Pra Nikah : Membeli Syurga (part 2 – tamat)

I Membeli Syurga

Semua aktivitas adalah perjuangan dan jihad. Aku membrain washing benakku bahwa pernikahan adalah ladang jihad, tak sekedar angan-angan keindahan meski itu janjiNya. Maka segala perbekalan yang harus disiapkan adalah perbekalan seorang mujahid. Perbekalan menuju perang Badr. Ya, satu perbekalan yang harus terus disemai dan diperjuangankan…, yaitu keimanan. Bukankah, Allah telah membuktikan berapa banyak orang yang sedikit dapat mengalahkan yang banyak dengan bekal keimanan dan kestiqohan. Maka modal awal adalah dengan senantiasa memperbaharui keimanan dan ketaqwaan yang ada dalam diri kita. Karena cita-cita kita adalah mendapatkan kebaikan, maka yang harus kita persiapkan adalah selaksa kebaikan dalam diri kita.

Baca lebih lanjut

Pra Nikah : Membeli Syurga

MEMBELI SURGA

Hari ini aku kembali dalam sebuah perenungan panjang. Muhasabah dan perhentian sejenak. Saat aku mulai mencari sebuah inspirasi dari sebuah perjuangan. Saat aku kembali bertanya-tanya tentang amal dan keikhlasan. Dan saat aku mulai mengerti akan hakikat jihad amal yang tak sekedar jihad kata-kata.

Entah berapa banyak tanya yang kerap dilontarkan orang-orang terdekatku, sahabat-sahabatku, adik-adikku, teman seperjuangan, maupun orang-orang yang sekedar mengenalku selintas dalam kehidupannya. Tentang pernikahan. Tentang menyempurnakan bulan sabitku menjadi bulan purnama. Tentang sebuah ikatan…. Subhanallah.
Berbagai argumen dan motivator menjadi bumbu dalam setiap percakapan yang ada denganku untuk menyegerakan sebuah kebaikan. Hingga ide-ide konyol, kalau tak mau disebut nekad. Masya Allah…, hingga seperti itukah??

Baca lebih lanjut

Kisah Afifah II: Pangeran dari Negeri Dongeng (part 2 – tamat)

KEMANA HARUS DICARI

Afifah termenung, entahlah rasanya ada yang salah dengan hal ini. Entah berapa kali biodata yang masuk untuk binaannya maupun proses-proses yang dibantunya membuatnya mengelus dada. Request-request yang ada kadang membuat hatinya pilu.Rindu kembali pada asolah da’wah, rindu sahabat-sahabatnya terdahulu, yang menikah karena ketsiqohan dan kepentingan da’wah. Disatu lini da’wah yang kuat sekalipun, disebuah laboratorium da’wah yang menghasilkan para aktivis kini terkuak suatu hal yang patut dicermati. Saat para aktivis disibukkan dengan urusan ini, take in pasangan, memilih sendiri dengan menjalankan berbagai manuver , biodata bertebaran entah lewat jalur apa, virus merah jambu, hubungan tanpa status, hingga kelonggaran yang diberikan terkadang oleh para pembinanya sendiri. Sementara luka da’wah kian menganga di mana-mana. Wahai sahabatku, sebenarnya apa yang dicari….hendak kemana kaki ini melangkah….

Fifah, dari segi syar’i tidak masalah ko berbagai ikhtiar yang mereka lakukan. Jangan terlalu ekstrim dan idealis. Itu cuma ada di buku dan negeri dongeng. ( Tapi kan ada sistem yang mengatur kita, fifah tetap keukeuh ) Ayolah fah wake up, jangan terus bermimpi…jaman sudah berubah. Kita tak lagi seperti dulu. Mereka terkadang memberikan banyak kriteria, dan disisi lain juga banyak ikhwan yang tidak siap menikah meski tidak ada alasan yang membuat mereka menunda pernikahannya. Semakin sedikit yang siap dengan resiko menikah dini. Sudahlah fah…

Fifah memonyongkan mulutnya, cemberut, beberapa hari ini dia uring-uringan. Ia sangat menyadari bahwa tidak mudah bertahan dalam idealisme. Melewati jalur syar’i yang telah ada. Mentsiqohkan seorang mujahid pada RabbNya melalui mekanisme dan cara terbaik yang telah difasilitasi oleh da’wah. Namun jika kebanyakan para aktivis mulai meninggalkan sistem ini maka siapakah yang akan menempuhnya? Saat ketsiqohan menjadi suatu harga mahal atas pilihan. Fifah menerawang, ia tahu saat menuliskan ini mungkin akan banyak pro dan kontra. Atau bahkan akan ada yang berkata, fifah buktikan saja, lagi-lagi tentang menikah. Namun fifah tahu ia sedang memperjuangankan yang benar, mencoba memahamkan sesuatu yang asing pada sahabat-sahabatnya, meski usia yang mungkin terlalu jauh untuk dapat memahami. Fiffah ingin berbagi tentang kehangatan visi da’wah dan pernikahan, kelak semoga ini menjadi bekal bagi kita semua.
Baca lebih lanjut

Kisah Afifah II : Pangeran dari Negeri Dongeng

REALITA ITU
Kriteria :
– Berwajah cantik dan berkulit putih
– Profesi tertentu ( ex :Dokter, perawat, de el el )
– Usia 2 tahun atau 3 tahun dibawah saya
– Suku sunda/ Jawa

Afifah mengerenyit, keningnya berlipat-lipat, hatinya berdegup kencang. Dibolak-baliknya berkali-kali kertas dihadapannya. Mencari-cari sesuatu yang tidak juga ditemukannya. Ga salah? Yang Fifah tahu ikhwan ini adalah ikhwan aktivis, namun tak satupun kriteria da’wah dan semangat da’wah yang ia temukan dalam biodata itu. Air matanya tiba-tiba mengalir, ada luka disana. Saat ikhwan aktivis hanya punya kriteria ece-ece untuk menikah. Cantik dan berkulit putih, lagi-lagi kriteria standar yang begitu sering Afifah temukan. Memang kalau kulitnya hitam dan tidak cantik dosa ya ? ( Fifah, jangan sinis gitu atuh !!!! ) Sahabat, kecantikan dan kulit yang putih itu hanyalah jasad yang pasti akan pudar, seiring usianya. Ini bukan kriteria ukhrawi. Ini adalah sesuatu yang sangat sementara, bila kelak istri sahabat tak lagi cantik dan kulitnya kian mengkerut karena usia, apakah sahabat akan meninggalkannya dan mencari penggantinya seorang akhwat muda yang cantik dan berkulit putih ??? Jika jasadi sudah menjadi kriteria utama yang antum tempatkan di posisi utama, ini menjadi hal yang sangat berat untuk memberikan ketenangan dalam hati para akhwat. Belum lagi profesi-profesi pilihan, dengan berbagai alasan. Bukankah profesi utama kita da’i? Nahnu duat qobla kuli sa’i. Jika kriteria mendasar adalah hal ini, satu saat nanti akan sulit untuk kembali pada cita-cita awal. Kenapa sahabat menikah ???

IKHWAN JUGA MANUSIA

( Afifah…..ikhwan juga kan manusia ). Aduh siapa sih yang dari tadi ngebelain terus, Afifah masih mencak-mencak. Iya, ikhwan juga manusia biasa, yang punya banyak kecenderungan. Kulit putih, mata indah, hidung mancung, leher jenjang, tubuh langsing….cukup-cukup…afifah protes pada suara itu. Wajar ko fah, ikhwan ingin punya istri yang cantik, pintar, aktivis…Afifah termenung, seperti inikah kualitas ikhwan akhir jaman ?? Maka siapakah yang bertanggung jawab, yang mau memilih ikhwan akhwat aktivis yang tidak cakep dan tidak cantik meski ia telah menyerahkan dirinya bagi dien ini. Suara itu kembali berujar, jangan khawatir fifah, akhwat-akhwat itu akan mendapatkan ikhwan yang sholeh, demikian pula sebaliknya. Seperti Ibnu Abbas, yang meskipun tampan rupanya ia berkenan menikahi seorang shahabiyah yang tidak cantik. Atau seperti Zaid bin Haritsah yang menikahi ummu Aiman yang usianya sangat jauh lebih tua hanya karena kesholihan Ummu Aiman, yang kemudian melahirkan pemimpin perang termuda Usamah bin Zaid. Afifah masih termenung, ya…ikhwan juga manusia. Semoga yang meniatkan untuk mendapatkan pasangan hidup hanya karena jasadinya, semoga itu saja yang didapatkannya ( Iffah….jangan mendoakan yang tidak baik ).
Tiba-tiba, afifah menjadi sangat penasaran…jika ikhwan-ikwan senantiasa mengharapkan akhwat-akhwat yang cantik, memang setampan apa mereka hingga sulit menerima akhwat yang kurang cantik ??? Seperti nabi Yusufkah ? Setampan….hehe…siapa ya ??? ( soalnya cakep menurut afifah suka beda sama orang kebanyakan…menurut dia semua orang sholeh itu cakep…fah, cakep ama sholeh itu beda tau ). Sudahkah mereka bercermin dari diri sendiri ?? ( Iffah cukup…!)

bersambung…

AzSya / dr. Anita Asmara  https://parentingislami.wordpress.com

My True Love

Tanpa kita sadari kita hidup dalam dunia yang miskin cinta hakiki. Cinta menjadi sesuatu yang terlalu sederhana hingga hanya terukur materi dan kehormatan. Cinta tak lagi suci, terlebih terhadap sesama. Namun sungguh, ada cinta yang luar biasa, bagaikan mutiara dari dasar lautan yang begitu bercahaya. Yang menanti setiap hati yang bening untuk mampu memilikinya.
“ ….adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah….” ( Q.S 2 : 165 )

Seorang ulama besar bernama Dr. Yusuf Qhardawi menuliskan dalam bukunya, saudaraku, cinta pada Alloh dan RasulNya ialah cinta yang seharusnya kita perjuangkan dalam hidup kita. Seharusnya kehidupan kita sebagai seorang muslim dijadikan sebagai kumpulan dari lembaran-lembaran ekspresi cinta yang tercatat pada setiap waktu yang kita habiskan.

Pengorbanan dalam cinta adalah sesuatu yang wajar. Harta dan jiwa raga serta segala macam pengorbanan menjadi konsekuensi yang logis bagi orang yang sudah gila cinta. Sahabat, karena itulah , besar dan kecilnya pengorbanan seorang mukmin juga menjadi tolak ukur seberapa besar cinta dan keimanan kepada Allah dan RasulNya.

Mungkin kita telah begitu sering mengkhianati cinta pada Allah dan Rasulullah, hingga pandangan manusia seringkali menjadi tujuan akhir kita. Sahabat, berapa banyak waktu kita yang terbuang untuk mencari cinta lain yang melenakan dan melalaikan ? Marilah bermuhasabah dan bercermin dari cinta-cinta para sahabat. Sungguh dalam satu qolbu tak ada dua cinta.

Sahabat, Rasulullah bersabda,” sesungguhnya seseorang itu bersama yang dicintainya.” Maka mengapa masih tergoda cinta lain. Yakinlah, ada cinta dalam hatimu. Cinta Ilahi. Siramilah dengan keimanan dan ketaqwaan agar cinta itu terus berkembang hingga masa perjumpaan dengan Sang Kekasih.

Jangan terlena apalagi tertipu, cinta semu yang tak abadi. Karena kau mutiara, raihlah cinta hakiki yang terang dan bercahaya, bukan cinta buta yang menyesatkan. Wallahualam bishawab.

( Azsya / dr. Anita Asmara  https://parentingislami.wordpress.com)

Kembali (part 1)

Aku terpekur lama, menata masa depan yang terpampang dihadapanku. Memberiku sekelumit pilihan sulit tentang serentetan masa depan yang juga diluar kuasaku. Sesuatu yang tak mampu kuraba, sekedar mampu kurancang meski ku tahu takkan pernah sempurna. Pilihan-pilihan berseliweran, seolah ingin menggoda komitmenku. Mempertanyakan banyak hal yang menjadi jawaban atas kejujuran dalam hatiku. Egoku, perasaanku, mimpiku, bahkan buaian angan-anganku semua bercampur menjadi adonan yang aku sulit mengatakan rasanya. Tarik menarik antara mimpi dan realita. Dan aku memang harus terpekur, untuk merenung, dan berhenti sejenak. Bukan untuk melamun atau hanya berhenti pada tataran angan hampa yang kosong dan semu.

Namun ini tak mudah, ini situasi kompleks yang dulu sering aku hindari. Terlalu banyak hal yang bermain, hingga lidah ini tak sanggup ungkapkan rasa karena daya kecapnya yang mulai memudar. Ada banyak pilihan, dan mungkin terlalu banyak pertimbangan, begitu analisis seorang ibu tentangku. Kini, aku tak bisa mungkir apalagi berlari dari semuanya. Saat ini aku harus berbalik arah, dan menghadapinya. Menjalaninya, dan berhenti berlari. Meski ada rasa takut, meski ada berbagai rasa yang terkorbankan, aku yakin aku bisa.

Ya, berbekal satu rasa tsiqohbillah. Kemana selama ini tsiqoh bersembunyi di relung hati. Hilangkah bersama kian menurunnya yaumiku, bersama lepasnya hafalanku, bersama turunnya imanku. Dan kini, aku seperti orang yang kebingungan karena kehilangan anak satu-satunya. Iman… Ya, manisnya iman. Kemana mutiara yang berada didasar hati itu…. kemana aku harus mencarinya??

Aku mulai menapaki perjalanan ruhani kebelakang. Sungguh, setan begitu ingin menggoda kita, menjerumuskan kita dalam kedzaliman. Memanfaatkan sisi-sisi terlemah kita. Dan begitu seringnya akhirnya kita tergoda, dan menodai kesucian hati yang selama ini kita jaga. Kata-kata yang tepat untuk diucapkan saat ini, ya Rasulullah maafkan kami (meminjam headline Tarbawi terbaru). Sebuah kerinduan menyeruak hangat dalam hatiku. Kerinduan akan perjumpaan dengan sang kekasih sejati. Kerinduan akan cinta yang benar dan hakiki. Dan aku tak mau lagi berpaling.

bersambung…

dr. Anita Asmara, https://parentingislami.wordpress.com

Kriteria oh Kriteria

Hafalan… juz, Shalat malam ../hari, Tilawah …juz/hari, pendidikan …, fisik …, suku …., tinggi badan …., karakter …., umur… Bla bla bla. Banyak banget dah. Ada kali ya orang yang kayak gini? Bejibun kriteria diungkapin, biar calon pasangan ideal sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi apa hasilnya? Susah banget deh nyarinya. Dan bisa jadi kalau kita minta bantuan orang lain, nanti salah persepsi. Dikiranya kriteria ini penting, padahal mah bisa dinego. Dikiranya kriteria itu gak penting, padahal itu harus terpenuhi,. Akhirnya calon yang ditawarkan tidak sesuai harapan. Lagi pula, ada orang yang bilang, kriteria yang diajukan menggambarkan kualitas pembinaan seseorang. Anda boleh setuju atau tidak, silakan-silakan saja. Ga ada salahnya kok.

Rupanya terjadi begitu besar kekhawatiran pada kalangan muda-mudi. Ketakutan luar biasa jika nanti pasangannya tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Sehingga dimunculkanlah semua kriteria ideal menurutnya. Padahal secara tidak langsung, itu menunjukkan secara jelas tentang ketidaksiapannya untuk menikah. Bener. Karena salah satu yang paling membuat sebuah keluarga bisa bertahan adalah kesiapan menerima pasangan apa adanya dan mengembangkan kemampuannya.

Tapi itu bagian dari ikhtiar untuk mencari pasangan terbaik? Yup, semuanya setuju tentang hal itu. No doubt about it. Tapi, tidak mesti menuliskan semuanya. Cukup yang penting-penting saja. Menuliskan sekian banyak kriteria bisa mempersulit diri. Karena semakin banyak kriteria, itu berarti semakin lama proses pencarian orang yang menenuhi kriteria tersebut. Sampe sekarang, belum ada googlenya. Jadi kagak bisa dalam hitungan detik hihi..

Lalu gimana dong? Ya… Menurut pandangan dan pengamalaman pribadi sih, tulis saja yang paling penting saja. Yang bisa dinego kagak usah ditulis. Yang kedua, kita mungkin bisa menuliskan apa yang kita inginkan, tapi belum itu yang kita butuhkan. Yang paling tahu apa yang kita butuhkan adalah Allah SWT. Kita mungkin bertemu dengan seorang ikhwan/akhwat dan mengatakan “He/She is the one”. But hey, wait a minute. Emang berapa jam kita ketemu dalam sehari sehingga kita bisa yakin dia adalah yang terbaik buat kita. Apakah kita tahu seperti apa dia tidur, akhlaknya terhadap orang tua, buku apa yang dia baca, musik apa yang dia dengar, seperti apa kamar tidurnya, dsb? Paling juga kita ketemu se jam sehari. Itu pun gak tiap hari. Iya kan? Jadi, kriteria tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya andalan. Rupanya perlu juga untuk bertanya kepada teman dekatnya, saudaranya atau orang-orang dekat lainnya. Dan yang lebih penting lagi, meminta pertimbangan pada Dzat yang melihat calon pasangan kita 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam semingga. Dialah yang Maha Tahu tentang dirinya dan Maha Tahu tentang kebutuhan kita, bukan hanya keinginan kita. Ya, sholat istikhoroh.

Jika kita hanya mengandalkan kriteria atau pandangan beberapa orang saja, dan ternyata setelah menikah, dia tidak sesuai dengan keinginan kita, keluarga yang sudah dibangun akan dengan sangat mudah goyah. Namun jika pertimbanganNya menyatakan “ya” maka jika suatu saat setelah menikah muncul kekecewaan, kita bisa berkata, “Dia pilihan Allah SWT. Dia yang terbaik menurut Allah untuk kita.Mau nyari ke mana lagi sih?”
Allahu’alam
[deFatih,  https://parentingislami.wordpress.com]