Parenting Islami on AIR: Baiti Jannati

Parenting Islami on AIR: Baiti Jannati

Cinta! Ya, memang itulah cinta! Satu kata berjuta makna, satu benda
penyebab jutaan cerita! Karena cinta manusia terikat, kuat terikat
dalam naungan penghambaan kepada-Nya. Bagaimanakah cinta itu? Sebelum
sauh diangkat, sebelum layar terkembang, sebelum bahtera berlayar, mau
kemanakah cinta ini akan kita bawa?

Sebuah program baru yang menguak dan mengupas habis tentang kehidupan
berumah tangga yang bersemai dengan bunga cinta

BAITI JANNATI
Tema: Sebelum kupinang dengan basmalah, dan kau terima dengan hamdalah.
Bersama Redaktur Blog Parenting Islami, dr. Ariani.
Stay tune! Sabtu, 23 Februari 2010
Dari pukul 20:00 – 22:00 WIB

Only on: http://radiopengajian.com

Warning! Acara ini bisa membuat para mojang-bujang dan para ayah-bunda ketagihan!!

Iklan

AMANAH TERINDAH

Hanya ingin berbagi cita
Aku ingin jadi amanah terindah
Untuk dienku

Aku ingin menjadi amanah terindah
Yang hadir tuk buktikan Allah SWT tak salah memilihku
Tuk jadi pejuang al haqNya

Untuk orang-orang yang mengenalku
Untuk ayah dan ibuku
Aku ingin menjadi amanah terindah yang pernah mereka miliki dalam Kehidupan yang luar biasa ini
Baca lebih lanjut

Pra Nikah : Membeli Syurga (part 2 – tamat)

I Membeli Syurga

Semua aktivitas adalah perjuangan dan jihad. Aku membrain washing benakku bahwa pernikahan adalah ladang jihad, tak sekedar angan-angan keindahan meski itu janjiNya. Maka segala perbekalan yang harus disiapkan adalah perbekalan seorang mujahid. Perbekalan menuju perang Badr. Ya, satu perbekalan yang harus terus disemai dan diperjuangankan…, yaitu keimanan. Bukankah, Allah telah membuktikan berapa banyak orang yang sedikit dapat mengalahkan yang banyak dengan bekal keimanan dan kestiqohan. Maka modal awal adalah dengan senantiasa memperbaharui keimanan dan ketaqwaan yang ada dalam diri kita. Karena cita-cita kita adalah mendapatkan kebaikan, maka yang harus kita persiapkan adalah selaksa kebaikan dalam diri kita.

Baca lebih lanjut

Pra Nikah : Membeli Syurga

MEMBELI SURGA

Hari ini aku kembali dalam sebuah perenungan panjang. Muhasabah dan perhentian sejenak. Saat aku mulai mencari sebuah inspirasi dari sebuah perjuangan. Saat aku kembali bertanya-tanya tentang amal dan keikhlasan. Dan saat aku mulai mengerti akan hakikat jihad amal yang tak sekedar jihad kata-kata.

Entah berapa banyak tanya yang kerap dilontarkan orang-orang terdekatku, sahabat-sahabatku, adik-adikku, teman seperjuangan, maupun orang-orang yang sekedar mengenalku selintas dalam kehidupannya. Tentang pernikahan. Tentang menyempurnakan bulan sabitku menjadi bulan purnama. Tentang sebuah ikatan…. Subhanallah.
Berbagai argumen dan motivator menjadi bumbu dalam setiap percakapan yang ada denganku untuk menyegerakan sebuah kebaikan. Hingga ide-ide konyol, kalau tak mau disebut nekad. Masya Allah…, hingga seperti itukah??

Baca lebih lanjut

Kisah Afifah II: Pangeran dari Negeri Dongeng (part 2 – tamat)

KEMANA HARUS DICARI

Afifah termenung, entahlah rasanya ada yang salah dengan hal ini. Entah berapa kali biodata yang masuk untuk binaannya maupun proses-proses yang dibantunya membuatnya mengelus dada. Request-request yang ada kadang membuat hatinya pilu.Rindu kembali pada asolah da’wah, rindu sahabat-sahabatnya terdahulu, yang menikah karena ketsiqohan dan kepentingan da’wah. Disatu lini da’wah yang kuat sekalipun, disebuah laboratorium da’wah yang menghasilkan para aktivis kini terkuak suatu hal yang patut dicermati. Saat para aktivis disibukkan dengan urusan ini, take in pasangan, memilih sendiri dengan menjalankan berbagai manuver , biodata bertebaran entah lewat jalur apa, virus merah jambu, hubungan tanpa status, hingga kelonggaran yang diberikan terkadang oleh para pembinanya sendiri. Sementara luka da’wah kian menganga di mana-mana. Wahai sahabatku, sebenarnya apa yang dicari….hendak kemana kaki ini melangkah….

Fifah, dari segi syar’i tidak masalah ko berbagai ikhtiar yang mereka lakukan. Jangan terlalu ekstrim dan idealis. Itu cuma ada di buku dan negeri dongeng. ( Tapi kan ada sistem yang mengatur kita, fifah tetap keukeuh ) Ayolah fah wake up, jangan terus bermimpi…jaman sudah berubah. Kita tak lagi seperti dulu. Mereka terkadang memberikan banyak kriteria, dan disisi lain juga banyak ikhwan yang tidak siap menikah meski tidak ada alasan yang membuat mereka menunda pernikahannya. Semakin sedikit yang siap dengan resiko menikah dini. Sudahlah fah…

Fifah memonyongkan mulutnya, cemberut, beberapa hari ini dia uring-uringan. Ia sangat menyadari bahwa tidak mudah bertahan dalam idealisme. Melewati jalur syar’i yang telah ada. Mentsiqohkan seorang mujahid pada RabbNya melalui mekanisme dan cara terbaik yang telah difasilitasi oleh da’wah. Namun jika kebanyakan para aktivis mulai meninggalkan sistem ini maka siapakah yang akan menempuhnya? Saat ketsiqohan menjadi suatu harga mahal atas pilihan. Fifah menerawang, ia tahu saat menuliskan ini mungkin akan banyak pro dan kontra. Atau bahkan akan ada yang berkata, fifah buktikan saja, lagi-lagi tentang menikah. Namun fifah tahu ia sedang memperjuangankan yang benar, mencoba memahamkan sesuatu yang asing pada sahabat-sahabatnya, meski usia yang mungkin terlalu jauh untuk dapat memahami. Fiffah ingin berbagi tentang kehangatan visi da’wah dan pernikahan, kelak semoga ini menjadi bekal bagi kita semua.
Baca lebih lanjut

Kisah Afifah II : Pangeran dari Negeri Dongeng

REALITA ITU
Kriteria :
– Berwajah cantik dan berkulit putih
– Profesi tertentu ( ex :Dokter, perawat, de el el )
– Usia 2 tahun atau 3 tahun dibawah saya
– Suku sunda/ Jawa

Afifah mengerenyit, keningnya berlipat-lipat, hatinya berdegup kencang. Dibolak-baliknya berkali-kali kertas dihadapannya. Mencari-cari sesuatu yang tidak juga ditemukannya. Ga salah? Yang Fifah tahu ikhwan ini adalah ikhwan aktivis, namun tak satupun kriteria da’wah dan semangat da’wah yang ia temukan dalam biodata itu. Air matanya tiba-tiba mengalir, ada luka disana. Saat ikhwan aktivis hanya punya kriteria ece-ece untuk menikah. Cantik dan berkulit putih, lagi-lagi kriteria standar yang begitu sering Afifah temukan. Memang kalau kulitnya hitam dan tidak cantik dosa ya ? ( Fifah, jangan sinis gitu atuh !!!! ) Sahabat, kecantikan dan kulit yang putih itu hanyalah jasad yang pasti akan pudar, seiring usianya. Ini bukan kriteria ukhrawi. Ini adalah sesuatu yang sangat sementara, bila kelak istri sahabat tak lagi cantik dan kulitnya kian mengkerut karena usia, apakah sahabat akan meninggalkannya dan mencari penggantinya seorang akhwat muda yang cantik dan berkulit putih ??? Jika jasadi sudah menjadi kriteria utama yang antum tempatkan di posisi utama, ini menjadi hal yang sangat berat untuk memberikan ketenangan dalam hati para akhwat. Belum lagi profesi-profesi pilihan, dengan berbagai alasan. Bukankah profesi utama kita da’i? Nahnu duat qobla kuli sa’i. Jika kriteria mendasar adalah hal ini, satu saat nanti akan sulit untuk kembali pada cita-cita awal. Kenapa sahabat menikah ???

IKHWAN JUGA MANUSIA

( Afifah…..ikhwan juga kan manusia ). Aduh siapa sih yang dari tadi ngebelain terus, Afifah masih mencak-mencak. Iya, ikhwan juga manusia biasa, yang punya banyak kecenderungan. Kulit putih, mata indah, hidung mancung, leher jenjang, tubuh langsing….cukup-cukup…afifah protes pada suara itu. Wajar ko fah, ikhwan ingin punya istri yang cantik, pintar, aktivis…Afifah termenung, seperti inikah kualitas ikhwan akhir jaman ?? Maka siapakah yang bertanggung jawab, yang mau memilih ikhwan akhwat aktivis yang tidak cakep dan tidak cantik meski ia telah menyerahkan dirinya bagi dien ini. Suara itu kembali berujar, jangan khawatir fifah, akhwat-akhwat itu akan mendapatkan ikhwan yang sholeh, demikian pula sebaliknya. Seperti Ibnu Abbas, yang meskipun tampan rupanya ia berkenan menikahi seorang shahabiyah yang tidak cantik. Atau seperti Zaid bin Haritsah yang menikahi ummu Aiman yang usianya sangat jauh lebih tua hanya karena kesholihan Ummu Aiman, yang kemudian melahirkan pemimpin perang termuda Usamah bin Zaid. Afifah masih termenung, ya…ikhwan juga manusia. Semoga yang meniatkan untuk mendapatkan pasangan hidup hanya karena jasadinya, semoga itu saja yang didapatkannya ( Iffah….jangan mendoakan yang tidak baik ).
Tiba-tiba, afifah menjadi sangat penasaran…jika ikhwan-ikwan senantiasa mengharapkan akhwat-akhwat yang cantik, memang setampan apa mereka hingga sulit menerima akhwat yang kurang cantik ??? Seperti nabi Yusufkah ? Setampan….hehe…siapa ya ??? ( soalnya cakep menurut afifah suka beda sama orang kebanyakan…menurut dia semua orang sholeh itu cakep…fah, cakep ama sholeh itu beda tau ). Sudahkah mereka bercermin dari diri sendiri ?? ( Iffah cukup…!)

bersambung…

AzSya / dr. Anita Asmara  https://parentingislami.wordpress.com

My True Love

Tanpa kita sadari kita hidup dalam dunia yang miskin cinta hakiki. Cinta menjadi sesuatu yang terlalu sederhana hingga hanya terukur materi dan kehormatan. Cinta tak lagi suci, terlebih terhadap sesama. Namun sungguh, ada cinta yang luar biasa, bagaikan mutiara dari dasar lautan yang begitu bercahaya. Yang menanti setiap hati yang bening untuk mampu memilikinya.
“ ….adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah….” ( Q.S 2 : 165 )

Seorang ulama besar bernama Dr. Yusuf Qhardawi menuliskan dalam bukunya, saudaraku, cinta pada Alloh dan RasulNya ialah cinta yang seharusnya kita perjuangkan dalam hidup kita. Seharusnya kehidupan kita sebagai seorang muslim dijadikan sebagai kumpulan dari lembaran-lembaran ekspresi cinta yang tercatat pada setiap waktu yang kita habiskan.

Pengorbanan dalam cinta adalah sesuatu yang wajar. Harta dan jiwa raga serta segala macam pengorbanan menjadi konsekuensi yang logis bagi orang yang sudah gila cinta. Sahabat, karena itulah , besar dan kecilnya pengorbanan seorang mukmin juga menjadi tolak ukur seberapa besar cinta dan keimanan kepada Allah dan RasulNya.

Mungkin kita telah begitu sering mengkhianati cinta pada Allah dan Rasulullah, hingga pandangan manusia seringkali menjadi tujuan akhir kita. Sahabat, berapa banyak waktu kita yang terbuang untuk mencari cinta lain yang melenakan dan melalaikan ? Marilah bermuhasabah dan bercermin dari cinta-cinta para sahabat. Sungguh dalam satu qolbu tak ada dua cinta.

Sahabat, Rasulullah bersabda,” sesungguhnya seseorang itu bersama yang dicintainya.” Maka mengapa masih tergoda cinta lain. Yakinlah, ada cinta dalam hatimu. Cinta Ilahi. Siramilah dengan keimanan dan ketaqwaan agar cinta itu terus berkembang hingga masa perjumpaan dengan Sang Kekasih.

Jangan terlena apalagi tertipu, cinta semu yang tak abadi. Karena kau mutiara, raihlah cinta hakiki yang terang dan bercahaya, bukan cinta buta yang menyesatkan. Wallahualam bishawab.

( Azsya / dr. Anita Asmara  https://parentingislami.wordpress.com)