Masihkah Aku Ayahmu [2]


Masihkah Aku Ayahmu [2]

Hari itu aku mendapatkan cerita, dari istriku tercinta.
Cerita yang membuat hatiku terenyuh, cerita yang membuat hatiku berbunga.
Mungkin tak ada salahnya aku membaginya.

Hari itu si bungsu kebingungan.
Dia kehilangan sebuah barang.
Sepertinya barang itu sangat berharga.
Satu persatu dia tanya: nenek, bibi, bunda ataupun kakaknya, apakah mereka menemukan barang kesayangannya.

Lalu apa barangnya?
Begini ceritanya…
Sejak kakaknya sekolah di PAUD dan mendapatkan tas baru,
si bungsu mendapatkan warisan berharga, tas BATMAN milik kakaknya.
Di pagi hari, ketika kakaknya masih belum selesai mandi,
si bungsu sudah siap berangkat: pakaian lengkap, jilbab mungil dan tas BATMAN di punggungnya.
Pake jilbab tapi BATMAN tangkringannya. 
“Lucu sekali”, begitu istriku bercerita.

Tapi, hari itu, yang dia cari bukan itu.
Bukan tas BATMAN itu.
Tapi adalah foto yang biasanya diselipkan di tas kakaknya.
Di dalam foto itu ada tiga orang:
si bungsu, kakaknya, dan satu orang lagi adalah.. aku.

Aku ingat sekali dengan foto itu.
Foto yang kami ambil di sebuah studio photo di dekat rumah.
Foto itu diambil beberapa hari sebelum aku berangkat kembali menimba ilmu,
di negeri yang tiap musim dingin buminya selalu tertutupi salju.
Foto sebelum aku (untuk kedua kalinya) meninggalkan kedua anakku.
Kubawa serta foto itu untuk menemani perantauanku.
Foto itu berjudul “Aku, dan kedua mentari kecilku”.

Istriku kemudian melanjutkan ceritanya,
Sepertinya di rumah, kangen sedang mewabah.
Setiap hape bundanya berdering, spontan dia bilang “Ayah”,
berharap aku yang menelepon.
Kadang-kadang dia berbicara sendiri menggunakan HP itu
seolah-olah sedang berbicara denganku.
Dan gak tahu kenapa hari itu si kecil ngebet banget sama foto itu.
Seisi rumah gotong royong mencarikan barang itu.
Dan alhamdulillah, akhirnya foto versi mini itu ketemu.
Subhanallah, betapa gembiranya si bungsu.
Dia pamerkan foto itu pada semua orang,
seperti seorang ilmuwan yang baru saja menemukan teori tentang semesta alam.

Yang menarik adalah, ketika dia pamerkan foto itu,
jari telunjuknya tidak menunjuk pada dirinya,
tidak pula menunjuk pada kakaknya, tapi aku.
Dan sebuah kata selalu keluar dari mulutnya: “Ayah”.

Ah, Ingin rasanya kata itu aku dengar sendiri,
sebuah pengalaman yang yang tak ingin seorang ayah lewatkan:
mendengar si bungsu mengatakan “Ayah” untuk pertama kali.
Ternyata keinginan kami sama.
Sebuah sms mendarat di kotak suratku.
Kira-kira begini maknanya: “Si bungsu ingin ketemu, rindu.”

Segera saja kunyalakan presarioku. Dan kupasang webcamnya.
Kusiapkan headphone. Dan kuhubungi dengan segera.
Skype kami tersambung sempurna.

Dia di sana, sedang duduk di pangkuan bundanya.
Katanya sejak tadi dia disitu, menunggu dengan penuh asa
sambil mengenakan headphone ukuran orang dewasa.
Matanya lekat menatap wajahku.
Perlahan kuambil foto itu dari atas meja.
Kuperlihatkan lewat kamera.
Perlahan dia mengangkat tangannya.
Telunjuknya menunjuk layar.
Mulut mungilnya bersuara jernih: “Ayah”.

Ah.. sebuah kata yang begitu indah didengar,
seperti seruling Daud yang mengalun,
di tengah padang rumput dan pepohonan yang rimbun.

Aku tersenyum haru.
Kuabadikan kata itu lewat telepon genggam.
Diam-diam hatiku berbisik:
“Iya, sayang.
Ini Ayah…
Ini Ayah…
Insyaallah, Ayah sebentar lagi pulang.
Tunggu Ayah dua minggu lagi”

Priyanto Hidayatullah
https://parentingislami.wordpress.com
Masihkah Aku Ayahmu [1]

13 Tanggapan

  1. Lho judulnya koq, masihkah aku ayahmu, seolah anak yg ga peduli lagi dgn ayahnya, tbalik kan??

    Baru saja beberapa hari saya baca email ttg isi hati seorang ayah. terharu bacanya.

    Tks

  2. Bukan..bukan itu maksudnya.
    Ini bercerita tentang apakah si anak masih mengenal si ayah.
    Sequelnya bermula dari “Masihkah Aku Ayahmu [1]”.
    Makanya judulnya seperti itu.

    Priyanto

  3. yaallah… terharu saya baca nya

    si bungsu sekarang berapa usianya …?

  4. Sekarang mau 1,5 tahun. Terima kasih sudah berkomentar.

    Priyanto

  5. Wuaa,,aku nangis bacanya Kang…

  6. Subhanallah..cantik sekali kisahnya..saia terharuu T_T
    semoga sekarang udah ketemu si bungsu ya ayah^^
    ijin bwat share kisah indahnya ya…supaya para ayah/ pria2 lain tahu ada kisah indah seperti ini, dan mereka bisa lebih menghargai arti “kedekatan”^^

  7. subhanallah sekali… ias yang sekarang di perantauan teringat ayah di kampung, yang selalu memulai aktifitas di pagi hari, mengajar anak-anak SD yang jaraknya 18Km dari rumah kami, demi kuliah ias…. ias sayang ayah ias….

  8. kisahnya mirip seperti ku kang, aku terharu sekali, dari awal sampai akhir tak kuasa ku menahan air mata ini,
    semoga kita menjadi ayah yang baik buat anak2 kita,

  9. Subhanalloh, semoga kelak keluarga yang ku bentuk bisa seharmonis itu,

  10. Praise The Lord,,,,. sebuah pengalaman Ayah dan si Bungsu yang sangat menarik dan sangat berkesan,,,. mudah-mudahan kisah ini dapat menjadi berkat bagi kita semua,,,.

    God Bless You All,,,.

  11. kisah yg mengharukan,sama dgn sy,krn tugas belajar istri dan anak sy harus ditinggalkan,smoga kesabaran kita mendapatkan balasan yg layakdr ALLAH SWT,kt bisa menjadi ayah yg baik dan mendapatkan anak yg shaleh – sholehah,serta sehat dan slalu mendapatkn perlindungan-NYA…amin…

  12. aku bangga jadi seorang ayah dari dua orang bidadari kecilku dirumah,…..dan demikian juga ayah 2 yang lain,..sukses ya

  13. aku bangga menjadi ayah dari 2 orangbidadari dirumahku,…aku yakini itu dengan ayah2 yang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: