Parenting Jarak Jauh


image005Parenting Jarak Jauh

“Mang minta buburnya satu Mang”, pintaku pada si sulung yang sedang asik mempersiapkan bubur buatku.

“Pake pedes Bi?”, tanyanya. 

“Enggak Mang, takut cakit perut”, kataku. 

“Kerupuknya yang banyak ya Mang ya. Trus pake abon dikit”, belaga seperti seorang pelanggan beneran.

“Udah belum Mang? Kok lama?”. 

“Nih Bi, sudah”, sambil disodorkannya mangkok berwarna biru.

Selang berapa lama.. dia berkata : “Gimana Bi, enak ga?”, tanyanya penuh ingin tahu.

“Wah subhanallah, enak Mang. Nambah setengah lagi dong Mang”.

…..

Begitulah sepenggal dialog antara aku dan putra sulungku. Si sulung yang sudah lebih dari 2,5 tahun punya hobby baru, berperan jadi tukang jualan. Jualan apa? Macem-macem. Kadang pernah jualan sate sambil membawa kipas ke mana-mana. Suatu waktu juga pernah jadi tukang gorengan sambil meletakkan baskom di atas kepalanya, berputar-putar keliling rumah, dan berteriak-teriak “Comro-comro. Barade-barade” (Comro-comro, ada yang mau beli?). Hihi, kadang geli meliatnya. Tapi tentunya sebagai orang tua kita tidak seharusnya menertawakan dalam artian menyepelekan, tapi justru ikut berperan serta dalam drama yang dibuatnya. Ikut menjadi pemeran sehingga pentas berjalan dengan sukses.

Tapi sesungguhnya kali ini dramanya agak sedikit berbeda. Ketika saya disodorkan bubur tersebut, saya sebenarnya tidak menerimanya. Ketika saya mengatakan enak, itu cuma pura-pura saja. Kenapa? karena saya waktu itu sedang berada jauh di negeri orang. Dipisahkan oleh dua benua yang berbeda. Anak saya sedang di Indonesia, sedangkan saya sedang melanjutkan studi di salah satu negara eropa. Kami berdua bertatap muka lewat webcam saja.

Ya, alasannya sederhana, saya tidak ingin keberadaan saya jauh dari anak membuat hubungan bapak dan anak terputus. Hubungan tersebut terlalu mahal untuk dikorbankan. Sehingga saya harus mencari berbagai cara untuk mempertahankan hubungan tersebut. Hubungan secara fisik memang tidak bisa dilakukan, tapi hubungan secara batin masih bisa diusahakan.

Kalau kita perhatikan, anak biasanya tidak ingin hal-hal yang aneh-aneh. Keberadaan orang tua menemani dirinya bermain, sering kali itu sudah lebih dari cukup. Karena yang mereka butuhkan adalah perhatian dan cinta.

Cerita di atas mungkin jadi salah satu contoh kecil. Tapi tentunya masih banyak hal lain  yang bisa kita lakukan. Misalnya saja mendengarkan dengan seksama ceritanya ketika bermain dengan teman-temannya. Keseksamaan kita dibuktikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat cerita tersebut semakin menarik. Ini juga sebenarnya saat istimewa di mana kita bisa mengarahkan anak ketika dalam ceritanya ada hal tidak baik yang dia (atau temannya) lakukan. Tidak lupa kita beri oleh-oleh dengan cerita pengalaman kita di negeri orang.

Anak juga senang  memperlihatkan karya-karyanya atau kepandaiannya. Misalnya saja pintar menyanyi, menggambar atau mengaji. Maka kita bisa respon dengan sebaik yang kita bisa. Kita bisa berikan pujian yang proporsional dan membuatnya semakin banyak berkarya.

Saya teringat setelah 6 bulan saya meninggalkan keluarga. Ketika itu  si sulung berbicara di ujung telepon, “Abi, Fatih kangen”. Subhanallah, dengernya bikin perasaan beraneka warna. Ada sedih, ada haru, ada juga senang karena si sulung masih kangen sama bapaknya. 

Ya, bagaimanapun juga, parenting jarak jauh tidaklah sempurna. Ada sisi-sisi yang tidak bisa kita penuhi. Tapi, itu sudah lebih baik daripada tidak. Karena jangan sampai terjadi, anak tidak “kenal” bapak/ibunya. Seperti yang terjadi pada beberapa keluarga di Indonesia.

Waktu itu anaknya masih kecil. Kemudian ditinggalkan untuk studi di luar negeri. Ketika pulang terjadi hal yang tidak diduga. Sang anak tahu itu bapaknya, tapi kalau ada apa-apa selalu ibunya yang dimintai tolong. Itu terjadi bahkan setelah anaknya menginjak usia remaja. Semoga Allah SWT memberikan solusinya..

Baiklah anakku. Aku akan memangkumu kembali. Setelah 3 purnama. Insyaallah..

Priyanto Hidayatullah

https://parentingislami.wordpress.com

NB: Ini adalah bagian terakhir dari 3 tulisan. Tulisan sebelumnya adalah Remote Parenting (2)

2 Tanggapan

  1. nice story bro

  2. Terima kasih .. sangat inspiratif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: