Ketika anak hilang percaya diri

CIMG0927

Wajahnya pucat, matanya nanar, mulutnya terdiam, pandangannya tertuju pada telunjuk-telunjuk yang terarah pada mukanya. Badannya dihentakkan, kepalanya di’degung’kan, kakinya ditendang, teriak yang memekakkan nyaring terdengar di telinganya. Mereka semua memaki, kata-kata kotor keluar dari mulut mereka. Entah kenapa, teman-teman sekolahnya berlaku seperti itu. Apa salah anak itu sehingga teman-temannya merasa punya hak untuk menghakimi, mencaci dan memaki.

Dia hanya sendirian, berhadapan dengan belasan temannya yang garang bagai singa yang kelaparan. Kulerai mereka. Terus terang aku emosi. Aku teriaki mereka, ini sudah keterlaluan.

Kemudian anak itu berjalan, menyusuri jalan kampung yang kering oleh matahari. Kepalanya menunduk ke bawah. Mencari… masih adakah cinta di bumi. Hatinya hancur, harga dirinya ambruk, tak ada lagi percaya diri.

Iklan

Ayah kita

Ayah kita

cimg1000Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.

Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ? Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab : Sebab aku Laki-laki. Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam : Aku tidak mengerti. Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran

Baca lebih lanjut

AMANAH TERINDAH

Hanya ingin berbagi cita
Aku ingin jadi amanah terindah
Untuk dienku

Aku ingin menjadi amanah terindah
Yang hadir tuk buktikan Allah SWT tak salah memilihku
Tuk jadi pejuang al haqNya

Untuk orang-orang yang mengenalku
Untuk ayah dan ibuku
Aku ingin menjadi amanah terindah yang pernah mereka miliki dalam Kehidupan yang luar biasa ini
Baca lebih lanjut

Ibuku Memang Luar Biasa

Ibuku seorang biasa
Yang memasak untuk anak dan suaminya
Dengan kompor minyak yang menghitam
Kadang sampai jam 2 malam

Ibuku seorang biasa
Yang mencuci pakaian anak dan suaminya
Sambil bersepatu bot
Karena kulit kakinya yang sudah rusak

Ibuku seorang biasa
Yang membuang sampah di kebun samping rumah
Sambil membawa cangkul butut dan berat
Baca lebih lanjut

Kesendirian

KESENDIRIAN

Kala kesendirian adalah himpunan suka cita

Dan kumpulan duka lara

Maka melihatmu tetap berdiri tegar

Menggetarkan asaku

Menyalakan hamasahku

Perjuangan takkan pernah sama

Tanpa saudara-saudara seperjuangan

Yang pernah mengukir janji jihad bersama

Baca lebih lanjut

Puisi untuk Ibu (2)

IBU…
Theme Song : “Raihan – Odei Anak”

Perih dan pilu ketika kau mengandungku
Meregang, mengerang ketika kau melahirkanku
Tapi ada seyum tulus di wajahmu
Seyum bahagia atas lahirnya anak tercinta
Merah merona bagai mawar di taman syurga

Baca lebih lanjut

Kisah haru : Nilai sebuah Apresiasi Bagi Anak

Dalam sebuah buku berjudul “Seni Mendidik Anak” karya Syaikh Muhammad Said Mursi, ada hal yang sangat menarik tentang Apresiasi untuk anak. Berikut kutipannya:

Anak haruslah merasa bahwa dirinya merupakan kebanggan orang tua, keluarga, guru, dan orang lain.

Dia harus diperlakukan sebagai seorang yang berharga, serta keberadaaan dan usahanya harus dianggap diperlukan oleh orang lain. Untuk membangkitkan perasaan tersebut dapat dilakukan dengan melibatkannya dalam memberikan bantuan yang sederhana kepada orang lain yang ada di sekelilingnya, dilibatkan dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah sesuai kemampuannya. Seperti menyapu, menghilangkan debu, membuang sampah, membawakan sesuatu untuk ibu dan ayahnya, membawa sesuatu untuk tamu dan kerabat ketika ada kunjungan keluarga dan sebagainya.

Tidak dibenarkan bila seorang bapak berkata kepada anaknya, ‘Pergilah kamu, karena kamu masih kecil, jangan banyak bicara’. Atau melarangnya untuk bermain besama kakaknya, seraya dikatakan kepadanya, “Kalau kamu sudah seumur dengan saya, kamu baru boleh bermain dengan saya. Nanti kalau sudah besar baru boleh bermain dengan saya”. Jangan salahkan apabila ia sering pergi bersama anak perempuan tetangga yang suka menghargainya, atau ia pergi ke lingkungan yang rusak, karena di sana ia merasa dihargai, atau lebih mencintai gurunya karena ia suka memujinya ketika ia menjawab pertanyaan, atau bermain dengannya pada mata pelajaran olah raga. Sehingga gurunya menjadi panutan yang utama dan bukan bapak atau saudaranya

Saya jadi teringat suatu ketika dalam sebuah forum reuni, di sana kami saling curhat. Salah seorang teman menceritakan tentang masa lalunya. Allah menakdirkan kakinya tidak “sempurna”. Ada perasaan minder pada dirinya, beliau melihat dirinya berbeda, dirinya tidak “sempurna”. Tapi ternyata, itu tidak membuatnya putus asa. Beliau lakukan berbagai hal untuk membuat dirinya berarti dan membuat orang tuanya bangga. Alhamdulillah, di sekolahnya, beliau masuk 10 besar. Tentunya beliau senang. Guru dan temannya memberikan selamat kepadanya. Namun, ketika menyampaikan pada ayahnya, ternyata jauh dari harapan. Tak ada ucapan selamat. Dingin. Kering. Kecewa ? sudah pasti.

Namanya kehidupan, tentu ada pasang surutnya. Suatu ketika, ternyata prestasi beliau tidak seperti biasanya. Beliau tidak masuk 10 besar di kala itu. Dan ayahnya marah luar biasa. Kata demi kata bertubi-tubi menghujani dirinya. Padahal, baru sekali tidak masuk 10 besar. Dan beliau pun masih di rangking belasan, bukan di papan bawah. Tapi seolah itu adalah kesalahan fatal yang tak termaafkan. Beliau menangis. Hatinya hancur. Pikirannya kalut. Di benaknya berseliweran pikiran-pikiran buruk. Beliau berpikir, di saat mendapat prestasi, tak ada sedikitpun penghargaan. Padahal itu dicapai dengan perjuangan luar biasa. Tapi, ketika sedikit saja ‘kesalahan’, luapan kemarahan seakan tak terbendung. Dan itu dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Baca lebih lanjut