Contohin dulu, dong !


cimg0258Sebentar,ya, Coleh, gumam A Fatih kepada mainan truknya yang sedang ia cuci. Aku tersenyum geli. Truk mainan dibilang soleh. Di lain waktu, adiknya yang baru berusia 7 bulan menangis, spontan ia menghampiri adiknya dan berkata,  “Kenapa cayang? Kenapa colehah?’. Dan yang paling menggelikan, suatu saat ia sedang menarik mainan truknya melewati tangga. Dan truk itu terjatuh, “Aduh,maaf,ya, katanya dengan spontan kepada truk.

Kadang saya terharu campur heran mendengarnya celotehan-celotehannya. Rasanya saya tidak pernah menyuruh dia mengatakan semua itu. Saya hanya membiasakan diri meminta maaf kepada anak-anak saya (walaupun dia masih bayi dan belum bisa bicara) untuk semua kesalahan yang saya lakukan. Misalnya ketika saya menyenggolnya, atau tak sengaja menginjak mainannya, saya biasanya berkata, “Maafin, Ummi, ya, sayang..Dan sesudah bisa berbicara,A Fatih biasanya menjawab, “Heeh..,sambil tersenyum.

Untuk panggilan, saya selalu berusaha menyebut anak-anak dengan sholeh dan sholehah, sebagai doa untuk mereka. Ternyata sebutan itu ditiru oleh anak-anakku dan pengasuhnya. Dan seiring repetisi dan konsistensi, hal itu terinternalisasi ke dalam diri mereka. Sehingga, ketika tantenya mengatakan A Fatih anak jocong (karena rambutnya jocong) ia protes, “ Bukan,… bukan anak jocong, A Fatih anak coleh!.

Dari pengalaman ini saya belajar, betapa dashyatnya energi keteladanan. Tanpa kita cape-cape menyuruh, anak akan melakukan yang kita inginkan.

dr. Ariani

parentingislami.wordpress.com

4 Tanggapan

  1. Bu Ariani, salam kenal…
    saya tertarik dengan tulisan Ibu di atas, subhanalloh memang anak adalah peniru unggul ….. Ngomong-ngomong soal panggilan sangat baik seperti sholehah- sholeh yang Ibu alami, saya punya pengalaman menarik. … anak saya (usia 21 tahun) sering mengerjakan tugas-tugasnya sampai larut malam sehingga saya wajib membangunkan dan mengingatkannya untuk sholat shubuh… Biasanya saya ketuk pintu kamarnya,dibuka dan panggil-panggil namanya. Biasanya dia tak langsung menyahut. Terinspirasi oleh teman yang sering panggil saya dengan “Ibu Solehah…”, saya panggil dia :” A soleh bangun…. shubuh nih, Aa Sholeh…..” apa yang terjadi ? Dia cepat merespon dengan menjawab “O ya…. ya….” bangunlah ia, seperti tak ada kantuk lagi dimatanya…. Saya fikir jika ini munkin ya… yang disebut memberi energi positif …..

    Salam kenal kembali, bu Tati….
    Subhanallah….Iya, saya yakin, kata-kata yang positif akan memberikan energi yang positif. Sebaliknya kata-kata yang negatif akan memberikan energi negatif. Terima kasih untuk sharingnya…, semoga menjadi hikmah untuk orang banyak.dan semoga silaturahmi kita tetap terjalin.
    dr. ariani

  2. Asw…..
    Memang, memang. Kalau ingin anak soleh, kita harus berusaha mejadi orang tua yang soleh. Dan itu tidak mudah…Tapi bukan tidak mungkin !

    Wa’alaikumussalam wrwb.
    Ya, sepakat!

    Terima kasih telah berbagi semangat

    Parenting Islami

  3. subhanallah…persis seperti apa yang sedanng saya alami bu. dua anak laki laki yang sholeh, 3 th dan menjelang 2th.kalau ‘berantem’ wajar lah namanya anak anak, saling iri,dll.namun saya sering ingat tindak tanduk mereka yang ‘ajaib’. Betul sekali kalau orang tualah pemberi contoh jitu.Jadi mari pak / bu beri contoh yang bae-bae dan berhati hatilah dalam bertindak. Seandainya kita kasar, bersalah pada mereka maka jangan malu-malu untuk meminta maaf karena itu pun akan mereka tiru

  4. Iya, setuju. Terima kasih atas sharingnya Bu. Insyaallah bermanfaat buat kita semua. Ada yang mau sharing lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: