3.    Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
4.    Tes Schiller
Serviks diolesi dengan lauran yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
Untuk membantu menentukan stadium kanker, dilakukan beberapa pemeriksan berikut:
– Sistoskopi
– Rontgen dada

Pengobatan

A. Pengobatan  sebelum terjadi kanker
Pengobatan sebelum terjadi kanker  tergantung kepada beberapa faktor berikut:
– tingkatan kerusakan (Lesi))
– rencana penderita untuk hamil lagi
– usia dan keadaan umum penderita.

Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut, terutama jika daerah yang abnormal seluruhnya telah diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi. Tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan Pap smear dan pemeriksaan panggul secara rutin.

Pengobatan pada lesi  sebelum bisa berupa:
1. Kriosurgeri (pembekuan)
2. Kauterisasi (pembakaran, juga disebut diatermi)
3. Pembedahan laser untuk menghancurkan sel-sel yang abnormal tanpa melukai jaringan yang sehat di sekitarnya
4. LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi.

B. Pengobatan untuk kanker serviks
Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil lagi.
1.    Pembedahan
2.    Terapi penyinaran
3.    Kemoterapi
4.    Terapi biologis

Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit.
Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Yang paling sering digunakan adalah interferon, yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.
Pencegahan

Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks:
1.    Mencegah terjadinya infeksi HPV
2.    Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur

Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:
•    Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun
•    Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin
•    Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB
•    Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker
•    Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal
•    Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks.

Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya:
– Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual.
– Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kutil kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin
– Jangan berganti-ganti pasangan seksual
– Berhenti merokok.

Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk Pap smear) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi.
dr. Ariani,  https://parentingislami.wordpress.com
Pustaka :
www. Medicastore.com
www. Seksfile.wordpress.com

2 Tanggapan

  1. tulisannya sangat menarik. Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: