ASI dalam Sirah Nabawiyah dan Para Sahabat

ASI dalam Sirah Nabawiyah dan Para Sahabat

(Ungkapan Cinta Rasul dan Para Sahabat)

Sebuah kisah diriwayatkan oleh Muslim, ketika datang kepada Nabi seorang wanita dari Bani Ghamidiyah yang mengemukakan pengakuannya di hadapan di hadapan beliau bahwa dirinya telah mengandung dari hasil perbuatan zina dan meminta pada Nabi untuk dihukum, Nabi bersabda kepadanya :                    “Pulanglah kamu sampai kamu melahirkan! Setelah bersalin ia datang lagi seraya menggendong bayinya dan berkata’ “wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya lahirkan”.

Akan tetapi nabi bersabda kepadanya, “Pulanglah kamu, susuilah dia sampai kamu menyapihnya.” Setelah wanita itu menyapih bayinya, ia datang dengan membawa bayinya yang saat itu dalam keadaan memegang roti di tangannya, lalu ia berkata, “Wahai nabi Allah, bayi ini telah saya sapih dan kini dia telah dapat memakan makanan.”

Nabipun memerintahkan agar bayi itu diserahkan kepada salah satu kaum muslimin dan memerintahkan agar dibut galian sebatas dada untuk menanam tubuh wanita tersebut, kemudian Rasulullah memerintahkan kepada orang-orang untuk merajamnya dan merekapun segera merajamnya (HR. Muslim. Kitabul Hudud, no.3208).

Subhanallah, suatu kisah yang menggambarkan ungkapan kasih sayang Nabi terhadap seorang bayi,walaupun sang bayi terlahir dari hasil hubungan zina. Jika seorang wanita pezina pun diperitahkan untuk menyempurnakan persusuan, apalagi seseorang, yang mengandung bayi dari pernikahan yang sah.

Para shahabat sepeninggal Rasulullahpun memberikan perhatian yang besar terhadap menyusui. Diriwayatkan bahwa suatu hari ketika Umar bin Khattab berkeliling di mushala-mushala, ia dapati anak-anak yang sedang menangis. Umar lalu berkata kepada ibunya, “Susuilah dia”. Wanita itu menjawab, “Sesungguhnya amirul mukminin (Umar) tidak mengharuskan menyusui seorang anak sampai saatnya disapih, dan saya sudah menyapihnya. “Lalu Umar berkata, “Sungguh saya hampir saja membunuh anak itu. Mulai saat ini susuilah dia. Sebab amirul mukminin akan mengharuskan hal itu “. Akhirnya, Umar bin Khattab mengharuskan menyusui sejak anak lahir hingga selesai masa penyusuannya

dr. Ariani,

Parenting Islami

Iklan

IBUNDA PARA MUJAHID (Part 2)

Ibunda Urwah bin Zubair 

Siapakah Urwah bin Zubair ?

Nasabnya

            Nama lengkapnya adalah Urwah bin Zubair bin Awwam al-Quraisyi al- Asadi al-madani. Lahir 23 Hijriyah. Lahir dari  rahim seorang shahabiah bernama Asma’ binti abu bakar. Ayahnya bernama Zubair bin Awwam, Salah satu dari  sepuluh orang yang  mendapat kabar gembira dijamin masuk syurga.Kakeknya Abu bakar as-Shidiq sahabat Rasulullah sekaligus khalifah yang pertama.

Keutamaan pribadinya

Urwah adalah sosok tabi’in  yang amat dalam ilmunya, penyantun dan zuhud terhadap dunia. Beliau termasuk  salah satu dari tujuh fuqaha Madinah yang menjadi penasehat pribadi Umar bin Abdul Aziz tatkaka menjabat sebagai gubernur Madinah. Urwah bin Zubair  termasuk salah seorang  hafizh dan faqih. Ia menghafal hadist dari ayahnya. Ia amat  rajin shaum, bahkan tatkala ajal menjemputnya ia dalam keadaan shaum. Ia mengkhatamkan seperempat al-Qur’an setiap harinnya. Ia selalu bangun malam dan tak pernah meninggalkannya kecuali sekali saja, yaitu malam ketika kakinya diamputasi.

            Atas takdir Allah kakinya terserang kanker kulit. Penyakit itu menjalar dari kaki sampai betis. Sehingga sedikit demi sedikit kakinya mulai membusuk. Para tabib kewalahan, mereka khawatir penyakitnya akan menjalar ke seluruh tubuhnya, sehingga memutuskan mengamputasi kakinya. Mereka menawarkan kepadanya agar mau meminum khamar supaya tidak kesakitan ketika ampurasi dilakukan. Namun apa jawabnya :

”Tak pantas rasanya  aku menenggak barang haram sambil mengharap kesembuhan dari Allah.”

”Kalau begitu, kami akan memberimu obat bius,” kata para tabib 

”Aku tak ingin salah satu anggota anggota badanku diambil  tanpa terasa sedikitpun, aku justru berharap pahala yang besar dari rasa sakit sedikitpun, aku justru berharap pahala yang besar dari rasa sakit itu, ” tukas Urwah.

            Dalam riwarat lain disebutkan bahwa Urwah akhirnya berkata pada tabib ”Jika memang tak ada cara lain, maka baiklah, aku akan  shalat, dan silahkan tuan-tuan mengamputasi kakiku ketika itu!” jawabnya dengan penuh keyakinan.

            Akhirnya proses amputasi pun dilakukan. Mereka memotong kakinya pada bagian lutut, sedangkan Urwah diam dan tak merintih sedikitpun ketika itu. Ia benar-benar tersibukkan dengan shalatnya.

            Cobaan   tak berhenti sampai di sini. Bahkan diriwayatkan bahwa pada malam kakinya diamputasi itu, salah satu anak kesayanggannya yang bernama Muhammad wafat karena jatuh terpeleset dari atap rumah. Beliau justru memanjatkan pujian kepada Allah SWT, ”Segala puji bagi bagi-Mu, ya Allah, mereka adalah tujuh bersaudara yang satu diantaranya telah Kau ambil, namun Engkau masih menyisakan enam bagiku.  Sebelumnya aku juga memiliki empat anggota badan, lalu Kau ambil satu daripadanya, dan Kau sisakan yang tiga bagiku. Meski engkau telah mengambilnya, namun Engkau jualah pemberinya, dan meski Engkau mengujiku, namun engkau jualah yang selama ini memberiku kesehatan. Alangkah tabahnya beliau.

Siapapakah ibunya?

             Beliau adalah  Asma binti Abubakar ra.

Putera Pemilk dua ikat pinggang

            Ketika itu Abu Bakar sedang berkemas mempersiapkan segalanya untuk hijrah bersama kekasihnya, Rasulullah SAW. Rasulullah dengan menyamar datang ke rumahnya, menyampaikan berita bahwa perintah hijrah telah datang dan meminta Abu bakar untuk menemaninya. Maka segeralah keluarga Abu bakar menyiapkan segala keperluan mereka. Mereka siapkan bekal dalam sebuah kantong, namun tak punya  tali untuk mengikatnya. maka Asma’ membelah ikat pinggangnya menjadi dua. Sehelai ia pakai, dan satunya untuk mengikat kantong yang akan digendongnya. maka sejak itulah ia disebut Dzatun Nithaqain ( pemilik dua ikat pinggang).

            Kemudian ayahnya  berangkat bersma Rasulullah ke Gua Tsur. Mereka bermalam di sana selama  tiga malam, selama itu pula Asma bolak-balik melintasi gurun pasir untuk mengantarkan bekal bagi mereka. Padahal saat itu dia dalam keadaan hamil!

            Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Asma’ adalah orang yang ke delapan belas yang masuk Islam di Mekkah, Ia hijrah ke Madinah dalam keadaan hamil sembilan bulan. setibanya di madinah Ia menjadi muhajir pertama yang  melahirkan anaknya di madinah, Abdullah bin Zubair. 

Ketabahan Asma’

            Ketika  Rasulullah  ayahnya hendak pergi berhijrah, abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak meninggalkan sepeserpun untuk anak-anaknya.. Lalu datanglah kakeknya  yang sudah buta dan menanyakan harta yang ditinggalkan untuk cucu-cucunya. Lau asma, mengambil beberapa batu dan ia simpan di tempat ayahnya biasa menyimpan uang, setelah itu ia tutupi dengan kain dan dipegangnya tangan sang kakek dan diletakkan di atas kain tadi. ”Inilah  yang ayah tinggalkan untuk kami, katanya. Sang kakekpun merasa tenang.  

            Zubair menikahi  asma dalam keadaan tidak memiliki harta apapun kecuali seekor kuda. Asma lah yang mengurusnya,  memberi makanan , mengairi pohon kurma, mencari air dan mengadon roti. Bahkan dia sering membawa kurma sendiri dengan mengusung di atas kepala, padahal jarak kerbun kurma ke rumahnya sekitar 2 kilometer.

Keberanian Asma’

            Ketika masih belia , Asma pernah diancam oleh Abu Jahal untuk memberitahukan tempat persembunyian ayahnya dan Rasulullah, namun beliau bersikukuh bungkam, dan akhinya  ditampar berkali-kali   hingga anting-antingnya terjatuh.

Beliau menyertai pasukan muslimin dalam  perang Yarmuk dan berperang sebagaiman layaknya pejuang.   Tatkala banyak pencuri menyusup kota madinah di masa pemerintahan Sa’d bin ash beliau mengambil sebilah kelewang yang beliau letakkan di sikunya untuk menghadapi para pencuri

Dia juga mendorong anaknya untuk menghadapi tentara Hajjaj yang mengepung kota Mekah, dikala usianya sudah menjelang 100 tahun. 

Kedermawanan Asma’ 

            Fathimah binti Mundzir mengatakan, ”Pernah suatu ketika Asma menderita sakit, maka ia memerdekakan semua budak yang dimilikinya.

            Muhammad bin Munkadir menceritakan  bahwa ”Asma’ adalah wanita yang penyantun. Zubair bin Awwam sendiri mengatakan, ”Aku tidak pernah melihat wanita yang lebih penyantun  daripada Aisyah dan Asma’, namun sifat santun mereka sedikit berbeda. Kalau Aisyah , maka ia mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit, baru setelah terkumpul ia bagi-bagikan. Sdangkan asma, tak pernah menyimpan sesuatu untuk esok hari. Pesannya kepada putra-putri dan sanak familinya : ”Berinfaklah kalian,  bersedekahlah, dan janganlah kalian menangguhkan cadangan,”

Dikaruniai umur yang panjang

            Asma merupakan wanita muhajirah yang terakhir kali wafat. Beliau wafat dalam usia 100 tahun dalamkeadaan sehat, tidak ada satupun gigi beliau yang telah tanggal, akalnya masih jernih dan belum pikun.

Referensi :

  1. Al-Istambuli, Mahmud Mahdi dan As-syalbi mustafa Abu Nasr. Wanita-wanita Sholihah dalam Cahaya Kenabian.Mitra Pustaka. Yogyakarta ; 2002
  2. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Mustafa Abu nash Asy-Syalabi. Wanita-wanita teladan di Masa Rasulullah. At-Tibyan. Solo
  3. Sufyan bin Fuad  Baswedan. Ibunda para Ulama. WAFA Press.Klaten ;2006

Resume Buku : Cara Nabi Mendidik Anak (part 1)

Resume Buku

Cara Nabi Mendidik Anak

(Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli)

karya Ir. Muhammad Ibnu Abdul hafidh suwaid

Saya begitu tertarik untuk membuat resume buku ini, karena subhanallah buku ini sangat istimewa; komprehensif, mencakup semua aspek yang diperlukan anak; ilmiah, karena berdasarkan dalil-dalil yang nyata, dan aplikatif, karena disertai contoh-contoh nyata dari kehidupan shalafus shalih. Sayang sekali jika orang tua dan kalangan pendidik melewatkannya. Tentu saja akan lebih afdhol jika Anda membacanya langsung. Tetapi buat yang belum sempat, penting sekali menyimak resumenya terlebih dahulu. So, selamat menikmati…..

BAGIAN I Persiapan Menjadi Orang Tua dan Pendidik yang Sukses

Bab I : Pengantar Umum Untuk Orang Tua

“Anak adalah amanah Allah kepada orang tua,” tutur Al-Ghazali dalam Ihyanya. Hatinya masih suci bagaikan tambang asli yang masih bersih dari segala corak dan warna. Ia siap dibentuk untuk dijadikan apa saja tergantung keinginan pembentuknya. Jika dibiasakan dan dibina untuk menjadi baik maka ia akan menjadi baik. Kedua orang tua, para guru dan pendidiknya pun akan menuai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, bila dibiasakan terhadap keburukan dan diabaikan pembinaannya laksana binatang ternak, maka buruklah jadinya dan ia pun akan merugi . Orang tua dan para pendidikpun akan menganggung dosanya.

Rasulullah SAW bersabda : “Setiap anak yang baru dilahirkan itu lahir dengan membawa fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikan Yahudi, Majusi atau Nasrani.”

Rasulullah SAW telah meletakkan kaidah dasar yang intinya bahwa seorang anak akan tumbuh dewasa sesuai dengan agama orang tuanya.

Tanggung Jawab Pendidikan

Rasulullah SAW membebankan tanggung jawab pendidikan anak itu sepenuhnya di pundak orang tua. Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda :

“Masing-masing kalian adalah pemimpin. Masing-masing akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin yang akan dimintai petanggungjawabannya terhadap kepemimpinanannya, seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya, begitu pula pelayan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya . Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. “ (Muttafaq ‘Alaih)

Allah SWT berfirman : “Wahai Orang-oarang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (yang) bahan bakarnya adalah manusia dan batu; dijaga oleh malaikat yang keras dan kasar, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan.” (Q. S. At-tahrim:6)

Berusaha menikah dengan wanita shalihah berjiwa pendidik

Faktor penentu terhadap keberhasilan pendidikan anak adalah adanya seorang ibu shalihah yang memahami peran dan tugasnya, serta mampu menjalankannya dengan sempurna. Inilah pilar utama dalam pendidikan anak.

Sebaik-baik pertimbangan menikahi wanita adalah karena keberagamaan, keshalihan, ketakwaan dan kepatuhannya kepada Allah.

“Rasulullah SAW bersabda : “Pilihlah umtuk (meletakkan) benih (keturunanmu) pada tempat yang baik (shalihah).! (dari Aisyah diriwayatkan oleh Daruquthni).

Suami juga harus memperhatikan pengetahuan yang dimiliki isterinya agar mengatur rumah dan mendidik anak dengan baik.

Rasulullah SAW memuji wanita-wanita Quraisy karena sifat mereka yang penyayang terhadap anak-anak mereka dan perhatian terhadap suami mereka, “Sebaik-baik wanita penunggang onta adalah wanita shalihah dari kaum Quraisy. Paling sayang terhadap anak-anak mereka dan paling perhatian terhadap suami mereka.

(dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Bukhari)

Pahala memberi Nafkah Kepada Isteri dan Anak-anak

Sabda Rsulullah SAW : “Sedinar yang diberikan di jalan Allah, atau untuk membebaskan budak, atau untuk dishadaqahkan kepada orang miskin dan atau nafkah keluarga, pahalanya lebih besar yang diberika sebagai nafkah keluarga” (HR. muslim dari Abu Hurairah)

Abu Hurairah bertanya : “Ya Rsulullah, shadaqoh apakah yangpaling utam ?”. Rasulullah menjawab : ”Jerih payahnya orang miskin dan mendahulukan (pemberian nafkah) kepada orang yang menjadi tanggunganmu” (HR. Ahmad, sesuai syariat muslim dan termasuk hadist shahih) .

“Makanan yang kamu berikan untuk dirimu sendiri adalah shadaqah bagimu, makanan yang kamu berikan kepada anak, isteri dan pembantumu juga shadaqah bagimu.” (HR. Ahmad dengan sanad baik)

“Barangsiapa mati lantaran bekerja untuk mencari harta halal maka mati dalam keadaan diampuni dosannya.” (HR. Ibnu Sakir dari Anas)

Tujuan pernikahan Islami

  • Memperbanyak Jumlah Umat Islam dan menggembirakan Rasulullah SAW
  • Manjaga kesucian diri dan taqarrub kepada Allah
  • Melahirkan generasi muslim
  • Manjaga kelagsungan keturunan manusia

Cara nabi mengatasi kemandulan

Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi dan berkata :

“Ya Rasulullah, saya belumpunya anak sama sekali.”

”Kenapa kamu tidak memperbanyak istigfar dan bershadaqah?” Sabda Nabi orang itu melakukannya, akhirnya ia mendapat enam anak.

”maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Q.S. Nuh :10-12)

“Barang siapa yang memperbanyak istigfar, Allah akan menguraikan kekusutan hatinya dan melapanngkan segala kesempitan dada serta memberikan rizki tanpa diduga-duga (HR. Ahmad dan Hakim dari Ibnu Abbas.

Sifat-sifat pendidik sukses:

  • Penyabar dan tidak emosional
  • Lamah lembut dan menghindari kekerasan
  • Hatiya penuh rasa kasih sayang
  • Memilih yang termudah dari dua perkara selama tidak berdosa
  • Fleksibel
  • Bersikap moderat dan seimbang
  • Ada senjang waktu dalam memberi nasihat

Kabar Gembira untuk orang tua

“Apabila manusia mati, terputuslah amalnya kecuali dari 3 perkara :

Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yag mendoakan untuk oran tuanya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Rasulullah SAW juga menerangkan bahwa setelah meninggal dunia, derajat si mayit masih bisa diangkat. Si mayit merasa terkejut dan berkata : “Ya Allah apakah ini?” Maka akan dijawab, “Itu (karena) anakmu selalu memintakan ampun untukmu

(HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Anak-anak adalah hiasan dan ujian dalam kehidupan dunia

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran :14)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Al-Kahfi:46

Pertarungan Syaitan dan Manusia memperebutkan keturunannya

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka[861].”

(QS. Al-Isra’64)

[861]. Maksud ayat ini ialah Allah memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya. Tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman.

Keshalihan orang tua dan pengaruhnya terhadap anak-anak

”Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur : 21)

[1426]. Maksudnya: anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah derajatnya sebagai derajat bapak- bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka dalam surga.

Bahkan malaikat pun turut mendoakan seluruh keluarga yang shalih

”Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Mukmin :8)

Ancaman bagi orang yang tidak mau mengakui anak atau orang tuanya sendiri

“Barang siapa yang tidak mengakui anaknya karena hendak mempermalukannya di dunia, Allah Tabaraka wa Ta’ala akan mempermalukannnya pada hari kiamat di hadapan banyak saksi mata, (setimpal dengan perbuatanya) qishas dengan qishas.” (HR. Ahmad dan Thabrani dari Ibnu Umar).

“Sesungguhnya ada hamba-hamba Allah yang nanti pada hari kiamat tidak akan diajak bicara, tidak dibersihkan (dari kesalah mereka) dan tidak pula dipandang oleh-Nya.”

“Siapakah mereka itu, ya Rasulullah” tanya seorang sahabat. “Ialah anak yang tidak mau mengakui orang tuanya dan membenci keduanya, dan juga orang tua yanng tidak mau mengakui anaknya (HR. Ahmad dan Thabrani dari Muadz bin Anas)

[umina_fatih, https://parentingislami.wordpress.com%5D

bersambung…

IBUNDA PARA MUJAHID (Part 1)

Banyak orang yang terkagum-kagum dengan kekuatan hafalan Anas bin Malik, keshalihan Hasan al-Bashri, tentang kejeniusan asy-syafi’i,tentang keadilan Umar bin abdul Aziz, dan masih banyak lagi tokoh yang spektakuler. Namun hanya sedikit yang mengenal para bidadari dunia yang sangat berperan besar menghantarkan mereka menjadi orang-orang besar. Pepatah mengatakan, di balik orang yang mulia, pasti ada wanita yang mulia. Artikel ini akan mengulas ibunda para mujahid, yang berperan sangat besar bagi kesuksesan mereka

Ibunda anas bin Malik

Siapakah yang tidak mengenal Anas bin Malik ? Dia adalah pembantu setia Rasulullah SAW, asisten sekaligus sahabat dekat beliau. Anas adalah satu sari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist dan telah banyak ’meluluskan’ ulama hebat dalam sejarah, sebut saja : Hasan al-Bashri , Ibnu sirin, Umar bin Abdul Aziz, dan lain-lain.

Anas adalah sahabat yang beruntung karena do’a Rasullullah SAW. Beliau berdo’a : ” Ya Allah perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya”. Berkat do’a tersebut beliau dikaruniai usia yang panjang, mencapai 103 tahun. Anak keturunanya mencapai ratusan orang. Tentang kekayaannya, diriwayatkan bahwa Anas memiliki sebuah kebun yang menghasilkan buah-buahan dua kali dalam setahun, padahal kebun lain hanya sekali. Disamping itu kebun kebunnya juga menebarkan aroma kesturi yang semerbak.

Di belakangnya Ada Ummu sulaim, ibunya.

Di balik kecerdaran Anas ada Ummu Sulaim, sang ibunda yang mewarnai kehidupannya.Dalam Siyarnya, adz-Dzahabi meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas RA : ”Suatu ketika Rasulullah SAW berkunjung ke rumahku. Ibu berkata : ”Ya, Rasulullah, aku memiliki hadiah khusus bagimu.”

”Apa itu?” tanya Nabi. ”Orang yang siap membantumu, Anas,” jawab sang ibu

Seketika itulah Rasulullah SAW memanjatkan do’a-do’a untukku, hingga tak tersisa satupun dari kebaikan dunia dan akhirat melainkan beliau do’akan bagiku. ”Ya Allah, karuniailah ia harta dan anak keturunan, serta berkahilah keduanya baginya, kata Rasulullah SAW dalam do’anya. Saat itu Anas masih berusia 8 tahun. Dia menyerahkan buah hatinya tercinta sebagai tanda kecintaannya terhadap kekasih Allah. Katanya : ” Ya rasulullah, tak tersisa seorang Anshar pun kecuali datang dengan hadiah istimewa. Namun aku tak mampu memberimu hadiah kecuali puteraku ini, maka ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja Anda inginkan ”.

Ummu sulaim termasuk wanita yang cemerlang akalnya,penyabar dan pemberani.Ketiga sifat inilah yang menurun pada Anas dan dan mewarnai karakternya.

Kecerdasan Ummu Sulaim

Suami pertamanya adalah Malik bin Nadhar, ayah Anas. Ketika dakwah Islam terdengar oleh Ummu sulaim, segeralah ia dan kaummya menyatakan keIslamannya. Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan anshar. Ummu Sulaim menawarkan Islam kepada suaminya yang ketika itu masih musyrik. Namun suaminya menolaknya dan meninggalkannya. Malik akhirnya pergi ke Syam dan meninggal di sana.

Setelah suaminya meninggal dunia, Abu Thalhah yang waktu itu masih dalam keadaan musyrik meminangnya. namun Ummu Sulaim menolak pinangannya tersebut sampai abu Thalhah mau masuk Islam. Anas mengisahkan cerita ini dari ibunya.

”Sungguh tidak pantas seorang musyrik menikahiku. Tidakkah engkau tahu , hai Abu Thalhah, bahwa berhala-berhala sesembahanmu dipahat oleh budak dari suku anu, ” sindir Ummu Sulaim.”Jika kau sulut dengan apipun ,ia akan terbakar,” lanjutnya lagi. Dalam riwayat lain dikatakan ”Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku seorang muslimah sehingga tidak halal untukku menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu. Padahal Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya di kalangan anshar, dan menawarkan emas dan perak untuk dijadikan mahar pernikahan mereka. Namun Ummu Sulaim adalalah daiyah yang lebih memilih keimanan daripada kekayaan duniawi.

Kata-kata Ummu Sulaim tadi sangat membekas di hatinya. Tak lama kemudian, Abu Thalhah menyatakan keIslamannya. Maka berlangsunglah pernikahan mereka berdua dan Ummu Sulaim tak meminta mahar apapun selain keislaman Abu Thalhah.

Ketabahan Ummu Sulaim

Ummu Sulaim dan Abu Thalhah dikaruniai 2 orang anak. anak pertama bernama Abu Umair, namun ia dipanggil Allah ketika masih anak-anak.Anas bercerita :” Suatu ketika Abu ’Umair sakit parah, tatkala adzan Isya berkumandang, seperti biasanya Abu Thalhah berangkat ke mesjid. Dalam perjalanan ke mesjid, Abu Umair dipanggil oleh Allah. Dengan cepat Ummu Sulaim mendandani anaknya, kemudian membaringkannya di tempat tidur. ia berpesan kepada Anas agar tidak memberitahu Abu Thalhah tentang kematian anak kesayangannya. Maka Ia pun segera menghapus air matanya, menyiapkan makan malam untuk suaminya dan berhias secantik mungkin. Sepulang dari mesjid, Abu Thalhah bertanya : Apa yang dilakukan oleh anakku?” Beliau menjawab, ”Dia dalam keadaan tenang.”Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat dan sedang beristirahat. Lalu Abu Thalhah menyantap hidangan yang telah tersedia, melihat isterinya yang sudah berhias, terbitlah birahinya, hingga iapun menggauli isterinya. Di akhir malam, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya : ”Bagaimana menurutmu keluarga si Fulan, mereka meminjam sesuatu dari orang lain tetapi ketika diminta mereka tidak mau mengembalikannya, merasa keberatan atas penarikan pinjaman itu.”Mereka telah berlaku tidak adil,” kata Abu Thalhah.”Ketahuilah, sesungguhnya puteramu adalah pinjaman dari Allah dan kini Allah telah mengambilnya kembali.”kata Ummu Sulaim lirih.

Abu thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata denngan marah, ”Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?

Beliau ulang-ulang kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) lalu bertahmid kepada Allah hingga berangsur-angsur jiwanya menhjadi tenang.

Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasulullah SAW dan mengabarkan kepada Rasulullah SAW tentang apa yang terjadi, lalu Rasulullah bersabda :

”Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”

Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Do’a Rasulullah kepada kepada Abu Thalhah ternyata tak sekedar menjadikannya punya anak. Akan tetapi Abdullah kemudian tumbuh menjadi anak yang shalih yang dikaruniai tujuh orang keturunan yang shalih-shalih pula. Menurut penuturan salah seorang perawi yang benama Ababah, aku melihat dia memiliki tujuh anak yang semuanya hafal Al-Qur’an.

Kemurahan hati Ummu Sulaim

Diantara keutamaan Ummu sulaim ini adalah Allah menurunkan ayat tentang kemurahatian dia dan suaminya. Abu Hurairah berkata : ”Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan berkata : ”Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar.” Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu isterinya teantang makanan di rumahnya, namun beliau menjawab, ”Demi Allah yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada isteri yang lain, namun semuaya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.

Maka berdirilah salah seorang Anshar yang bernama Abu Thalhah seraya berkata : ”Saya, ya Rasulullah.” maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian bertanya kepada isterinya, ”Apakah kamu memiliki makanan?”.Isterinya menjawab, ”Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak.” Abu Thalhah berkata : ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka . Nanti apabila tamu saya masuk maka saya akan perlihatkan bahwa saya ikut makan, maka apabila makanan sudah berada di tangan, maka berdirilah dan matikan lampu.” Hal ini dilakukan oleh Ummu Sulaim. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua suami isteri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW bersabda : ”Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian.” Di akhir hadist disebutkan, ”maka turunlah ayat : ”Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri merek sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr : 9).


Keberanian Ummu Sulaim

Anas menceritakan bahwa suatu ketika Abu Thalhah berpapasan dengan Ummu Sulaim ketika perang Hunain. ia melihat bahwa di tangannya ada sebilah pisau, maka Abu Thalhah segera melaporkan hal ini kepada Rasulullah. ”Ya Rasulullah, pisau ini sengaja kusiapkan untuk merobek perut orang musyrik yang berani mendekatiku,” jawab Ummu Sulaim. Menurut adz-dzahabi, Ummu Sulaim juga ikut terjun dalam perang Uhud bersama Rasulullah. Ketika itu ia juga kedapatan membawa sebilah pisau.


Balasannya Jannah

Tidak sekedar keturunan yang membanggakan, yang menjadi cahaya mata, rahmat bagi umat, namun beliau juga sudah dijanjikan menjadi penghuni jannah.Beliau bersabda : ” Aku masuk Jannah, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, ”Siapa itu ?”. Mereka berkata : ”Dia adalah Rumaisha binti Malhan ibu dari Anas bin Malik.

[umina_fatih]

Referensi :

1.Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Mustafa Abu nash Asy-Syalabi. Wanita-wanita teladan di Masa Rasulullah. At-Tibyan. Solo

2. Sufyan bin Fuad Baswedan. Ibunda para Ulama. WAFA Press.Klaten ;2006.