Masihkah aku ayahmu?


DSC00104

Sepuluh bulan, ya.. sepuluh bulan. Aku meninggalkan bayi perempuan kecilku yang waktu itu baru dua bulan lahir. Merantau ke negeri orang untuk sepenggal ilmu.Waktu itu, ada rasa takut, jangan-jangan anakku nanti tak kenal padaku. Berbagai upaya diusahakan agar kami bisa berinteraksi. Akhirnya teknologi kami pilih sebagai solusi. Kami beli segala perangkat yang diperlukan untuk bisa videoconferencing. Webcam dan koneksi internet yang memadai. Tidak apa keluar biaya, asal kami tetap utuh sebagai sebuah keluarga.

Setiap kali kami bertemu lewat videoconferencing, istriku selalu menunjukkan pada si bungsu, akulah ayahnya. Semoga saja tidak terjadi, peristiwa yang dialami saudara seorang teman. Setelah dia pulang studi dari luar negeri, anaknya tidak mengenalinya. Anda bisa bayangkan, seorang ibu menggendong kembali bayinya, ternyata sang bayi menangis sejadi-jadinya.

Aku melewatkan berbagai peristiwa luar biasa. Aku tidak menyaksikan ketika pertama kali anak bungsuku berdiri. Aku tidak mendengarkan ketika dia pertama kali bicara. Ada rasa sedih, rasanya kok seperti bukan orang tua. Berat sekali terasa, meninggalkan darah daging yang kucinta. Tapi mungkin itulah episode yang harus kami lalui. Disinilah kesabaran kami sedang diuji.

Sepuluh bulan sudah berlalu. Akhirnya saat itu tiba. Ketika haus rindu akan terobati oleh mata air kebersamaan. Tatkala kemarau cinta akan disiram oleh hujan pertemuan. Tapi disitulah momen yang mendebarkan. Ketika muncul sebuah pertanyaan, setelah sekian bulan aku tinggalkan, ”Adakah si bungsu mengenali ayah kandungnya?”.

Matahari telah terbenam, ketika pesawat mendarat di jalur bandara. Aku berjejal dengan para TKI yang pulang dari rantau. Dan akhirnya aku tiba, di gerbang bandara. Dari jauh kulihat istriku, wajahnya tetap manis dalam jilbab biru. Dan kupandang di sampingnya, si bungsu sedang dipangku.

Kubawa koper beratku. Kucium tangan kedua mertuaku. Tak berapa lama, tanganku dicium hidmat oleh istri tercinta. Kami berjalan menuju mobil jemputan. Sepanjang jalan, si bungsu hanya memandang. Seolah menerka-nerka siapakah aku. Dia seakan sedang mengingat kembali memori masa lalunya, menerawang. Langkah demi langkah hatiku tak karuan. Di sinilah saat yang menentukan, baginya aku ayah atau bukan.

Akhirnya aku beranikan diri. Kusodorkan kedua tanganku, kutawarkan sebuah pangkuan buat si bungsu. Kami saling berpandangan. Sesaat kami terdiam. Matanya seolah mengajukan pertanyaan, dan kujawab dengan tatapan cinta sebagai jawaban. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, si bungsu mau aku pangku. Kupeluk erat anakku. Kudengarkan detak jantungnya. Hatiku berbisik lirih: ”Ini ayahmu nak. Ayah sudah kembali. Ayah rindu padamu”

Priyanto Hidayatullah

https://parentingislami.wordpress.com

3 Tanggapan

  1. hiks..bacanya jadi pengen nangis..hiks..
    Alhamdulillah ya si bungsu mau..senangnyaaaaa^^
    bundanya hebat berarti ;p

  2. family first….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: